Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Hancurkan Sifat Kikir, Rahasia Mengikis Ego Lewat Kurban

17 Mei 2026, 21:51 WIB 3 menit baca
Foto dokumentasi suasana pengajian Ahad pagi di dalam sebuah masjid yang luas dan bersih. Di bagian depan, seorang pimpinan pengajian atau narasumber mengenakan kemeja batik bermotif cokelat, peci hitam, dan kacamata, sedang berbicara menggunakan mikrofon di podium. Di hadapannya, ratusan jemaah pria dan wanita duduk dengan khidmat di atas karpet masjid berwarna hijau, menyimak penyampaian materi dengan tertib, menciptakan atmosfer kajian yang tenang dan religius.
Ustadz H.M. Parwoto saat menyampaikan materi dalam Pengajian Ahad Pagi Pekan Ke-3 di Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, Kota Semarang (17/5/2026). Kajian ini membedah makna filosofis ibadah kurban sebagai sarana menghancurkan sifat kikir, kesombongan, dan belenggu duniawi guna membangun ketakwaan yang murni.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang terjebak mengira kurban hanyalah ritual tahunan memotong hewan ternak. Padahal, esensi terdalam dari ibadah ini adalah meruntuhkan kesombongan dan ego yang bersarang di dalam dada manusia. Hal tersebut menjadi fokus utama ratusan jemaah yang memadati Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, Kota Semarang, Ahad (17/5/2026) pagi.

Kajian bertajuk “Mengapa Kita Berkurban” ini sukses menyentuh kesadaran spiritual masyarakat sejak subuh. Agenda rutin Pengajian Ahad Pagi Pekan Ke-3 ini menghadirkan Ustadz H.M. Parwoto sebagai pembicara. Utusan Majelis Tabligh PCM Semarang Selatan tersebut mengupas tuntas esensi ibadah qurban sebagai bukti ketakwaan nyata.

Ia memaparkan bahwa landasan teologis ibadah ini merujuk langsung pada Surah Al-Kautsar ayat 1–3. Umat Muslim diperintahkan mendirikan shalat dan menyembelih kurban atas limpahan nikmat-Nya. Langkah tersebut merupakan simbol paling konkret untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Kami ingin mengajak jemaah bersyukur atas limpahan nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya melalui ibadah ini,” tutur Ustadz H.M. Parwoto di hadapan jemaah.

Meneladani Nabi Ibrahim: Ujian Cinta dan Keikhlasan Tiada Tara

Ustadz Parwoto menjelaskan bahwa ibadah ini merupakan bentuk napak tilas sejarah yang agung. Jemaah harus meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim A.S. dan putranya, Nabi Ismail A.S. Al-Qur’an merekam kisah penuh haru tersebut dalam Surah As-Saffat ayat 102–107.

Peristiwa besar itu menggambarkan ujian cinta yang nyata antara ayah dan anak. Keikhlasan Ibrahim menyerahkan putranya demi perintah Ilahi menjadi cermin besar bagi umat beriman. Kepatuhan mutlak Ismail juga memperlihatkan arti penyerahan diri yang sesungguhnya kepada Tuhan.

Surah Al-Hajj ayat 36 juga menekankan bahwa hewan qurban memiliki dimensi sosial yang kuat. Sohibul qurban wajib membagikan daging sembelihan untuk memberi makan masyarakat yang kekurangan. Langkah nyata ini ampuh mempererat solidaritas kemanusiaan antar-sesama warga.

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah hewan kurban,” ungkap Ustadz Parwoto mengutip hadis riwayat Ibnu Majah nomor 3126.

Menghancurkan Sifat Kikir: Bersihkan Jiwa dari Belenggu Duniawi

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Parwoto memberikan refleksi penting mengenai pentingnya melatih jiwa. Beliau menyampaikan secara lugas bahwa manusia tidak akan pernah meraih kesuksesan hakiki tanpa pengorbanan. Setiap muslim harus menempatkan cinta kepada Allah di posisi tertinggi, melampaui urusan dunia.

Kajian interaktif di Masjid At-Taqwa Wates ini melahirkan kesimpulan spiritual yang mendalam bagi jemaah. Lewat ibadah ini, manusia bisa mengikis rasa memiliki dan ego individu. Jemaah juga bisa meruntuhkan kesombongan yang kerap bersarang di dalam dada.

Prinsip ini menjadi benteng pertahanan untuk mencegah kecintaan berlebihan terhadap dunia (wahn). Ibadah ini secara perlahan membersihkan jiwa dari sifat kikir, pelit, dan bakhil yang merusak. Transformasi batin ini pada akhirnya merajut tali ukhuwah islamiyah menjadi semakin erat.

“Mari bersihkan hati dan tumbuhkan rasa bahagia saat menunaikan ibadah mulia ini,” pungkas Ustadz Parwoto menutup kajian.

Kontributor: Gahthan Bazry (Tim Media Masjid)
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: