Titik Kritis Madinah-Makkah, Jemaah Haji Wajib Tahu Larangan Ihram dan Niat Ihram Bersyarat
MADINAH, muhammadiyahsemarangkota.org– Peringatan penting muncul bagi jemaah haji yang akan bergerak dari Madinah menuju Makkah. Mereka menghadapi titik kritis selama enam jam perjalanan darat. Oleh karena itu, petugas membekali jemaah dengan lafal niat ihram bersyarat dan peringatan ketat mengenai larangan saat ihram.
Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 28 SOC, Ustadz Drs. H. Nurbini, MSI, menyampaikan arahan ini secara langsung. Ia mengumpulkan jemaah KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang khususnya penghuni Hotel Taiba Front di pelataran Masjid Nabawi. Tepatnya, pertemuan berlangsung dekat pintu 330 dan 331 pada Kamis (7/5/2026) pagi setelah salat Subuh.
Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang, Dr. Mafrukhi, turut memberikan arahan strategis kepada rombongan. Pembekalan ini mematangkan persiapan keberangkatan jemaah ke Makkah pada hari Ahad (10) mendatang.

Ustadz Nurbini memberikan penekanan khusus pada mitigasi risiko perjalanan. Sebagai langkah antisipasi, ia mengimbau seluruh jemaah membaca niat ihram bersyarat atau isytirat. Langkah ini sangat krusial bagi jemaah haji Semarang untuk mengamankan ibadah mereka.
“Untuk niat ihram kami menghimbau untuk niat ihram isytirat atau niat ihram bersyarat,” tegas Ustadz Nurbini kepada para jemaah. Ia menuntun jemaah membaca lafal: Allahumma mahillii haitsu habastanii. Artinya, “Ya Allah, tempat tahalulku adalah di mana aku terhalang”.
Niat ini sangat penting untuk berjaga-jaga jika jemaah jatuh sakit atau terhalang masuk Makkah, terang dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo ini.
Awas Batal! Jaga Ketat Larangan Saat Ihram
Selanjutnya, perjalanan bus dari Madinah menuju Makkah memakan waktu kurang lebih enam jam. Selama durasi tersebut, jemaah wajib menjaga larangan saat ihram secara ketat. Banyak jemaah sering melupakan hal-hal kecil saat bus berhenti di area istirahat (rest area).
Ustadz Nurbini mengingatkan jemaah agar sangat berhati-hati saat masuk ke toilet rest area. Jemaah pantang menggunakan sabun cuci tangan yang mengandung wewangian.
Selain itu, jemaah perempuan tidak boleh memperlihatkan rambut atau aurat saat membetulkan pakaian. Jemaah laki-laki juga dilarang keras memakai pakaian berjahit atau penutup kepala.
Bahkan, jemaah lansia dan kelompok risti (risiko tinggi) mendapat perhatian khusus. Jika jemaah risti tidak memungkinkan turun dari bus saat berada di miqat Bir Ali, Ketua Regu (Karu) atau Ketua Rombongan (Karom) akan memandu niat dari dalam kendaraan. Skema ini memastikan semua jemaah memenuhi syarat sah umrah wajib.
Lebih lanjut, pembekalan pagi ini merupakan kelanjutan dari rentetan program pemantapan ibadah. Sebelumnya, para jemaah sukses melewati dinamika fisik dan mental saat mengunjungi raudhah. Anda bisa membaca laporan lengkapnya di sini: “Menaklukkan Raudhah Masjid Nabawi 4 Kali, Antara Kemahiran Cara Daftar Raudhah Aplikasi Nusuk dan Ancaman Tumbang”
Persiapan yang matang memastikan jemaah siap melaksanakan rukun Islam kelima ini dengan sempurna. Oleh karena itu, kedisiplinan menjaga niat dan larangan ihram menjadi kunci utama kesuksesan ibadah di Tanah Suci.
Pantau terus laporan terkini jemaah haji Muhammadiyah, Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org