Meruntuhkan Ego dalam Halalbihalal Muhammadiyah Semarang Timur
SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org– Pagi itu, Ahad, 19 April 2026, lantai dua Masjid At Taqwa Nurul Huda di Jalan Rejomulyo tidak sekadar penuh oleh manusia. Ia memancarkan sebuah kesadaran. Bahwa di luar sana, relasi mudah retak hanya karena ego, dan silaturahmi sering kali kalah oleh gengsi. Maka, ketika warga Muhammadiyah Semarang Timur berkumpul dalam momen halalbihalal idulfitri 2026 ini, mereka merawat lebih dari sekadar tradisi, melainkan sesuatu yang nyaris hilang: keikhlasan untuk benar-benar saling memaafkan.
Udara masih menyimpan sisa sejuk, tetapi kehangatan sudah terasa sejak langkah pertama menapaki pelataran. Warga Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Semarang Timur, para guru SD Muhammadiyah 4, keluarga besar TK ABA 02, 10, 15, dan 28, hingga para takmir Masjid At Taqwa Nurul Huda dan Halmahera, datang membawa satu misi. Mereka merajut kembali silaturahmi yang sempat renggang, sebuah tugas yang terdengar sederhana namun kerap gagal manusia wujudkan.
Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kalimat itu pagi ini tidak hanya mewujud dalam ucapan, tetapi menuntut pembuktian nyata. Tak ada kursi kehormatan yang mencolok. Panitia tidak menciptakan jarak sosial. Yang ada hanyalah wajah-wajah yang mungkin pernah saling diam, kini kembali saling sapa. Tangan-tangan yang dulu kaku, kini terulur tanpa ragu. Pelukan mereka tidak sekadar basa-basi, tetapi mengandung pengakuan: ya, kita pernah salah.
Di tengah dunia yang makin bising oleh perdebatan dan sensitif oleh perbedaan, agenda halalbihalal justru hadir sebagai kritik diam. Mengingatkan bahwa manusia modern sering pandai berargumen, tetapi miskin kerendahan hati.
Ketua PCM Semarang Timur, Supriagung, tidak berpanjang kata. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak membawa retorika berapi-api, ia hanya mengucapkan terima kasih dan memohon maaf dengan jujur. Sebuah pengingat sederhana, bahwa kadang yang paling sulit bukanlah berbicara, melainkan mengakui. Dan di titik itu, sekat-sekat yang tak terlihat mulai runtuh.
Menjembatani Ukhuwah Melalui Empat Hal Sederhana
Ketika tausiah bermula, suasana berubah menjadi lebih dari sekadar khidmat, ia menjadi reflektif. Ustaz Dimas Ana Fadli tidak hanya berbicara tentang halalbihalal idulfitri sebagai tradisi, tetapi membongkarnya sebagai kebutuhan. Ia menyebutnya sebagai jembatan: dari hablumminallah yang umat asah selama Ramadan, menuju hablumminannas yang justru lebih sering gagal kita jaga setelahnya.
Di situlah letak ironi itu. Banyak orang khusyuk beribadah, tetapi masih mudah menyakiti sesama. Banyak pula yang rajin berdoa, tetapi enggan meminta maaf.
Ukhuwah, kata Ustaz Dimas, bukan konsep tunggal. Ia berlapis: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah. Tiga ikatan yang semestinya membuat manusia semakin dekat, bukan justru saling menjauh hanya karena perbedaan kecil yang sengaja membesar.
Namun, ia juga mengingatkan sesuatu yang lebih tajam: ukhuwah tidak pernah lahir dari slogan. Ia tumbuh dari hal-hal yang sering manusia remehkan. Hati yang bersih (qalbun naqiyyun) mencegah dengki. Lisan yang lurus (lisanun fasihun) pantang melukai. Tangan yang ringan (yadun sakhiyyun) enggan pelit memberi. Wajah yang ramah (wajhun malihun) senantiasa menebar senyum. Empat hal sederhana yang justru paling sering gagal manusia praktikkan.
Di antara nasihat itu, ruangan menjadi hening. Bukan karena bosan, tetapi karena setiap orang sedang berhadapan dengan dirinya sendiri. Mengingat kata-kata yang pernah terlepas tanpa pikir panjang. Merenungi sikap yang mungkin melukai orang lain tanpa sadar. Melihat jarak yang memanjang tanpa pernah benar-benar ingin kita jembatani. Dan mungkin, pagi itu, semua menemukan satu hal yang sama: meminta maaf ternyata tidak semudah mengucapkannya.
Ketika acara beranjak usai, tak ada yang benar-benar ingin buru-buru pulang. Orang-orang tetap tinggal, berbincang lebih lama, tertawa lebih lepas, dan duduk tanpa beban. Seolah mereka sadar, momen silaturahmi seperti ini tidak datang setiap hari.
Dari halaman Masjid At Taqwa Nurul Huda itu, satu pelajaran menampar sekaligus menenangkan. Bahwa kebersamaan tidak pernah lahir dari kesamaan, tetapi dari kesediaan untuk saling menerima.
Dan di tengah dunia yang semakin mudah terpecah, halalbihalal pagi itu hadir sebagai sebuah perlawanan kecil—melawan ego, menekan gengsi, dan menundukkan kebiasaan untuk selalu merasa benar sendiri.
Di situlah ukhuwah benar-benar mendapat ujian. Karena pada akhirnya, rumah itu bukan sekadar tempat. Ia adalah hati yang bersedia membuka pintu, meski pernah menanggung luka.