Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Kartini dan Pergerakan Dakwah Kontemporer: Peran Strategis Perempuan dalam Membangun Peradaban Generasi Z

Dr.AM Jumai

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jateng, Akademisi Unimus

Kartini dan Pergerakan Dakwah Kontemporer: Peran Strategis Perempuan dalam Membangun Peradaban Generasi Z
Dr. AM Jumai, S.E., M.M. (Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jateng / Komisi Dakwah MUI Jateng) menyoroti pentingnya nilai moral generasi muda dalam menyambut Indonesia Emas pada momentum Hari Kesaktian Pancasila 2026. (Foto: Istimewa)

Jejak perjuangan Raden Ajeng Kartini di Jawa Tengah tidak sekadar menjadi simbol emansipasi perempuan. Ia juga fondasi bagi gerakan dakwah kontemporer yang menempatkan perempuan sebagai subjek peradaban. Lahir dalam tradisi feodal yang membatasi ruang gerak perempuan, Kartini justru menunjukkan kecerdasan intelektual dan spiritual yang melampaui zamannya.

Salah satu fase penting dalam perjalanan intelektualnya adalah interaksinya dengan KH Sholeh Darat, seorang ulama besar yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Dari sinilah Kartini memahami bahwa Islam tidak membelenggu perempuan. Islam justri memuliakannya melalui ilmu, yang kini menjadi fondasi penting bagi peran perempuan mendidik generasi Z.

Kepiawaian Kartini tampak dalam kemampuannya meramu nilai Barat dan Timur tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaan. Ia memperjuangkan pendidikan perempuan sebagai jalan menjaga martabat dan marwah kaum wanita.

Emansipasi dalam perspektif Kartini bukanlah pemberontakan terhadap kodrat, melainkan penguatan peran perempuan agar mampu berdiri sejajar dalam kontribusi sosial.

Hal ini menjadi cerminan nyata emansipasi perempuan dalam Islam yang sejalan dengan prinsip Al-Qur’an, bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra dalam kebaikan (Q.S. At-Taubah: 71).

Institusionalisasi Semangat Kartini

Dalam konteks kekinian, semangat Kartini terinstitusionalisasi melalui organisasi perempuan seperti Muslimat NU dan Aisyiyah. Kedua organisasi ini tidak hanya bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan, tetapi juga menjadi motor dakwah yang meneguhkan peran perempuan sebagai pendidik utama dalam keluarga. Mereka secara konsisten membangun kesadaran bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Dalil-dalil keislaman menguatkan posisi strategis ini. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (H.R. Bukhari dan Muslim). Seorang ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga yang menentukan arah pendidikan anak.

Dalam hadis lain disebutkan, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” (H.R. Ahmad). Hal ini menunjukkan kemuliaan sekaligus tanggung jawab besar perempuan dalam membentuk generasi unggul, yang sangat relevan dengan tantangan peran perempuan mendidik generasi Z saat ini.

Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. At-Tahrim: 6 yang memerintahkan umat menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ini menempatkan ibu sebagai garda terdepan dalam membangun akhlak generasi.

Dalam konteks generasi Z yang hidup di era digital, tantangan semakin kompleks: degradasi moral, krisis identitas, dan banjir informasi. Di sinilah peran ibu menjadi krusial sebagai filter nilai dan pembimbing spiritual.

Membangun peradaban generasi Z tidak cukup dengan pendekatan struktural, tetapi harus dimulai dari penguatan peran ibu sebagai agen dakwah kontemporer kultural. Ibu yang berilmu, berakhlak, dan melek teknologi akan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.

Dengan demikian, semangat Kartini menemukan relevansinya: perempuan bukan hanya objek emansipasi, melainkan subjek utama yang menjalankan peran perempuan mendidik generasi Z dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.

Baca juga:

Akar Persatuan NU dan Muhammadiyah: Menelusuri Jejak Intelektual KH Sholeh Darat

Saat Generasi Muda Perempuan Bersiap Mengisi Ruang Kekuasaan

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: