Kisah Mualaf Semarang: Haru Biru Bima Ucapkan Syahadat Usai Subuh di Masjid Candi Lama
CANDISARI, muhammadiyahsemarangkota.org – Fajar syahdu di Masjid Raya Candi Lama Senin (20/4/2026) pagi tadi menghadirkan sebuah peristiwa mengharukan. Usai salat Subuh di atas hamparan karpet biru, jemaah menyaksikan kisah mualaf Semarang yang sangat menginspirasi semangat dakwah. Pemuda asal Wonotingal bernama Bima melangkah mantap untuk masuk Islam.
Lantunan zikir berjemaah baru saja melirih memecah keheningan batin. Namun, Bima segera mengukir sejarah baru dalam perjalanan ruhaninya. Ia berjalan menembus saf jemaah dengan tatapan penuh keyakinan.
Meskipun demikian, Bima tak bisa menyembunyikan getar haru di dadanya.
Bima kemudian duduk bersila tepat di depan mihrab. Selanjutnya, ia berhadapan langsung dengan Ketua Takmir Masjid, KH Drs. Musman Tholib, M.Ag. Di sekeliling mereka, belasan jemaah memilih tetap duduk memutar. Mereka menahan napas sambil menyaksikan momen sakral tersebut.
Bimbingan Syahadat yang Khidmat
KH Musman Tholib, seorang ulama senior Muhammadiyah, membimbing Bima dengan lembut dan penuh keteladanan. Bima pun mulai merapal kalimat tauhid secara perlahan. Suaranya terdengar jernih memecah keheningan pagi. Walaupun begitu, tetes air mata menyertai setiap suku kata yang ia ucapkan.
“Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah.” Kalimat suci itu menggema pelan menembus relung hati jemaah. Akibatnya, resonansi kalimat tersebut langsung menguatkan ikatan persaudaraan yang hadir. Jamaah pun tak mampu menahan haru. Tampak mata mereka berkaca-kacamenyaksikan prosesi sakral ini.
Disaksikan Malaikat Subuh
Dalam keyakinan umat Muslim, waktu fajar adalah momen istimewa di mana para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul untuk menyaksikan amal ibadah hamba-Nya. Bagi Bima, subuh ini bukan sekadar pergantian waktu belaka. Sebaliknya, momen ini menandai lahirnya jiwa baru dalam naungan hidayah.
“Ini adalah momen luar biasa bagi ananda Bima. Ia memulai lembaran baru tepat di waktu Subuh,” ungkap seorang pengurus masjid.
Pengurus tersebut menatap Bima dengan pancaran syukur mendalam. Ia merasa bangga bisa menyambut saudara seimannya.
Begitu KH Musman Tholib memimpin doa penutup, ketegangan perlahan mencair. Kehangatan ukhuwah Islamiyah yang tulus langsung menggantikan suasana haru. Satu per satu jemaah yang hadir segera mendekat. Selanjutnya, mereka mengulurkan tangan dan merangkul Bima.
Matahari perlahan naik di ufuk timur Kota Semarang. Sinarnya mulai menembus kaca-kaca masjid untuk menyapa jemaah. Keputusan Bima memeluk agama tauhid ini sungguh memperkuat optimisme gerakan dakwah. Akhirnya, kisah mualaf Semarang ini membuktikan bahwa cahaya Allah selalu menerangi hati yang terbuka.
Baca juga:
Mualaf Learning Center, Pendampingan Holistik Mualaf Ala Muhammadiyah
Hapus Keraguan! Cara Cerdas Aisyiyah Semarang Perkuat Iman Puluhan Mualaf
Pengajian dan Pembagian Buku Gratis untuk Mualaf: Membantu Meningkatkan Pemahaman Islam