Di sebuah pagi yang tampaknya biasa, kita mungkin membayangkan seorang perempuan muda duduk di dekat jendela, menatap dunia yang tak sepenuhnya terbuka baginya. Ia menulis: bukan sekadar kata-kata, melainkan kegelisahan, harapan, dan sebuah kemungkinan yang belum menemukan bentuknya. Nama perempuan itu adalah R.A. Kartini. Dan dari ruang sunyi itulah, sejarah pelan-pelan digeser.
Namun, sejarah jarang bergerak sendirian. Ia memerlukan gema, bahkan kadang institusi. Apa yang ditulis Kartini dalam surat-suratnya kemudian menemukan tubuhnya dalam gerakan, dalam organisasi, dalam ruang kelas yang lebih riuh daripada sunyi. Di titik inilah kita bertemu dengan Muhammadiyah, dan lebih khusus lagi, dengan denyut yang tak kalah penting: ‘Aisyiyah.
Ada sesuatu yang menarik ketika pemikiran individual bertemu dengan gerakan kolektif. Kartini tidak mendirikan organisasi besar, tidak menyusun kurikulum formal, tidak mengorganisasi ribuan perempuan dalam satu wadah. Ia menulis.
Akan tetapi, tulisan itu seperti benih. Dan Muhammadiyah, dengan segala perangkatnya, adalah tanah yang membuat benih itu tumbuh. Kita bisa menyebut ini sebagai kebetulan sejarah. Akan tetapi, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai kesinambungan gagasan.
Dalam dunia Kartini, pendidikan bukan sekadar soal membaca dan menulis. Ia adalah jalan keluar dari kungkungan, baik yang tampak maupun yang tak kasatmata. Kartini melihat perempuan bukan sebagai objek pasif dalam struktur sosial, melainkan sebagai subjek yang memiliki kehendak, kecerdasan, dan hak untuk berkembang. Dalam surat-suratnya, ada semacam desakan halus namun tegas: perempuan harus diberi ruang untuk berpikir.
Desakan ini, bertahun-tahun kemudian, menemukan bentuknya dalam gerakan Muhammadiyah. Didirikan oleh Ahmad Dahlan, organisasi ini membawa semangat pembaruan Islam yang tidak hanya menyentuh ranah teologi, tetapi juga sosial, termasuk pendidikan perempuan. Di sini, Islam tidak dipahami sebagai tradisi yang membatasi, melainkan sebagai sumber nilai yang membebaskan.
Dan di antara ruang-ruang yang dibuka oleh Muhammadiyah, muncul sosok perempuan yang sering disebut sebagai “Kartini Muhammadiyah”: Siti Walidah. Julukan itu tentu bukan tanpa alasan. Siti Walidah tidak hanya menjadi pendamping Ahmad Dahlan dalam arti domestik, tetapi juga mitra dalam perjuangan. Ia mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan yang pada zamannya adalah sesuatu yang nyaris revolusioner. Perempuan berkumpul, belajar, berdiskusi, dan mengorganisasikan diri.
Ini bukan sekadar aktivitas sosial; ini adalah redefinisi peran perempuan dalam masyarakat. Jika Kartini adalah suara yang memecah sunyi, maka Siti Walidah adalah tangan yang menggerakkan.
Namun, ada pertanyaan yang mungkin layak diajukan: apakah benar Kartini dan Muhammadiyah berada dalam satu garis pemikiran yang sama? Bukankah Kartini sering dibaca dalam konteks sekuler, bahkan kolonial, sementara Muhammadiyah berakar pada Islam? Pertanyaan ini penting, karena di sinilah kita melihat bahwa kesamaan tidak selalu berarti identitas yang sama.
Kartini hidup dalam dunia yang dipengaruhi oleh pemikiran Eropa, oleh wacana modernitas yang datang bersama kolonialisme. Ia membaca buku-buku Barat, berdialog dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Akan tetapi, kegelisahannya tetap berakar pada realitas lokal: perempuan Jawa yang terkungkung adat.
Sementara itu, Muhammadiyah lahir dari upaya untuk memurnikan dan memodernisasi Islam. Ia bukan sekadar organisasi sosial, tetapi juga gerakan intelektual yang mencoba menjawab tantangan zaman dengan kembali pada sumber ajaran Islam.
Namun, di antara perbedaan itu, ada satu titik temu: keyakinan bahwa perempuan harus dididik, diberdayakan, dan diberi ruang untuk berperan aktif dalam masyarakat. Di sinilah istilah “Islam berkemajuan” menjadi penting.
