Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Melawan “Penyakit” Cinta Dunia: 4 Rahasia Tersembunyi di Balik Ibadah Kurban

1 Mei 2026, 23:42 WIB 2 menit baca
Foto suasana khotbah Jumat di dalam masjid yang menunjukkan Ustadz Ananto Tri Prasetia, S.Pd., sedang berdiri di atas mimbar kayu berwarna cokelat tua yang memiliki ukiran matahari khas Muhammadiyah di bagian depannya. Beliau mengenakan baju koko putih dan peci hitam, berbicara di depan mikrofon. Di sebelah kiri mimbar, tergantung sebuah bingkai besar berisi kaligrafi berwarna emas dengan latar belakang hitam, serta sebuah Al-Qur'an yang terbuka di atas rehal besi. Di bagian depan mimbar, tampak barisan jemaah yang duduk khidmat, termasuk seorang pria mengenakan penutup kepala bermotif batik kotak-kotak.
Ustadz Ananto Tri Prasetia, S.Pd., saat menyampaikan khotbah Jumat di Masjid At-Taqwa Wates, Semarang, Jumat (1/5/2026). Beliau menekankan bahwa ibadah kurban merupakan sarana bagi umat Islam untuk menyembelih ego dan rasa kepemilikan berlebih terhadap materi, serta membuktikan bahwa ketakwaan dari dalam hati adalah nilai utama yang sampai kepada Allah SWT.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Di tengah kesibukan masyarakat mempersiapkan kebutuhan duniawi menjelang Iduladha, sebuah pesan mendalam menggema di Masjid At-Taqwa Wates pada Jumat (1/5/2026). Ibadah kurban ternyata bukan hanya tentang ritual penyembelihan hewan, melainkan sebuah “terapi” spiritual untuk menguji sejauh mana seorang hamba mampu melepaskan keterikatan pada hartanya demi ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta.

Ustadz Ananto Tri Prasetia, S.Pd., mengungkapkan bahwa kurban adalah perjalanan batin untuk merajut kembali kasih sayang antar sesama yang mungkin sempat renggang. Ia menekankan bahwa esensi dari ibadah ini adalah aplikasi rasa syukur yang nyata atas segala nikmat hidup dan kesehatan yang telah Tuhan berikan. Mengutip pandangan Abu Ja’far Ath-Thabari, Ustadz Ananto mengajak jemaah menjadikan kurban sebagai bentuk keikhlasan total atas segala kemuliaan yang diterima manusia.

“Jadikanlah seluruh salatmu dan kurban sembelihanmu itu ikhlas untuk Rabb-mu, sebagai bentuk syukur atas kemuliaan dan kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita semua,” tegas Ustadz Ananto Tri Prasetia mengutip pesan ulama klasik.

Meneladani Ibrahim: Seni Melepaskan Hal yang Dicintai

Rahasia besar kedua adalah menghidupkan kembali tradisi agung Nabi Ibrahim AS. Melalui ibadah kurban, umat Islam belajar melawan sifat cinta dunia yang berlebihan. Tradisi ini mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar adalah menyembelih ego pribadi. Ketaatan kepada Sang Pencipta harus mengalahkan rasa kepemilikan terhadap materi.

Selanjutnya, kurban memiliki dimensi sosial melalui pembagian daging kepada kaum fakir miskin. Langkah ini menjadi jembatan silaturahmi yang kuat antar tetangga. Al-Qur’an memerintahkan umat untuk memberi makan mereka yang membutuhkan sebagai wujud peduli. Kebahagiaan Iduladha pun akhirnya menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.

Ketulusan Hati: Yang Sampai Bukan Daging, Tapi Takwa

Poin paling krusial adalah nilai pengorbanan tidak bergantung pada fisik hewan kurbannya. Ustadz Ananto mengingatkan bahwa Tuhan tidak menerima darah atau daging hewan tersebut. Hanya ketulusan niat dan ketakwaan dari dalam hati yang akan sampai kepada-Nya. Rahasia ini menegaskan bahwa takwa adalah tolok ukur utama sebuah ibadah.

Khotbah Jumat yang syahdu ini berakhir dengan ajakan untuk berlomba dalam kebaikan. Harapan besarnya, setiap langkah menuju Iduladha memiliki makna yang mendalam. Semangat keikhlasan akan mengubah pengorbanan menjadi saksi abadi kualitas iman seseorang. Cinta hamba kepada Sang Khalik terbukti melalui kesediaan untuk berbagi.

“Bukan daging dan darah yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari dalam hati,” pungkas Ustadz Ananton jadi saksi abadi atas kualitas iman seseorang.

Kontributor: Gahthan Bazry (Tim Media Masjid)
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: