Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Kiai Sholeh Darat, Guru yang Menginspirasi Lahirnya Muhammadiyah

Dr. H. AM. Jumai, SE., MM (

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimus, Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Kiai Sholeh Darat, Guru yang Menginspirasi Lahirnya Muhammadiyah
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., Alumni Pondok Pesantren Daarul Abroor, penulis opini peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Perjalanan dakwah Islam di Nusantara tidak pernah lahir dari ruang kosong. Setiap gerakan pembaruan berpijak pada tradisi keilmuan para ulama pendahulunya. Hubungan antara Kiai Sholeh Darat dari Semarang dan K.H. Ahmad Dahlan dari Yogyakarta menjadi mata rantai penting dalam sejarah pencerahan Islam Indonesia, menegaskan bahwa Islam harus hadir membawa manfaat nyata bagi kehidupan umat.

Kiai Sholeh Darat, ulama kharismatik asal Semarang pada abad ke-19, dikenal luas sebagai cendekiawan yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan kepedulian sosial. Beliau adalah guru dari banyak tokoh besar, termasuk K.H. Ahmad Dahlan muda (Muhammad Darwis). Dari sang guru inilah, Dahlan memperoleh pelajaran berharga tentang pentingnya memahami Al-Qur’an secara rasional dan kontekstual, bukan sekadar melafalkan tanpa penghayatan.

Langkah revolusioner Kiai Sholeh Darat dalam menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menjadi tonggak penting dakwah pencerahan. Ia ingin Islam dipahami masyarakat secara utuh, membumi, dan mudah diakses, menjadikan dakwah sebagai sarana pencerahan bagi semua lapisan. Gagasan ini kelak menginspirasi K.H. Ahmad Dahlan dalam merintis Muhammadiyah (1912), gerakan tajdid yang menekankan rasionalitas, pendidikan, dan amal sosial.

Muhammadiyah tidak lahir dari kevakuman ide, tetapi merupakan kelanjutan dari tradisi keilmuan dan dakwah yang telah diletakkan oleh para ulama sebelumnya, termasuk Kiai Sholeh Darat. Sholeh Darat menanamkan benih rasionalitas dan pembumian ajaran Islam, yang kemudian ditumbuhkan oleh Ahmad Dahlan dalam bentuk organisasi modern yang bergerak melalui pendidikan, kesehatan, dan amal sosial.

Dalam konteks Kota Semarang, semangat keilmuan Kiai Sholeh Darat dan semangat tajdid K.H. Ahmad Dahlan berpadu nyata dalam berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Sekolah, rumah sakit, dan lembaga ekonomi Muhammadiyah di kota ini merupakan wujud konkret dakwah pencerahan yang menyejahterakan. Tantangannya kini adalah memastikan AUM beroperasi sesuai prinsip good governance dan regulasi, di samping nilai-nilai keislaman.

Dalam era digital dan pasar terbuka, strategi pemasaran produk AUM harus diiringi kesadaran hukum dan etika dakwah. Semangat kedua tokoh ini mengajarkan bahwa aktivitas ekonomi umat harus berlandaskan kejujuran, keadilan, dan kebermanfaatan. Dakwah ekonomi bukan sekadar mencari laba, melainkan memperkuat kemandirian dan martabat umat.

Perjuangan Kiai Sholeh Darat kini mendapat perhatian serius melalui pengusulan gelar Pahlawan Nasional oleh PCNU Kota Semarang bersama akademisi lintas kampus dan budayawan. Dukungan dari Pemerintah Kota Semarang dari berbagai periode kepemimpinan serta dukungan lintas ormas (Muhammadiyah, NU, LDII) memperkuat ikhtiar mulia ini.

Puncaknya, telah digelar Seminar Internasional di Hotel Patra Jasa Semarang yang menghadirkan ahli sejarah dari berbagai negara (Indonesia, Belanda, Malaysia, Singapura, dan Tiongkok). Acara gala dinner yang dihadiri tokoh lintas organisasi menjadi simbol persatuan umat dalam menghormati jasa ulama pencerah bangsa.

Semoga cita-cita menjadikan Kiai Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional segera terwujud. Melalui beliau, kita belajar bahwa dakwah adalah perjuangan ilmu, keberanian berpikir, dan pengabdian untuk kemaslahatan umat.

Dari Semarang hingga Yogyakarta, napas dakwah Kiai Sholeh Darat terus berhembus dalam gerakan Muhammadiyah, menjadikannya suluh penerang Islam yang berkemajuan dan mencerahkan semesta.

Baca juga:

Pahlawan Sejati Itu Setia Pada Darma

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: