Umat Islam tidak boleh memandang Hari Raya Idul Adha sebatas momentum penyembelihan hewan dalam ibadah kurban. Lebih dari itu, hari besar ini membawa pelajaran raksasa tentang keimanan, ketundukan, pengorbanan, dan ketahanan domestik. Seluruh nilai luhur tersebut memancar secara utuh dari makna Iduladha melalui kisah Nabi Ibrahim AS.
Sejarah Islam mencatat Nabi Ibrahim AS sebagai sosok ayah sekaligus nabi dengan kualitas tauhid yang luar biasa. Keteguhan ia dalam menjaga iman berbuah gelar mulia dari Allah SWT, yaitu Khalilullah (kekasih Allah).
Namun, ia tidak berdiri sendirian dalam membentuk sejarah besar ini. Di sekelilingnya, hadir ekosistem keluarga robbani yang memiliki kualitas spiritual setara.
Ada Siti Sarah yang ikhlas, Siti Hajar yang tangguh, serta Nabi Ismail AS yang patuh. Gabungan karakter hebat inilah yang kemudian melahirkan potret ideal sebuah keluarga. Hingga hari ini, dunia mengenang mereka sebagai teladan sepanjang zaman.
Kualitas Keluarga Robbani dalam Kisah Nabi Ibrahim
Ujian pertama bermula saat Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS pergi. Ia harus meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah Makkah yang gersang dan tandus.
Menariknya, sepasang suami istri ini sama sekali tidak membantah. Mereka juga tidak menaruh prasangka buruk kepada Sang Pencipta.
Siti Hajar justru menunjukkan faset keimanan yang sangat mengagumkan melalui sebuah pertanyaan legendaris, “Apakah ini perintah Allah?”. Ketika sang suami menjawab “iya”, ia langsung menerima keputusan tersebut dengan sisa tawakal yang penuh.
Melalui fragmen ini, masyarakat modern dapat memetik makna Iduladha yang fundamental. Sebuah keluarga robbani sejatinya berdiri kokoh di atas fondasi iman, bukan di atas tumpukan kenyamanan duniawi.
Ikhtiar Nyata dan Keteladanan Nabi Ibrahim
Ketangguhan Siti Hajar kembali teruji saat persediaan air habis. Ia harus berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah demi menyambung nyawa putranya.
Tuhan kemudian mengabadikan perjuangan fisik tersebut menjadi ritual sa’i dalam rangkaian ibadah haji dan umrah. Lewat peristiwa itu, Islam mengajarkan sebuah prinsip penting. Sikap pasrah dan tawakal kepada Allah harus selalu beriringan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Selanjutnya, keteladanan Nabi Ibrahim mencapai puncaknya saat ia menerima perintah untuk menyembelih Nabi Ismail AS. Sebagai orang tua, ia tentu menghadapi gejolak batin yang luar biasa. Namun, sang nabi memilih untuk memenangkan ketaatan kepada Allah daripada ego pribadinya.
Respons sang anak pun tidak kalah menakjubkan. Nabi Ismail AS menyambut perintah tersebut dengan ketundukan total:
“Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Dialog intim dalam kisah Nabi Ibrahim ini membuktikan satu hal penting. Kualitas religius sebuah generasi tidak pernah lahir secara instan. Nilai tersebut tumbuh subur lewat keteladanan orang tua, komunikasi yang sehat, serta pembiasaan taat sejak dini.
Kontekstualisasi Makna Idul Adha di Era Modern
Pada era digital hari ini, potret keteladanan tersebut terasa semakin relevan. Saat ini, banyak orang membangun rumah tangga hanya berorientasi pada materi, status sosial, atau ikatan biologis semata. Padahal, sebuah keluarga baru bisa bertransformasi menjadi keluarga robbani jika mereka menempatkan rida Allah sebagai tujuan utama.
Momentum tahunan ini hadir untuk menegur para orang tua. Keberhasilan membesarkan anak tidak boleh diukur dari pencapaian akademik saja. Indikator kesuksesan yang utama adalah sejauh mana orang tua mampu menanamkan tauhid, kesabaran, dan semangat pengorbanan melalui esensi ibadah kurban.
Oleh karena itu, mari kita dekap kembali makna Iduladha secara mendalam agar perayaan ini tidak terjebak menjadi seremoni tahunan yang garing. Momentum emas ini harus menjadi titik balik untuk merajut kembali hubungan domestik. Kita perlu membentuk keluarga yang saling menguatkan keimanan dan kompak dalam kebaikan.
Semoga spirit batin dari kisah Nabi Ibrahim AS mampu menginspirasi keluarga Muslim saat ini, termasuk seluruh warga Muhammadiyah. Mari kita hadirkan baiti jannati yang penuh dengan nilai tauhid, napas pengorbanan, dan keberkahan yang melimpah.