Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan luhurnya dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan.
Namun, bagi umat Islam, sosok pahlawan nasional ini bukan sekadar simbol emansipasi perempuan. Ia juga memancarkan cahaya pencerahan yang sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam, yakni penguasaan ilmu, keluhuran akhlak, dan semangat menjadi perempuan berkemajuan.
Pemikiran Kartini dan Spirit Pencerahan
Gagasan cerdas Kartini tentang pendidikan perempuan, kesetaraan, dan kemajuan memiliki irisan kuat dengan semangat tajdid (pembaruan). KH Ahmad Dahlan kemudian mengembangkan semangat yang sama melalui gerakan Muhammadiyah.
Kartini hidup dalam pusaran tradisi yang sangat membatasi ruang gerak perempuan pada masanya. Namun, tokoh emansipasi ini tidak pernah menyerah. Ia aktif menulis, berpikir kritis, dan mendorong perubahan besar melalui jalur pendidikan. Semangat pantang menyerah dalam memaknai hari Kartini ini selaras dengan ajaran Islam yang selalu memuliakan para pencari ilmu, baik laki-laki maupun perempuan.
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat suci ini secara tegas menyatakan bahwa ilmu pengetahuan menjadi tolok ukur kemuliaan manusia, bukan jenis kelaminnya.
Sejak awal peradabannya, Islam telah mengangkat derajat perempuan ke tempat yang mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ
“Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Dawud)
Hadits tersebut membuktikan kedudukan setara perempuan dalam hal kemuliaan dan tanggung jawab. Kartini memahami konsep ini secara intuitif. Ia meyakini perempuan wajib mendapatkan kesempatan luas untuk berkembang, belajar, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Hari Kartini dan Semangat Tajdid Muhammadiyah
Apa yang Kartini perjuangkan kemudian menemukan bentuk gerakan nyata dalam organisasi Muhammadiyah yang KH Ahmad Dahlan rintis. Muhammadiyah hadir membawa semangat utama kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, memajukan sektor pendidikan dan memberdayakan peran perempuan
Dalam konteks sejarah ini, lahirlah gerakan perempuan tangguh seperti ‘Aisyiyah yang tampil sebagai pelopor perempuan berkemajuan di Indonesia. Konsep perempuan berkemajuan bukan sebatas menjadi perempuan modern secara fisik, melainkan sosok perempuan yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki akhlak mulia dan mengambil peran aktif dalam menebarkan kebaikan
Allah ﷻ berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain; mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini menegaskan pentingnya kolaborasi laki-laki dan perempuan dalam membangun peradaban yang unggul.
Ilmu sebagai Jalan Kemajuan
Momen hari Kartini selalu mengingatkan kita bagaimana ia menjadikan pendidikan sebagai jalan utama pembebasan. Islam pun sangat menekankan urgensi ilmu pengetahuan. Rasulullah ﷺ bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Banyak riwayat lain juga memahamkan bahwa kewajiban ini mengikat laki-laki dan perempuan tanpa terkecuali. Muhammadiyah kemudian mewujudkan visi ini melalui pendirian sekolah, pesantren, dan berbagai amal usaha pendidikan lainnya.
Saat ini, tantangan perempuan terus berkembang, bukan lagi sekadar mencari akses pendidikan dasar. Mereka menghadapi krisis moral, hantaman arus globalisasi, hingga kompleksitas tantangan digital. Oleh karena itu, kita perlu menafsirkan ulang spirit Hari Kartini pada era kekinian: bukan sebatas menuntut kebebasan berekspresi, melainkan mengejar kemajuan yang berlandaskan fondasi iman yang kuat.
Menjadi Kartini Masa Kini
Menjadi Kartini masa kini berarti menjadikan ilmu pengetahuan sebagai cahaya penuntun hidup, menjaga keluhuran akhlak dalam setiap peran sosial, dan terus menyumbangkan kontribusi positif dalam medan dakwah maupun kehidupan bermasyarakat.
Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”. (QS. Al-Mujadalah : 11)
Pada akhirnya, hari Kartini bukan sekadar catatan sejarah masa lalu. Semangatnya terus hidup dan menginspirasi lahirnya perempuan yang mencintai ilmu, menjaga teguh iman, serta mendedikasikan diri bagi kemaslahatan umat.
Dalam rahim gerakan Muhammadiyah, nyala semangat itu terus berpendar, siap mewujudkan peradaban agung yang mencerahkan semesta. Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: