Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Fachrur Rozi: “Hidup-hidupilah Orang yang Menghidupkan Muhammadiyah”

19 April 2026, 14:48 WIB 2 menit baca
Ketua PDM Kota Semarang Dr. Fachrur Rozi menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Ahad Pagi PCM Gayamsari di Masjid Taqwa Al Mukarramah, Semarang, di depan spanduk besar bertuliskan "Pengajian Ahad Pagi" dan audiens yang duduk mendengarkan
Suasana Pengajian Ahad Pagi dan Halalbihalal PCM Gayamsari di Masjid Taqwa Al Mukarramah, Semarang, Ahad (19/4). Ketua PDM Kota Semarang Dr. Fachrur Rozi (tengah) menyampaikan tausiyah mengenai kesejahteraan guru dan pengabdian dalam Muhammadiyah.

GAYAMSARI, muhammadiyahsemarangkota.orgTuntutan untuk menjamin kesejahteraan guru dan para pejuang akar rumput disuarakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Dr. Fachrur Rozi, M.Ag. Pesan tegas ini ia sampaikan di hadapan jemaah dalam agenda Pengajian Ahad Pagi dan Halalbihalal Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gayamsari di Masjid Taqwa Al Mukarramah, Kota Semarang, Ahad (19/4/2026).

Organisasi wajib memperhatikan nasib para pendidik secara serius. Peningkatan kesejahteraan guru merupakan tanggung jawab kolektif seluruh anggota. Hal ini sangat krusial demi menjaga keberlangsungan pendidikan Muhammadiyah yang berkualitas.

Oleh karena itu, Fachrur Rozi menegaskan perlunya aksi nyata untuk mendukung kelangsungan hidup para pejuang akar rumput tersebut.

Ia merumuskan pesan ini ke dalam sebuah jargon yang sangat tegas. Menurutnya, merawat aset dan institusi saja tidak pernah cukup. Para tokoh penggerak masyarakat juga membutuhkan jaminan hidup yang layak agar fokus mengabdi.

“Hidup-hidupilah orang yang menghidupkan Muhammadiyah,” tandas Fachrur Rozi.

Integritas dan Pengabdian

Pesan tersebut ia sampaikan secara lugas untuk menggugah kesadaran bersama. Momen refleksi ini berlangsung khidmat dalam rangkaian silaturahmi pasca-Idulfitri.

Selain menyoroti isu kesejahteraan, ia juga membedah etika pengabdian secara mendalam. Organisasi keagamaan, menurutnya, bukanlah tempat bagi seseorang untuk memperkaya diri sendiri.

Setiap anggota harus memiliki batasan moral yang sangat jelas. Kejujuran selalu menjadi landasan utama dalam mengelola sebuah lembaga.

“Kalau memang itu hak kita, meskipun besar silakan diambil. Tapi kalau bukan, sekecil apapun jangan,” ujar dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo itu.

Lebih lanjut, ia kembali menguatkan prinsip dasar berorganisasi bagi para kader. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” tegasnya.

Pesan moral ini dinilai sangat relevan dengan tantangan integritas di era modern.

Sinergi Umat dan Infrastruktur

Nilai-nilai kepedulian sosial ini tidak hanya berhenti pada tataran teori belaka. Warga Muhammadiyah se-Gayamsari juga bergotong royong membenahi fasilitas publik secara mandiri. Mereka berfokus mencari solusi konkret atas permasalahan lingkungan di sekitar tempat ibadah.

Ketua PCM Gayamsari, Suratejo, mengungkapkan rencana strategis komunitasnya ke depan. Pihaknya akan segera melakukan revitalisasi infrastruktur masjid secara menyeluruh. Upaya fisik ini menyasar langsung area halaman belakang yang selama ini rawan tergenang banjir. Langkah tersebut bertujuan mengoptimalkan tingkat kenyamanan jamaah dalam beribadah.

Baca juga:

Menanti Keseimbangan Kesejahteraan dan Dedikasi Guru Muhammadiyah

Jalan Keluar Krisis Gaji Guru Muhammadiyah

Kontributor: Salsabila (MPI PCM Gayamsari)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: