Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Akar Persatuan NU dan Muhammadiyah: Menelusuri Jejak Intelektual KH Sholeh Darat

Dr.AM Jumai

Wakil ketua PDM Kota Semarang, Akademisi Unimus

Akar Persatuan NU dan Muhammadiyah: Menelusuri Jejak Intelektual KH Sholeh Darat
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Sejarah dakwah Islam di Indonesia tidak muncul begitu saja dari ruang kosong. Narasi besar ini tumbuh melalui tradisi keilmuan panjang yang menghubungkan para ulama lintas generasi. Menariknya, di balik berdirinya dua organisasi Islam terbesar yakni NU dan Muhammadiyah, terdapat satu simpul keilmuan yang sering terlupakan.

Tokoh tersebut adalah KH Sholeh Darat al-Samarani. Melalui sosok inilah, kita bisa menemukan titik temu ideologis yang menyatukan gerakan peradaban bangsa.

KH Sholeh Darat (1820–1903) memang bukan seorang pendiri organisasi massa. Namun, ia merupakan pendidik peradaban yang membentuk etika keilmuan murid-muridnya.

Pada abad ke-19, saat kolonialisme Belanda menekan bangsa secara fisik dan mental, KH Sholeh Darat menggunakan pendidikan sebagai senjata. Ia sadar bahwa penjajahan telah mengasingkan umat dari ilmu agama. Oleh karena itu, ia mulai menulis kitab sebagai strategi dakwah yang membebaskan.

Titik Temu NU dan Muhammadiyah

Titik temu pertama ketiga tokoh ini adalah genealogi keilmuan yang sangat fundamental. Perlu kita catat bahwa KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari pernah menimba ilmu pada majelis yang sama di Semarang. Di bawah asuhan KH Sholeh Darat, lahir dua tokoh besar yang kemudian memimpin NU dan Muhammadiyah.

Fakta sejarah ini membuktikan bahwa perbedaan kedua ormas tersebut bukan berasal dari sumber ilmu yang berbeda. Sebaliknya, perbedaan itu muncul karena cara setiap murid merespons tantangan sosial di zamannya.

Titik temu kedua terletak pada orientasi dakwah yang mencerahkan dan membebaskan. Melalui karya monumentalnya, Tafsir Fayd al-Rahman, KH Sholeh Darat memilih menulis dalam bahasa Jawa beraksara Pegon.

Strategi ini sangat cerdas agar masyarakat awam bisa memahami Al-Qur’an secara langsung tanpa kendala bahasa. Spirit dakwah kultural inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya gerakan NU dan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan mengadopsi semangat ini melalui sistem pendidikan modern, sementara KH Hasyim Asy’ari menguatkan pesantren sebagai pusat ilmu umat.

Titik temu ketiga adalah keseimbangan antara aspek spiritual, hukum, dan etika sosial. KH Sholeh Darat menanamkan prinsip keberagamaan yang harmonis agar umat tidak menjadi kaku secara hukum maupun kering secara batin. Kerangka berpikir ini terlihat jelas dalam langkah-langkah NU dan Muhammadiyah dalam mengelola umat.

Muhammadiyah menerapkannya melalui aspek tajdid dan rasionalitas sosial, sedangkan NU konsisten menjaga tradisi mazhab dan kearifan lokal. Perbedaan metode ini bukan sebuah kontradiksi, melainkan kekayaan dari satu rahim intelektual yang sama.

Titik temu keempat adalah komitmen kebangsaan yang mengutamakan kemaslahatan masyarakat luas. Dakwah ketiga tokoh ini tidak pernah memisahkan nilai-nilai Islam dari realitas sosial yang dihadapi bangsa. Mereka menjadikan sektor pendidikan, kesehatan, dan amal sosial sebagai instrumen utama untuk membangun peradaban manusia.

Perkuat Persatuan Nasional

Hal ini membuktikan bahwa NU dan Muhammadiyah memposisikan Islam sebagai kekuatan moral untuk memperkuat persatuan nasional. Inilah alasan mengapa warisan KH Sholeh Darat kini menjadi milik bersama seluruh elemen bangsa.

Membaca kembali sosok KH Sholeh Darat sebagai titik temu NU dan Muhammadiyah bukan berarti menghapus perbedaan. Justru, langkah ini mempertegas akar persatuan kita di tengah keberagaman.

Di tengah tantangan polarisasi hari ini, warisan keilmuan ini sangat relevan untuk terus kita rawat. Kita perlu menjaga fondasi dakwah yang inklusif, berilmu, dan berkemajuan demi masa depan Indonesia yang lebih solid.

Baca juga:

Perbedaan NU dan Muhammadiyah: Rahasia Satu Kamar yang Menjaga Indonesia

Kiai Sholeh Darat, Guru yang Menginspirasi Lahirnya Muhammadiyah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: