Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Pikiran dan Perbuatan Tak Sejalan? Ini Cara Dzikir Atasi Disonansi Kognitif atau Penyakit Mental

11 Oktober 2026, 10:08 WIB • 4 menit baca
Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang Ustaz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. memaparkan cara dzikir atasi disonansi kognitif atau penyakit mental menuju kecerdasan spiritual saat pikiran dan perbuatan tak sejalan dalam Pengajian Ahad Pagi PRM Bringin di Mushola At Tauhid Aira, Komplek Permata Puri Ngaliyan, Semarang.
ATASI KONFLIK BATIN: Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Ustaz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., membedah cara dzikir mengatasi disonansi kognitif atau penyakit mental menuju kecerdasan spiritual ketika pikiran dan perbuatan tidak sejalan dalam Pengajian Ahad Pagi PRM Bringin di Mushola At Tauhid Aira, Komplek Permata Puri Ngaliyan, Jalan Aira Raya, Kota Semarang, Ahad (11/10/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Manusia modern kerap mengalami kegelisahan batin ketika nilai kebenaran dalam pikiran mereka tidak sejalan dengan perbuatan sehari-hari. Ilmu psikologi dan kajian keislaman memandang pertentangan antara pikiran, keyakinan, dan tindakan nyata ini sebagai fenomena disonansi kognitif atau penyakit mental yang menggerogoti ketenangan jiwa.

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Ustaz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., membedah cara dzikir mengatasi persoalan tersebut dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin. Kajian umum setiap Ahad pekan kedua ini berlangsung pada Ahad (11/10/2026) pagi, mulai pukul 07.30 hingga 09.30 WIB.

Puluhan jamaah memadati lokasi pengajian di Mushola At Tauhid Aira, Komplek Permata Puri Ngaliyan, Jalan Aira Raya, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Dalam majelis ilmu bertema “Melawan Kognitif Disonansi (Penyakit Mental) dengan Dzikir: Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual” itu, panitia turut menyuguhkan sarapan nasi kuning dan teh panas spesial untuk mempererat keakraban warga.

Di hadapan jamaah, Aang menjelaskan bahwa gangguan ketidaknyamanan psikologis ini sebenarnya sangat dekat dengan rutinitas manusia. Sayangnya, banyak orang belum mengenali istilah ilmiah dari pergolakan batin yang sering mereka alami sendiri.

“Kognitif disonansi itu adalah kondisi psikologi yang dialami oleh seseorang, yaitu kondisi ketidaknyamanan karena adanya pertentangan antara pikiran, keyakinan, dengan perilaku,” ujar Dr. Aang Kunaepi dalam ceramahnya.

Ia mencontohkan tindakan tidak jujur demi meraih keuntungan pribadi, kebiasaan menyantap gorengan dan makanan manis meski membahayakan kesehatan tubuh. Atau kebiasaan menunda pelaksanaan ibadah salat meskipun seseorang telah memahami keutamaan salat tepat waktu. Derasnya arus informasi digital, tekanan sosial, tuntutan pekerjaan, serta budaya pencitraan semakin memperparah konflik mental tersebut.

Bahaya Pembenaran Diri dan Terapi Muhasabah

Lebih lanjut, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang ini mengaitkan fenomena tersebut dengan teori psikologi sosial yang diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957. Saat menghadapi ketidaknyamanan batin, manusia secara naluriah akan berusaha mencari keselarasan di antara unsur-unsur pikirannya.

Akan tetapi, banyak individu justru memilih jalan pintas melalui rasionalisasi atau mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan yang keliru. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang menyontek atau pegawai yang menyalahgunakan wewenang kerap berdalih bahwa semua rekannya juga melakukan hal serupa.

“Persoalannya adalah ketika orang itu mengalami disonansi kognitif, yang dilakukan adalah pembenaran terhadap perilaku yang menyimpang itu,” tegas Aang.

Guna memutus rantai pembenaran diri itu, ajaran Islam menghadirkan solusi konkret melalui pengamalan manfaat dzikir dan muhasabah secara jujur. Mengacu pada Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28 dan Surah Al-Hasyr ayat 18, setiap Muslim wajib berani mengevaluasi niat serta perbuatannya sendiri.

Praktik dzikir akan menghentikan reaksi impulsif dan menenangkan hati yang bergejolak ketika seseorang menyadari kesalahannya. Setelah batin menjadi tenang, langkah muhasabah akan menuntun manusia untuk mengakui kekeliruan dan segera memperbaiki kerugian yang timbul.

Lima Langkah Dzikir Menuju Kecerdasan Spiritual

Selanjutnya, Aang mengingatkan jamaah bahwa pengamalan dzikir tidak boleh berhenti pada pengulangan lafaz Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, atau Astaghfirullah di lisan semata. Praktik mengingat Allah harus mampu menghadirkan kesadaran moral dan keberanian untuk meninggalkan perilaku buruk.

Sebagaimana teladan Rasulullah saw. dalam Hadis Riwayat Bukhari nomor 6307, istighfar harus menjadi titik awal pertobatan yang autentik. Di samping itu, karakter ulul albab dalam Surah Ali ‘Imran ayat 191 juga menuntut umat Islam agar selalu memadukan dzikir dengan pemikiran yang kritis dan reflektif.

“Dzikir tidak hanya sekadar untuk menenangkan hati yang gelisah, tapi dzikir itu adalah untuk menyelaraskan antara iman, pikiran, dan tindakan. Dari situlah maka akan muncul kecerdasan spiritual,” tutur Aang.

Oleh sebab itu, tolok ukur kecerdasan spiritual seseorang tidak cukup terlihat dari seberapa sering ia melafalkan dzikir dalam rutinitas ritual. Kedewasaan rohani itu harus tampak nyata melalui kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, kepedulian sosial, serta kesiapan memperbaiki kesalahan.

Sebagai panduan praktis mengatasi disonansi kognitif atau penyakit mental tersebut, Aang merumuskan lima latihan dzikir transformatif yang perlu jamaah bangun secara konsisten. Pertama, setiap Muslim perlu membiasakan dzikir pagi dan petang guna menjaga kesadaran spiritual di tengah rutinitas harian.

Kedua, seseorang harus bergegas mengucapkan istighfar saat menyadari kesalahan lalu memetakan perilaku yang wajib ia perbaiki. Ketiga, umat Islam perlu meluangkan waktu setiap malam untuk bermuhasabah menilai keselarasan antara niat, ucapan, dan perbuatan.

Keempat, setiap individu harus menyusun tindakan perbaikan nyata seperti membatasi waktu bermain gawai dan melatih jeda sebelum merespons kemarahan. Kelima, masyarakat wajib mengevaluasi perubahan akhlaknya secara berkala sembari tetap membuka diri terhadap ikhtiar praktis maupun bantuan profesional bila menghadapi gangguan psikologis berat.

Kontributor: Tim MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: