Saat negeri ini gegap gempita merayakan Hari Pendidikan Nasional, masyarakat justru sering melupakan tokoh yang membebaskan mereka. Pagi 2 Mei selalu datang dengan rutinitas yang sama setiap tahun. Sekolah mengadakan upacara, membacakan pidato, dan memaparkan sejarah Hardiknas secara berulang.
Publik selalu mengelu-elukan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Masyarakat menggaungkan nama tersebut dan memasangnya di berbagai spanduk. Pejabat mengucapkannya dalam pidato dan mengenangnya sebagai simbol perjuangan. Ia memang sangat layak menerima penghormatan besar itu.
Namun, satu nama penting justru kerap luput dari sorotan publik. Padahal, ia menorehkan jejak yang begitu nyata untuk masyarakat luas. Warisannya berdiri kokoh dan pengaruhnya menembus lebih dari satu abad.
Masyarakat jarang menyadari kehadiran tokoh pendidikan Indonesia ini. K.H. Ahmad Dahlan bekerja dalam diam untuk menyalakan cahaya. Ia menerangi bangsa ini di tengah gelapnya kebodohan yang sengaja terpelihara.
Pendobrak Kebodohan
Ia tidak sekadar mengajar sebagaimana tokoh pendidikan lainnya. Sebaliknya, catatan biografi Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa ia secara sadar memilih melawan. Penjajahan saat itu tidak hanya merampas tanah, tetapi juga merampas cara berpikir.
Oleh karena itu, Ahmad Dahlan menempuh jalan sunyi sekaligus berbahaya untuk mencerdaskan masyarakat. Ia berjalan dari satu ulama ke ulama lain tanpa lelah. Ia menyerap ilmu dengan rasa haus yang tak pernah padam. Ia membangun dirinya terlebih dahulu sebelum membangun bangsa.
Ketika kembali dari Tanah Suci, ia menolak menggunakan cara lama. Ia melihat pendidikan umat saat itu terbelah secara ekstrem. Pesantren hanya mengajarkan agama tanpa memberikan sentuhan ilmu dunia. Sementara itu, sekolah kolonial tampak canggih tetapi sangat kering iman.
Penjajah sengaja memisahkan dua dunia ini untuk memelihara kebodohan. Namun, Ahmad Dahlan menolak tunduk pada sekat pembatas tersebut. Ia kemudian mengambil langkah berani dengan menggabungkan kedua sistem itu.
Langkah ini tentu terasa seperti sebuah pemberontakan pada masanya. Ia mengajarkan Al-Qur’an berdampingan dengan ilmu bumi secara harmonis. Ia memadukan kajian hadis dengan aktivitas menggambar. Bahkan, Ia menghadirkan biola di ruang belajar sebagai simbol kemajuan ilmu tanpa batas.
Tetap Merangkak Walau Dianggap Menyimpang
Masyarakat memberikan reaksi keras berupa penolakan, cibiran, hingga kecurigaan. Banyak orang menganggap langkahnya telah menyimpang. Walaupun begitu, sang pendidik ini tetap melangkah maju dengan gagah berani.
Ia memulai kelasnya di teras rumah tanpa fasilitas mewah. Ia mendidik delapan murid pertama dengan penuh dedikasi dan kesabaran. Orang mungkin menganggap jumlah tersebut sebagai kegagalan telak. Tapi di situlah beliau diam-diam menulis sejarah pendidikan dengan keyakinan baja.
Enam bulan kemudian, jumlah murid tersebut terus bertambah banyak. Ia berhasil bukan karena berteriak paling keras. Ia membuktikan diri karena mampu bertahan paling lama.
Dari ruang kecil itu, embrio sekolah mulai lahir dan bertumbuh. Sekolah ini kelak berkembang menjadi jaringan besar bernama pendidikan Muhammadiyah. Teras sederhana itu menjelma menjadi ribuan lembaga pendidikan berkualitas. Ia berhasil mencerahkan jutaan anak bangsa hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Akar Menancap, Sayap Berkembang
Pemerintah Kolonial menganggap gerakan ini sebagai parasit yang membahayakan. Padahal, masyarakat tidak bisa membantah hasil nyatanya setelah lebih dari satu abad. Kini ribuan sekolah dan ratusan perguruan tinggi telah beroperasi penuh.
Puluhan ribu lulusan lahir setiap tahun dari institusi ini. Mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memegang teguh nilai agama. Model pendidikan ini tidak sekadar mencetak pekerja, tetapi berhasil membentuk manusia seutuhnya.
Hal yang lebih mengejutkan, sistem pendidikan itu sangat terbuka. Murid dengan perbedaan iman dan bangsa bisa duduk berdampingan. K.H. Ahmad Dahlan tidak menjadikan pendidikan sebagai alat yang eksklusif. Ia memanfaatkannya sebagai jalan pembebasan umat manusia.
Hari ini, kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang selalu kita kenang. Kita harus mulai memikirkan siapa yang telah kita lupakan. Sejarah tidak pernah hilang, tetapi hanya terkubur di balik narasi rutinan setiap tanggal 2 Mei.
Pendidikan yang kita nikmati saat ini merupakan hasil kerja keras mereka yang berani melawan arus. K.H. Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh utamanya. Fakta ini seharusnya membuat kita semua tersentak sadar. Seseorang yang masyarakat tolak pada zamannya justru memperjuangkan kemerdekaan berpikir kita.
Kini, lebih dari seabad telah berlalu sejak pergerakannya. Sosok pendobrak kebodohan ini masih menjadi bayang-bayang tokoh lain. Padahal, karya nyata beliau telah memberikan sumbangsih luar biasa.