Penguatan Akidah di Era Globalisasi: Kunci Waras Muslim Modern
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Menghadapi gempuran budaya asing, Tri Wijayanto menekankan pentingnya Penguatan Akidah di Era Globalisasi sebagai benteng agar Muslim Modern tidak kehilangan jati diri. Pesan mendalam ini menggema dalam kajian rutin Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, pada Ahad (19/4/2026).
Tri Wijayanto, S.Sos., M.M., selaku Bendahara Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, memberikan paparan tajam mengenai krisis identitas saat ini. Ia mengingatkan bahwa akidah bukan sekadar teori hafalan. Sebaliknya, akidah merupakan jangkar hidup yang menjaga keteguhan manusia di tengah badai perubahan zaman yang ekstrem.
Waspadai Fenomena Muslim ‘Pinggiran’
Dalam tausiyahnya, Tri menyoroti realitas sosial tentang “akidah di tepian”. Ia menggambarkan fenomena miris saat seseorang berislam secara semangat hanya ketika hidup sedang lapang atau penuh materi.
“Banyak manusia menyembah Allah hanya di saat senang. Namun, begitu rugi atau sakit menimpa, semangat itu seketika layu,” ungkap Tri di hadapan puluhan jamaah. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa Penguatan Akidah di Era Globalisasi menuntut keteguhan hati yang konsisten. Artinya, iman seseorang tidak boleh naik-turun hanya karena kondisi duniawi saja.
Filter Tauhid Murni di Era Digital
Selain tantangan mental, Tri menyoroti gempuran informasi melalui gawai yang sering menjadi pintu masuk hoaks. Maka dari itu, ia mengajak jamaah menjaga Tauhid Murni di Era Digital sebagai filter utama dalam menyaring setiap konten di media sosial.
Sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan, setiap individu perlu memiliki kecerdasan dalam berliterasi. Tri menyayangkan jika masih ada masyarakat yang tampak saleh, namun tetap menggantungkan nasib pada ramalan internet. Menurutnya, Penguatan Akidah yang benar harus mampu membersihkan noda-noda syirik yang kini dikemas secara kekinian.
Menanam Adab dan Menuai Keberkahan
Sebagai penutup, Tri mengajak jamaah menjadikan tauhid sebagai landasan moral dan adab sehari-hari. Ia menceritakan kisah inspiratif tentang pentingnya syukur agar manusia tidak mudah stres saat kehilangan sedikit nikmat dunia. Ia percaya bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketenangan hati dalam menerima segala ketetapan Allah.
Melalui upaya Penguatan Akidah di Era Globalisasi yang konsisten, seorang Muslim akan tetap berdiri tegak. Meski dunia luar berubah cepat, kompas kebenaran di dalam hati akan tetap menuntun mereka menuju jalan yang lurus dan berkah.
Baca juga :
Serunya Kegiatan Ramadhan Anak, Membangun Akidah Sejak Dini Melalui Pesantren Kilat
Sentuhan Langit Rumah, Menggali Peran Ayah dalam Menjaga Akidah Buah Hati