Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Macet 1,5 Jam Hingga Sarapan Pop Mie, Intip Cerita Darurat Jemaah Haji di Mina

25 Mei 2026, 15:20 WIB • 4 menit baca
Foto dokumentasi suasana di dalam tenda Mina yang padat, di mana para jemaah haji laki-laki Indonesia yang mengenakan kain ihram sedang beristirahat dan tidur berjejer rapat di atas kasur tipis. Tampak beberapa jemaah meletakkan perlengkapan tas bertuliskan "Armuzna" dan syal bertuliskan "INDONESIA", menggambarkan ketahanan fisik jemaah setelah menempuh perjalanan jauh untuk menunaikan ibadah tarwiyah
Suasana istirahat jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang di dalam tenda Mina yang sangat terbatas dan padat, Senin (25/5/2026). Setelah menempuh kemacetan parah selama 1,5 jam dan menghadapi keterbatasan logistik sarapan, jemaah memanfaatkan waktu jeda ibadah tarwiyah untuk merebahkan diri sejenak guna mengumpulkan stamina menjelang puncak wukuf di Arafah.

MINA, muhammadiyahsemarangkota.org — Perjalanan spiritual menuju puncak haji selalu menyuguhkan kisah perjuangan yang menggetarkan hati dan menguji kesabaran para jemaah. Kabar terbaru datang dari laporan langsung Ketua Kabilah Jemaah Haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC, Dr. Mafrukhi, langsung dari tanah suci. Laporan ini tersiar pada hari ini, Senin 25 Mei 2026 pukul 13.15 WIB atau pukul 09.18 WAS. Ratusan jemaah asal Semarang harus melewati malam panjang penuh peluh demi menunaikan rangkaian Ibadah Tarwiyah di Mina.

Dalam laporan langsung hari ini, Mafrukhi menceritakan bahwa jemaah harus berangkat secara bergelombang dari hotel penginapan di kawasan Roudhoh menuju Mina menggunakan armada bus. Namun demikian, kepungan kemacetan parah di berbagai ruas jalan utama Makkah mendadak mengubah rute pendek menjadi jalur penuh ujian fisik. Akibatnya, perjalanan yang biasanya tuntas dalam waktu 30 menit justru membengkak hingga memakan waktu 1,5 jam perjalanan.

Gelombang keberangkatan ini terbagi dalam tiga tahap krusial, mulai dari pukul 21.30, pukul 22.00, hingga rombongan terakhir yang menembus tengah malam pada pukul 24.00. Dampaknya, rombongan terakhir baru bisa menginjakkan kaki di bumi Mina saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari WAS. Alasan itulah yang membuat sebagian besar jemaah terpaksa mengorbankan waktu istirahat malam mereka demi mengejar keutamaan sunah rasul.

“Perjalanan dari hotel di kawasan Roudhoh menuju Mina mengalami kemacetan di banyak tempat. Tentu banyak jemaah yang malam itu tidak tidur,” lapor Dr. Mafrukhi langsung dari tenda Mina, Senin (25/5/2026).

Bertahan dengan Roti dan Pembagian Kasur yang Pas-pasan

Lebih lanjut, jemaah haji langsung mendapatkan asupan energi begitu mereka sukses menembus barikade kemacetan kota Makkah. Sebab, pihak maktab yang bertanggung jawab penuh atas logistik telah menyiapkan menu sarapan pagi yang praktis di dalam tenda. Kondisi tersebut mewujud melalui pembagian satu paket plastik berisi empat macam roti, Pop Mie gelas hangat, serta buah apel segar untuk mengganjal perut yang kosong setelah terjaga semalaman.

Tidak hanya masalah isi perut, tantangan berikutnya yang muncul di lokasi adalah urusan teknis pembagian tempat tidur di dalam tenda. Padahal, berdasarkan hasil survei lapangan sebelumnya, panitia sudah menghitung secara matang kapasitas kasur yang pas sebanyak 360 unit. Namun kenyataannya, saat seluruh rombongan jemaah datang mengalir, ada sekitar tiga orang jemaah yang sempat belum mendapatkan tempat kasur karena dinamika kedatangan di lapangan.

Oleh karena itu, panitia di lapangan langsung memutar otak untuk menyelamatkan posisi tiga jemaah yang belum mendapatkan tempat tidur tersebut. Beruntung, mereka masih bisa menempati area kosong di tenda lain yang penghuninya kebetulan tidak mengambil program tarwiyah. Setelah urusan logistik darurat ini selesai, mayoritas jemaah baru bisa merebahkan badan untuk tidur sejenak selepas mengisi tenaga dengan menu sarapan yang tersedia.

“Pagi itu sarapannya satu paket plastik roti isinya empat macam, pop mie gelas, dan apel. Saat jemaah datang, ternyata ada sekitar tiga orang tidak mendapat tempat,” jelas Mafrukhi menjabarkan dinamika di lapangan.

Persiapan Ruhani Menuju Wukuf Arafah Sebagai Puncak Haji

Namun di balik rintangan tersebut, situasi darurat logistik pagi hari mendadak berubah menjadi senyum penuh kesyukuran saat siang hari menyapa. Alhamdulillah, pihak penyelenggara langsung mendistribusikan menu makan siang yang sangat melimpah untuk memulihkan stamina seluruh rombongan jemaah haji. Pasalnya, jemaah kini bisa menikmati hidangan spesial berupa nasi biryani hangat dengan lauk ayam, jus segar, serta buah apel manis.

Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, pelaksanaan ibadah tarwiyah di Mina ini kembali berjalan khusyuk sebagai upaya menapaktilasi sunah mulia Rasulullah SAW. Sebab, sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat selalu menginap terlebih dahulu di Mina sebelum bertolak menuju Padang Arafah. Selanjutnya, barulah pada pagi hari tanggal 9 Zulhijjah, rombongan suci zaman kenabian itu bergerak bersama untuk menyambut puncak haji.

Pada akhirnya, pasokan energi dari nasi biryani ayam tersebut sukses memompa kembali semangat ruhani jemaah untuk memperbanyak ibadah di dalam tenda. Artinya, jemaah memanfaatkan waktu luang yang ada untuk mematangkan persiapan batin mereka lewat lantunan zikir dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara maksimal. Dengan demikian, segala kendala macet dan lapar tadi subuh justru bertransformasi menjadi bumbu perjuangan yang memperkaya esensi ibadah haji mereka.

“Kegiatan di Mina adalah persiapan menuju Arafah sebagai puncak haji. Adapun kegiatan jemaah saat tarwiyah selain salat fardhu adalah banyak berzikir dan baca Al Quran,” pungkas Mafrukhi mengakhiri laporan langsungnya.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: