Ada kisah-kisah dalam sejarah yang bukan sekadar rentetan tanggal dan peristiwa, melainkan denyut nadi kemanusiaan yang membakar jiwa. Salah satunya mengukir sejarah abadi dalam catatan Penaklukan Kota Ammuriah pada tahun 223 Hijriah (837 Masehi)—sebuah lembaran emas tentang arti kehormatan, kepedulian, dan tanggung jawab seorang pemimpin atas jeritan rakyatnya.
Kisah bermula di sebuah pasar yang riuh. Seorang wanita muslimah keturunan Bani Hasyim tengah berbelanja dalam kesederhanaan. Tanpa disadari, kebiadaban merendahkan martabatnya; seorang lelaki Romawi dengan lancang mengaitkan bagian bawah pakaiannya ke sebuah paku.
Ketika ia bangkit, kehormatannya tersingkap seketika. Di tengah rasa malu dan keterpurukan itu, hatinya menjerit memanggil sosok yang diyakininya mampu membela harga diri umat.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia meneriakkan sebuah seruan yang mengguncang angkasa: “Waa Mu’tashimaah!” (Di mana engkau, wahai Mu’tashim! Tolonglah aku!)
Jeritan itu melintasi jarak, menembus dinding-dinding istana, hingga akhirnya sampai di telinga sang Khalifah, Al Mu’tashim Billah.
Dikisahkan, saat kabar itu berhembus ke hadapannya, Khalifah tengah memegang sebuah gelas. Seketika itu pula, mendengar jeritan tertindas dari seorang wanita yang menyebut namanya, gelas di genggamannya tak lagi bermakna.
Harga diri seorang muslimah telah diinjak-injak, dan baginya, itu adalah panggilan darurat yang tak boleh diabaikan. Tanpa ragu, beliau segera menggerakkan roda kekuasaannya. Tidak tanggung-tanggung, puluhan ribu pasukan dipersiapkan untuk menerjang benteng pertahanan Ammuriah—sebuah wilayah yang kini terletak di perbatasan Turki.
Gelombang pasukan yang merespons seruan Waa Mu’tashimaah tersebut diterjunkan Al Mu’tashim begitu luar biasa masifnya. Konon, dalam riwayat yang masyhur, barisan prajurit itu begitu panjang hingga tak terputus; terbentang dari gerbang istana khalifah di Baghdad hingga jauh ke tanah Ammuriah.
Dengan kesabaran dan tekad yang membaja, mereka mengepung benteng Ammuriah selama lima bulan lamanya. Hingga akhirnya, pada bulan Agustus, pasukan Islam menaklukkan kota tersebut dan meruntuhkan pertahanan musuh di bawah naungan keadilan Islam.
Pertempuran besar itu sukses membebaskan Ammuriah dari cengkeraman Romawi, menumbangkan tiga puluh ribu tentara musuh, dan menawan jumlah yang senada.
Namun, kemenangan megah itu bukanlah akhir dari cerita. Di balik megahnya panji-panji kemenangan, prioritas sang Khalifah tetaplah satu: wanita yang memanggil namanya.
Al Mu’tashim secara khusus mencari sosok yang telah meniupkan gelora perlawanan tersebut. Setelah menemukannya dan mengetahui kediamannya, sang Khalifah melangkah sendiri menuju rumah wanita itu. Dengan penuh kerendahan hati sekaligus keagungan seorang pemimpin, beliau berdiri di hadapannya dan berkata lembut, “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”
Mendengar kalimat itu, air mata sang wanita tumpah. Ia mengangguk penuh haru, menyaksikan bagaimana seorang pemimpin agung sudi mengetuk pintu rumahnya demi memastikan keadilannya tegak.
Tidak berhenti di situ, Al Mu’tashim memerdekakan wanita tersebut. Bahkan, sebagai bentuk pemulihan harkat dan martabat yang tuntas, sang Khalifah menyerahkan lelaki Romawi yang dahulu melecehkannya itu untuk menjadi pelayan di bawah kekuasaan sang wanita.
Sebuah kisah abadi tentang kehormatan yang dijaga. Jeritan Waa Mu’tashimaah yang dijawab dengan tuntas, Dan ketulusan pemimpin yang membuat sejarah senantiasa mengenangnya dengan penuh takjub.