Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menata Hati di Syishah, Jemaah Haji Selami Makna Hari Tarwiyah

20 Mei 2026, 21:06 WIB • 3 menit baca
Foto dokumentasi Ustadz Drs. H. Nurbini, M.S.I. sedang memberikan kajian bimbingan ibadah haji mengenai makna hari tarwiyah di aula Darb Almotamer Hostel 2, Syishah, Makkah. Tampak Ustadz Nurbini duduk bersila menghadap kamera dari samping kiri sambil memegang mikrofon hitam. Di latar belakang, puluhan jemaah haji perempuan KBIHU Aisyiyah Kota Tegal duduk lesehan dengan khusyuk mendengarkan materi di dalam aula hotel yang luas dan berkarpet.
Petugas TPIHI Kloter 28 SOC Semarang yang juga Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Ustadz Drs. H. Nurbini, M.S.I., saat menyampaikan materi mengenai makna hari tarwiyah di aula Darb Almotamer Hostel 2, Syishah, Makkah (20/5/2026). Kajian intensif ini diikuti dengan khusyuk oleh ratusan jemaah haji KBIHU Aisyiyah Kota Tegal demi memantapkan kesiapan batin menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Kehangatan dan kekhusyukan seketika menyelimuti aula Darb Almotamer Hostel 2, Syishah, Makkah, Rabu pagi (20/5/2026). Ratusan jemaah haji yang bergabung dalam KBIHU Aisyiyah Kota Tegal (Kloter 5 SOC) tampak duduk bersimpuh rapat, menyimak dengan saksama untaian kalimat spiritual yang menggugah sanubari di dalam kamar bernomor 126 tersebut. Dari pukul 09.30 hingga 11.00 WAS, para tamu Allah ini sengaja meluangkan waktu di tengah padatnya aktivitas demi mematangkan kesiapan batin menghadapi fase krusial Armuzna yang sudah di pelupuk mata.

Atmosfer di dalam ruangan terasa kian hidup dan berbobot berkat kehadiran sosok kharismatik yang mengomandoi jalannya kajian, Ustadz Drs. H. Nurbini, M.S.I. Turun langsung sebagai petugas TPIHI Kloter 28 SOC Semarang, kehadirannya menjadi bukti indah betapa sekat wilayah antarkloter mencair sepenuhnya di tanah suci demi mengawal dan mengedukasi iman para jemaah.

Di hadapan jemaah, pembimbing jemaah haji Muhammadiyah ini mengajak semuanya untuk meresapi kembali esensi dan makna hari tarwiyah yang jatuh setiap tanggal 8 Dzulhijjah. “Hari Tarwiyah bukan sekadar perpindahan fisik menuju Mina, tetapi juga perjalanan ruhani menuju ketakwaan, kesabaran, dan totalitas penghambaan kepada Allah,” ujarnya dengan nada mantap penuh penekanan.

Antara Sumur Sejarah dan Ketukan Mimpi Nabi Ibrahim dalam Makna Hari Tarwiyah

Secara bahasa, kata tarwiyah membawa pesan tentang persiapan matang. Maknanya adalah membawa bekal air atau memberi minum. Dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo tersebut menceritakan kisah mengharukan masa lalu. Dahulu, jemaah haji harus bersusah payah mengumpulkan air di Mina demi menyambung hidup. Kisah klasik ini memicu rasa syukur mendalam di hati para jemaah Kota Bahari. Kini, mereka bisa menikmati fasilitas hotel yang nyaman.

Namun, akademisi asal Semarang ini menjelaskan sisi lain. Esensi makna hari tarwiyah melompat jauh melampaui urusan logistik fisik. Beliau memaparkan bahwa para ulama mengaitkan hari mulia ini dengan kata at-tarawwi. Istilah tersebut berarti sebuah proses merenung, berpikir, dan menghayati.

Di tempat yang sama ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim ‘alaihis salām menerima ujian jiwa yang berat. Beliau mulai merenungkan mimpi ilahi untuk menyembelih sang putra tercinta, Nabi Ismail ‘alaihis salām.

Melalui kilas balik sejarah tersebut, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang ini memberikan petuah penting. Ibadah besar selalu membutuhkan persiapan mental yang matang. Hari Tarwiyah mengajarkan umat manusia untuk meluruskan niat. Jemaah harus membersihkan noda batin sebelum melangkah ke medan pembuktian di Arafah.

Mengubah Lelah Fisik Menjadi Investasi Akhirat

Seiring jarum jam mendekati siang, materi kajian mulai membedah hikmah praktis Tarwiyah untuk kehidupan sehari-hari jemaah. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup penuh perencanaan yang matang dan tidak berjalan ceroboh tanpa arah. Hari Tarwiyah menjadi alarm pengingat yang keras bahwa perjalanan haji ini merupakan miniatur kecil dari perjalanan panjang manusia menuju kematian.

Mendengar ulasan tersebut, beberapa jemaah tampak merenung dalam karena menyadari betapa seringnya manusia sibuk menata harta duniawi. Banyak orang menghabiskan energi untuk membangun rumah mewah, namun abai menyiapkan bekal kubur dan hari penghisaban. Kajian ini berhasil mengetuk kesadaran jemaah untuk mengubah setiap rasa lelah fisik di tanah suci menjadi investasi pahala akhirat yang mengalir abadi.

Ustadz Nurbini kembali mengingatkan jemaah agar senantiasa menjaga konsistensi hati jelang fase Armuzna. “Hari Tarwiyah mengajarkan kita bahwa sebelum bertindak berpikirlah, sebelum beribadah luruskan niat, sebelum berangkat siapkan bekal, dan sebelum mati siapkan amal,” tegasnya mengakhiri materi.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: