Bikin Haru, Ini Alasan Jemaah Haji Semarang Tolak Jasa Pendorong Kursi Roda di Makkah
MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org– Demi menjaga kekhusyukan doa, para petugas dan anggota rombongan jemaah haji Semarang Kloter 28 SOC rela bahu-membahu mendorong sendiri 20 kursi roda lansia saat umrah wajib, Ahad (10/5/2026). Mereka secara khusus sepakat menolak layanan jasa pendorong komersial di Masjidil Haram karena sebuah alasan spiritual yang mendalam.
Sebelumnya, para jemaah berhasil menjaga ketat berbagai pantangan ihram sejak keberangkatan dari Madinah pada Sabtu malam. Setibanya di Makkah, mereka langsung membagi pelaksanaan umrah wajib menjadi dua gelombang. Strategi ini terbukti efektif untuk menjaga stamina dan mengoptimalkan kekhusyukan, terutama bagi jemaah risiko tinggi (risti).
Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Kloter 28 SOC, Dr. Mafrukhi, menjelaskan skenario pembagian waktu tersebut. “Pelaksanaan umroh dibagi 2 tahap, yang sehat dan yang pakai kursi roda,” ujar Mafrukhi dalam laporannya pada Ahad (10/5/2026) tengah malam waktu Indonesia.
Gelombang pertama berisi jemaah haji Semarang yang bugar secara fisik. Mereka bergerak dari hotel di Roudhoh menuju Terminal Sib Amir sejak pukul 07.00 pagi waktu setempat. Proses tawaf dan sa’i sebanyak tujuh putaran berjalan lancar. Petugas kemudian menutup rangkaian ibadah ini dengan membimbing proses tahalul atau memotong rambut para jemaah.

Tolak Jasa Berbayar demi Kekhusyukan Doa
Sementara itu, panitia memberikan perlakuan khusus yang penuh empati kepada jemaah haji Semarang gelombang kedua. Mereka menjadwalkan 20 jemaah haji yang membutuhkan kursi roda untuk menjalani umrah wajib pada sore hari atau selepas Isya.Pemilihan waktu malam hari ini sangat tepat untuk menghindari cuaca terik dan kepadatan massa di area Masjidil Haram.
Menariknya, rombongan sepakat menolak tawaran layanan pendorong komersial yang banyak tersedia di sana. Para petugas dan sesama anggota jemaah haji Semarang memilih turun tangan langsung. Mereka saling bahu-membahu mendorong kursi roda lansia melintasi pelataran suci. Keputusan mandiri ini lahir dari komitmen kuat untuk menjaga kualitas ibadah.
“Jemaah haji Semarang didorong oleh petugas dan jamaah dari rombongan. Tidak menggunakan jasa dorong dari Masjidil Haram karena mereka hanya mendorong tanpa disertai manasik dan doanya,” tegas Mafrukhi menyoroti alasan utama penolakan tersebut.
Langkah solidaritas ini memastikan setiap jemaah haji tetap melantunkan doa dengan benar selama tawaf dan sa’i.
Pada akhirnya, semua rangkaian ibadah berjalan sesuai rencana. Pengurus memastikan seluruh anggota kafilah mengambil skema haji tamatu. Skema penyelenggaraan ini mewajibkan seluruh jemaah,termasuk jemaah haji Semarang, untuk membayar dam nusuk di kemudian hari.
Pantau terus laporan terkini dan terlengkap setiap hari, kabar jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org