Dalam kerangka Muhammadiyah, kesetaraan bukanlah konsep asing yang diimpor dari Barat, melainkan sesuatu yang inheren dalam ajaran Islam. Perempuan dimuliakan, bukan karena kompromi dengan modernitas, tetapi karena itu adalah bagian dari nilai dasar agama.
Dengan kata lain, apa yang diperjuangkan Kartini melalui literasi, diperkuat oleh Muhammadiyah melalui legitimasi teologis dan implementasi sosial.
Akan tetapi, sejarah tidak pernah statis. Apa yang dulu diperjuangkan dengan susah payah, kini sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Perempuan bersekolah, bekerja, bahkan memimpin.
Namun, justru di sinilah letak tantangannya: ketika sesuatu menjadi biasa, kita cenderung melupakan perjuangan yang melahirkannya. Kartini menulis dalam keterbatasan. Siti Walidah bergerak dalam resistensi sosial. Muhammadiyah membangun institusi dalam situasi yang tidak selalu mendukung. Semua itu bukanlah proses yang mulus.
Dan hari ini, ketika kita berbicara tentang pemberdayaan perempuan, kita sering terjebak dalam jargon. Kata-kata seperti “kesetaraan”, “inklusi”, dan empowerment menjadi semacam mantra yang diulang tanpa refleksi. Padahal, jika kita kembali pada Kartini, ada sesuatu yang lebih mendasar: kejujuran dalam melihat ketidakadilan. Dan jika kita melihat Muhammadiyah, ada keberanian untuk mengubahnya melalui tindakan nyata.
Di ruang-ruang pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, semangat itu masih terasa. Sekolah, madrasah, hingga universitas menjadi tempat di mana perempuan tidak hanya belajar, tetapi juga membangun identitasnya. Mereka tidak lagi sekadar objek pendidikan, tetapi subjek yang aktif.
Namun, dunia juga berubah. Tantangan yang dihadapi perempuan hari ini tidak sama dengan yang dihadapi Kartini. Jika dulu persoalannya adalah akses terhadap pendidikan, kini persoalannya bisa lebih kompleks: bagaimana menghadapi dunia kerja yang kompetitif, bagaimana menyeimbangkan peran publik dan domestik, bagaimana menghadapi tekanan sosial yang datang dari berbagai arah.
Dalam konteks ini, semangat Kartini dan Muhammadiyah perlu dibaca ulang. Bukan untuk dijadikan monumen, tetapi untuk dijadikan metode. Kartini mengajarkan kita untuk berpikir kritis. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk bertindak kolektif. ‘Aisyiyah menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi motor perubahan, bukan sekadar pengikut.
Barangkali yang paling penting bukanlah siapa yang lebih dulu, atau siapa yang lebih besar kontribusinya. Sejarah bukan perlombaan. Ia adalah jaringan yang saling terhubung.
Kartini tanpa Muhammadiyah mungkin tetap menjadi simbol, tetapi tanpa implementasi yang luas. Muhammadiyah tanpa Kartini mungkin tetap menjadi gerakan, tetapi tanpa resonansi kultural yang kuat dalam isu perempuan. Di antara keduanya, ada jembatan yang dibangun oleh sosok seperti Siti Walidah, yang memahami bahwa gagasan perlu diterjemahkan menjadi tindakan, dan tindakan perlu didukung oleh gagasan.
Di luar sana, dunia terus bergerak. Perempuan Indonesia hari ini berada di berbagai posisi: sebagai guru, dokter, aktivis, politisi, ibu rumah tangga, dan banyak lagi. Mereka adalah hasil dari sejarah panjang yang tidak selalu terlihat.
Namun, setiap kali seorang perempuan mengambil keputusan untuk belajar, untuk bekerja, untuk bersuara, di sana ada jejak Kartini. Dan setiap kali ada institusi yang mendukungnya, yang memberinya ruang dan kesempatan, di sana ada semangat Muhammadiyah.
Barangkali, itulah yang dimaksud dengan kesinambungan. Bukan sekadar melanjutkan, tetapi juga memperbarui.
Mungkin, di suatu pagi yang lain, seorang perempuan muda kembali duduk di dekat jendela. Ia tidak lagi menulis dalam keterbatasan yang sama.
Dunia telah sedikit berubah. Akan tetapi, kegelisahan tetap ada, karena sejarah belum selesai. Ia menulis lagi. Kita pun tahu, di suatu tempat, tulisan itu sedang mencari jalannya untuk menjadi gerakan.
Baca juga:
Cahaya Perempuan Berkemajuan: Memaknai Hari Kartini dalam Bingkai Islam