Lebih Dahsyat dari Jihad, Ini Amalan Bulan Zulhijah yang Sering Dilupakan Namun Dicintai Allah
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – “Laksanakanlah wahai ayahanda.” Kalimat pendek Ismail ribuan tahun lalu itu kembali bergema di Ngaliyan Wates. Dr. Masrifan Djamil membedah kembali ruh ketaatan tersebut untuk mengingatkan umat bahwa amalan bulan Zulhijah memiliki kedudukan yang sangat istimewa.
Ia menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar rutinitas kurban semata. Sebaliknya, ini adalah peluang emas meraih pahala ibadah yang lebih baik dari jihad yang puncaknya ada pada Puasa Arafah.
Suasana khidmat menyelimuti ruang utama Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, Jumat (15/5/2026) siang itu. Di atas mimbar, Dr. dr. H. Masrifan Djamil, MPH, MMR, tidak sekadar berkhutbah. Ia justru membuka peta harta karun yang selama ini tergeletak berdebu di sudut ingatan umat.
Khatib mengingatkan bahwa perhatian masyarakat sering kali tersedot habis oleh kemegahan Ramadan. Namun, ada satu momentum yang nyaris setara namun sering luput dari radar pencarian manusia. Momentum tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.
Peluang Emas: Amalan Bulan Zulhijah yang Melampaui Pahala Jihad
“Kebanyakan kita menunggu Ramadan, tapi ada yang mungkin terlewat,” ujar Masrifan dengan nada suara yang dalam. Ia mengajak jamaah agar segera memahami, meyakini, dan “tancap gas” meningkatkan amal saleh dari sebelumnya.
Kalimatnya tersebut bukan sekadar motivasi biasa bagi para jamaah. Masrifan mengutip hadis yang menggetarkan tentang keutamaan sepuluh hari pertama ini. Ia menyebut derajat amalan ini melampaui jihad di jalan Allah.
Pengecualian hanya berlaku bagi mereka yang berangkat dengan seluruh jiwa raganya. Orang tersebut membawa seluruh hartanya dan hanya menyisakan nama saat pulang dari medan juang.
Selanjutnya, ia mengajak jamaah melakukan sebuah simulasi batin yang mendalam. Ia meminta hadirin membayangkan ketaatan mutlak seorang pemuda bernama Ismail. Bayangkan seorang remaja yang sedang ranum menikmati hidup, namun tetap tenang menjalankan perintah Tuhan.
Strategi Tancap Gas Ibadah Jelang Puasa Arafah
“Ini merupakan jawaban pemuda yang hebat,” imbuhnya dengan penuh semangat. Ketaatan Ismail inilah yang menjadi ruh utama dalam setiap aktivitas ibadah yang akan umat Islam hadapi sebentar lagi.
Oleh karena itu, istilah “tancap gas” merujuk pada peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Umat bisa memperbanyak zikir atau memberikan sedekah kepada mereka yang terlantar di jalanan. Hal ini menjadi persiapan penting menyambut Puasa Arafah yang menghapuskan dosa.
Bagi mereka yang belum berangkat ke tanah suci, momen ini menjadi ibadah yang lebih baik dari jihad. Ia pun mendorong jamaah untuk menambah rakaat Dhuha mereka. Selain itu, jamaah perlu menjaga konsistensi salat Isyraq tepat Setelah terbit matahari lebih sepenggal.
Integritas Spiritual dan Etika Panitia Kurban
Tak lupa, ia menyentil para panitia kurban agar tidak menunda-nunda waktu penyembelihan hewan. Keinginan para wakif untuk mempersembahkan yang terbaik pada tanggal 10 Zulhijah harus menjadi prioritas utama. Panitia tidak boleh membiarkan urusan teknis mengulur waktu hingga hari tasyrik terakhir.
Selain masalah teknis, Masrifan menegaskan bahwa spiritualitas harus berjalan beriringan dengan akal sehat. Belajar agama tidak boleh hanya sekadar mengekor pada tren media sosial yang tidak jelas sanad ilmunya. Ia menyarankan agar umat tetap mengikuti bimbingan guru yang jelas dan teruji.
Sebab, amalan yang benar hanya lahir dari hati yang tulus mencintai Sang Pencipta. Zulhijah pada akhirnya adalah tentang pembuktian cinta yang nyata dari seorang hamba. Jika jihad menuntut nyawa, maka amalan bulan Zulhijah hanya menuntut kesediaan kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Menjelang Puasa Arafah, tanyakanlah pada diri sendiri mengenai kesiapan hati. Apakah kita termasuk hamba yang mencintai Allah atau hanya sekadar penonton yang menunggu tanpa melangkah? Ingatlah, ini adalah ibadah yang lebih baik dari jihad, maka jangan biarkan kesempatan emas ini berlalu tanpa makna.