Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 4 menit baca

Pahlawan Sejati Itu Setia Pada Darma

Prof. Dr. Ahwan Fanani

Pakar Budaya dan Kajian Islam UIN Walisongo Semarang

Pahlawan Sejati Itu Setia Pada Darma

Memperingati Hari Pahlawan 10 November, kita merenungkan kembali esensi sejati dari kepahlawanan. Jauh dari citra tanpa cela dan kesempurnaan, sosok pahlawan sejati itu sesungguhnya adalah mereka yang teguh memegang janji dan setia pada darma atau tugasnya, bahkan dalam situasi yang paling dilematis sekalipun.

Menengok kisah Karna dan Bima dalam Mahabharata, serta para pejuang di Perang Badar, kita menemukan benang merah kualitas yang membuat mereka dikenang: keberanian untuk berjuang tanpa peduli hasil akhir.

Kualitas Pahlawan Sejati: Dari Pandawa Hingga Islam

Syahdan, Karna, anak Kunti dan saudara Pandawa, adalah tokoh yang pemberani dan setia. Saat kecil ia dibuang oleh ibunya dan dipelihara oleh seorang kusir. Ia hidup dalam keluarga tidak terpandang, meskipun memiliki cita-cita tinggi.

Saat hendak ikut lomba memanah yang diadakan oleh Resi Durna di istana Hastina, ia ditolak karena bukan dari kalangan Ksatria. Doryudana, Pangeran dari Kurawa, meminta ayahnya, Raja Hastina, agar mengangkat Karna sebagai Raja Angga, sehingga bisa ikut berlomba.

Karna naik derajatnya, dipromosikan oleh Doryudana. Ia menjadi raja yang pemberani dan tahu berbalas budi. Sifat setia kawan Karna membuatnya bersiteguh untuk membela Kurawa dalam Perang Baratayuda.

Meskipun tahu Pandawa adalah saudara seibu dan pihak Kurawa menjadi pihak yang salah, Karna tetap teguh pada darma dan setia membela Kurawa. Dalam budaya Jawa, Karna tetap dianggap pahlawan, sehingga nama Karno dan Sukarno banyak dipakai.

Di sisi lain, Bima atau Werkudara adalah anak kedua dari lima bersaudara Pandawa. Ia sosok yang jujur, taat pada guru, dan membela saudara, meski sikapnya agak kasar.

Ia beberapa kali dipermainkan oleh gurunya, Durna, namun tidak patah semangat. Ia ditugasi mencari air Tirtapawitra ke tempat-tempat sulit dan berbahaya. Meski sudah diperingatkan oleh para saudaranya akan tipu daya Durna, tetapi ia memilih untuk menjalankan tugas dari Guru Durna sehingga menjadi Bimasuci.

Watak pembelaan dan setia itu menjadikannya sosok yang bengis dan kejam terhadap lawan-lawannya. Bima adalah sosok Pandawa yang paling banyak membunuh Kurawa, para sepupunya sendiri, dalam Perang Baratayuda.

Ia tidak ragu-ragu menghabisi Kurawa, termasuk Doryudana dan Dursasana, yang ia robek dadanya. Karena itulah, Gandari dan Destarasta, ibu dan ayah Kurawa, sangat tidak menyukai Bima dan menganggapnya kejam kepada para saudaranya sendiri. Namun, dalam budaya Jawa, Bima tetap dianggap sebagai pahlawan sejati yang tidak tercela dan namanya dihormati.

Integritas dan Keteguhan dalam Sejarah

Dalam Islam, pun para sahabat yang teguh pada keyakinan dan setia kepada Nabi Muhammad mendapat penghargaan tersendiri. Para pejuang yang ikut Perang Badar, Perang yang menentukan dalam Islam, mendapat penghargaan tersendiri dalam Al-Qur’an maupun oleh umat Islam.

Para Pejuang Badar adalah sosok-sosok yang bertahan dalam situasi tersulit dan menentukan dalam sejarah umat Islam. Saat ratusan orang pasukan Madinah tiba-tiba mundur dari medan perang saat menghadapi pasukan Quraisy Mekkah, mereka tetap bertahan bersama Nabi Muhammad, dalam menghadapi lawan yang jumlahnya lebih banyak.

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa kualitas pahlawan sejati itu ada pada kesetiaan pada darma, yaitu pada tugas. Para sosok di atas menghadapi situasi sulit, bahkan dilematis, tetapi mereka teguh dalam menjalankan darma.

Mereka bukan orang yang tanpa cela, bukan berarti orang yang tanpa catatan negatif. Tetapi, kesetiaan pada darma membuat mereka tegak dan yakin untuk menempuh jalan yang menjadi panggilan dan kewajibannya. Itulah kualitas kepahlawanan yang melekat pada mereka.

Tidak ada pahlawan yang berencana menjadi pahlawan. Tidak ada pahlawan yang bisa memprediksi mereka akan menang atau berhasil sehingga layak disebut pahlawan. Mereka berjuang dengan menghadapi lawan, tanpa tahu apakah ia akan berhasil atau kalah. Mereka dikenang karena jasa dan keteguhan pada darma.

Tidak ada pahlawan yang sempurna, namun kualitas dan jasa mereka dapat dikenali oleh generasi berikutnya. Kesetiaan pada tugas dan darma adalah kualitas terbesar para pahlawan sehingga mereka dipercaya oleh orang-orang yang ia bela.

Pahlawan itu kadang dibenci oleh lawannya, baik lawannya itu manusia ataupun sistem. Ia boleh jadi dipandang penjahat oleh lawannya, apalagi kalau ia kalah atau tujuannya tidak terwujud. Namun, kualitas pahlawan tidak akan hilang hanya karena apa yang ia perjuangkan gagal ataupun belum terwujud.

Baca juga:

Geger Gelar Pahlawan Nasional, Polemik Abadi Soeharto di Hari Pahlawan

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: