Sinar Hijau Menara Zam-Zam Sambut Kedatangan Ratusan Ribu Jemaah Haji
Makkah, muhammadiyahsemarangkota.org — Langit malam Kota Makkah mendadak syahdu saat menara ikonik Tower Zam-Zam memancarkan kilauan cahaya hijau yang indah, Minggu malam waktu Arab Saudi. Pendaran cahaya tersebut menjadi penanda spiritual bahwa bulan Zulkaidah telah berganti menuju bulan Zulhijah 1447 Hijriah. Momentum magis ini sekaligus menandai kian dekatnya puncak ibadah haji yang dinanti-nantikan jutaan umat Muslim sedunia.
Pimpinan DPRD Kota Semarang sekaligus anggota jemaah haji kloter 28 SOC Semarang, Suharsono SS., M.Si., menyaksikan langsung pemandangan indah tersebut dari atas atap (roof top) pemondokan jemaah. Melalui laporan eksklusif yang Suharsono kirimkan langsung dari tanah suci kepada redaksi muhammadiyahsemarangkota.org, Selasa (19/5/2026), atmosfer kota suci kini terasa kian padat dan bergemuruh oleh lantunan talbiyah.

Saat ini, lebih dari 200.000 jemaah asal Indonesia telah berkumpul dan merapat ke dalam Kota Makkah. Gelombang pergerakan masif ini mencakup jemaah gelombang pertama yang sebelumnya singgah di Madinah, maupun jemaah gelombang kedua yang terbang langsung dari tanah air. Kedatangan ratusan ribu raga ini tentu mengubah drastis ritme kehidupan di seputaran Ka’bah.
“Sinar hijau di puncak menara kemarin mengabarkan bahwa bulan Zulhijah sudah tiba, dan Makkah kini sudah penuh sesak,” lapor Suharsono eksklusif.
Aturan Baru Naqobah: Bus Shalawat Setop Beroperasi Jelang Magrib
Lonjakan drastis jumlah manusia dari berbagai belahan dunia ini memaksa Pemerintah Arab Saudi mengambil langkah tegas demi mengurai kemacetan. Dinas Perhubungan Arab Saudi atau Naqobah resmi mengeluarkan kebijakan baru terkait pembatasan jam operasional menuju Masjidil Haram. Aturan ketat ini membatasi ruang gerak transportasi demi menjaga keselamatan dan kenyamanan pergerakan jemaah.
Melalui regulasi anyar ini, bus shalawat hanya mengangkut jemaah yang ingin mengejar salat Subuh di Masjidil Haram maksimal pukul 03.00 waktu setempat. Setelah ambang batas waktu tersebut, otoritas setempat menutup sementara akses pengangkutan. Pihak transportasi baru akan membuka kembali rute bus setelah proses pembongkaran jemaah pasca-salat Isya selesai.
Kebijakan darurat ini otomatis menghentikan seluruh aktivitas pengangkutan jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram sejak waktu Magrib hingga Isya. Aturan baru tersebut tentu sangat mengejutkan bagi sebagian jemaah Indonesia. Mengingat pada hari-hari sebelumnya, armada bus shalawat selalu setia melayani dan mengangkut jemaah selama 24 jam penuh tanpa henti.
“Sistem transportasi sekarang menyesuaikan dengan kapasitas kawasan haram yang semakin padat menjelang puncak haji,” tulis Suharsono dalam laporannya.
Suhu Tembus 46 Derajat: Jemaah Wajib Hemat Energi Demi Armuzna
Tantangan bagi para pemburu surga di tanah suci tidak berhenti pada masalah pembatasan transportasi saja. Suharsono juga mengabarkan bahwa kondisi Makkah terkini sedang menghadapi ujian cuaca ekstrem yang cukup menyengat kulit. Suhu udara pada siang hari di sekitar Kakbah merangkak naik secara drastis hingga menyentuh angka 42 sampai 46 derajat Celsius.
Menyikapi cuaca panas yang membakar ini, jemaah haji wajib pintar-pintar mengelola stamina fisik dan mengatur jadwal ibadah mereka. Suharsono mengingatkan jemaah agar memaksimalkan waktu istirahat di dalam kamar atau aula hotel saat siang hari. Jemaah bisa mengalihkan aktivitas berburu pahala lewat tilawah Al-Qur’an di dalam masjid terdekat atau mushola gedung pemondokan.
Manajemen fisik yang disiplin ini menjadi kunci utama agar jemaah memiliki stamina prima saat memasuki puncak haji di Armuzna nanti. Petugas medis juga meminta jemaah untuk terus meneguk air minum secara teratur tanpa harus menunggu rasa haus datang menyerang. Menjaga asupan nutrisi dari makanan katering hotel juga menjadi benteng penting untuk menghindari dehidrasi parah di tengah cuaca panas.
“Jangan banyak beraktivitas di luar gedung saat siang hari, simpan energi terbaik kita untuk puncak Armuzna nanti,” pungkas Suharsono mengingatkan.