Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Sentuhan Langit Rumah, Menggali Peran Ayah dalam Menjaga Akidah Buah Hati

30 Januari 2026, 18:34 WIB 3 menit baca
Foto siluet berwarna cokelat sepia yang menampilkan seorang pria dewasa (ayah) dan seorang anak perempuan kecil sedang berdiri di luar ruangan saat matahari terbenam. Sang ayah memegang tangan anaknya sambil berjalan bersama, menciptakan bayangan gelap yang kontras dengan latar belakang langit senja yang hangat.
Lebih dari sekadar pencari nafkah: Kehadiran emosional dan keteladanan seorang ayah merupakan kunci utama dalam membentuk karakter serta akidah anak sejak dini. Sebagaimana disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang, ayah adalah 'madrasah pertama' yang bertanggung jawab atas arah pendidikan ruhani keluarga (30/01/2026)

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang menganggap tugas utama kepala keluarga hanyalah menjamin dapur tetap mengepul. Buktinya, figur ayah memegang kunci strategis sebagai nakhoda utama karakter anak. Pesan menyentuh ini menggema dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang bersama Ustadz Burhan, Jumat (30/1/2026).

Sang khatib menegaskan bahwa peran ayah dalam mendidik anak mencakup tanggung jawab besar. Ayah harus membentuk fondasi keimanan yang kokoh sejak dini. Pasalnya, Islam memandang pria bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan pendidik utama. Oleh karena itu, setiap laki-laki perlu menyiapkan mental agar mampu menjadi “madrasah pertama”.

Teman Dialog dan Pilar Pendidikan Rohani

Selanjutnya, Ustadz Burhan membeberkan fakta unik dari isi Al-Qur’an. Ternyata, kitab suci merekam sekitar 14 dialog antara ayah dan anak.

Jumlah ini jauh lebih banyak daripada dialog anak dengan ibunya. Buktinya, komunikasi aktif ayah menjadi pintu masuk utama bagi nasihat agama.

Mengenai hal ini, narasumber memberikan penekanan khusus.

“Ayah adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran ini harus hadir sejak dini agar anak siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Ustadz Burhan tegas.

Selain itu, pendidik inspiratif ini meminta ayah memberikan pendidikan yang menyentuh aspek moral. Ayah wajib menanamkan tiga pilar: akidah, ibadah, dan akhlak. Alhasil, anak akan tumbuh menjadi pribadi beradab dengan keimanan yang kuat.

Kekuatan Teladan Nyata dan Keajaiban Doa

Menariknya, aksi nyata sang nakhoda jauh lebih ampuh daripada ribuan kata nasihat.

Ternyata, anak-anak merupakan peniru ulung yang menjiplak perilaku harian ayahnya. Oleh karena itu, penceramah ini menuntut setiap ayah memberikan contoh nyata dalam kejujuran dan tanggung jawab.

Terkait kekuatan spiritual, narasumber mengingatkan pentingnya komunikasi dengan Tuhan.

“Doa seorang ayah memiliki kekuatan besar di sisi Allah. Doa yang tulus akan menjadi penjaga dan penuntun anak dalam menjalani kehidupannya,” tambah narasumber tersebut.

Dampaknya, anak akan lebih mudah menyerap nilai Islam jika melihat teladan langsung. Sebab, kehadiran emosional ayah memberikan rasa aman dan pegangan hidup yang stabil.

Menjemput Masa Depan Melalui Kehadiran Ayah

Kemudian, ajakan memperkuat kehadiran ayah di rumah menjadi penutup yang reflektif. Sejatinya, keberhasilan generasi beriman sangat bergantung pada keterlibatan spiritual sang ayah.

Sejauh ini, kesadaran akan peran penting ini mulai tumbuh di tengah masyarakat.

Ustadz Burhan mengajak jamaah untuk berbenah diri.

“Mari kita sadari bahwa ayah tidak hanya bertugas mencari nafkah. Ayah bertanggung jawab atas arah pendidikan dan pembinaan akidah anak-anaknya,” tutup sang khatib.

Akhirnya, setiap doa ayah merupakan investasi masa depan bagi umat.

Ternyata, dengan menjadi sahabat bagi anak, seorang laki-laki sedang membangun peradaban dari rumahnya.

Semoga setiap ayah mendapatkan kekuatan untuk membimbing keluarga menuju rida Allah.

Kontributor: Halim Junior Masjid At Taqwa pdm kota semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: