Dakwah Nyata Muhammadiyah Semarang Ini Luluhkan Sentimen Semua Golongan
SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Sebuah ketulusan sederhana di garasi rumah kawasan Mlatibaru berhasil meruntuhkan tembok prasangka menahun. Momentum berharga tersebut sekaligus menjadi bukti Dakwah Nyata Muhammadiyah Semarang yang merangkul semua pihak. Oleh karena itu, gerakan humanis ini seketika menyatukan dua kelompok besar umat Islam di Kota Semarang dalam kebersamaan yang hangat.
Agenda mulia tersebut berjalan dalam rangka penyembelihan hewan Dam atau Hadyu jamaah haji KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang. Kegiatan sosial ini berlangsung di halaman samping kantor Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mlatibaru, Kamis (28/5/2026) pagi.
Selanjutnya, sebanyak tujuh ekor kambing menjadi perantara utama lahirnya kerukunan umat Islam di kampung tersebut. Sejak fajar menyingsing, para pengurus PCM Semarang Timur bersama warga sekitar telah sibuk menyiapkan keperluan penyembelihan.
Gema Takbir dan Meleburnya Sekat Ormas
Satu per satu kambing akhirnya tumbang di tangan Imam Abu Maulana dari PRM Mlatibaru. Takbir menggema pelan memecah udara pagi. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…,” suara takbir itu berkumandang dengan khidmat.
Suasana di lokasi setelah itu berubah menjadi sangat cair dan tidak menunjukkan adanya sekat pembatas antar-organisasi. Pengurus Muhammadiyah, warga Nahdlatul Ulama (NU), serta masyarakat umum tampak duduk sama rendah di atas lantai garasi yang sama.
Meskipun berbeda bendera, mereka tetap saling bahu-membahu mencacah daging, mencuci jeroan, hingga membungkusnya ke dalam paket-paket kecil. Tidak ada lagi perdebatan mengenai perbedaan paham, melainkan kerja sama yang penuh tawa ringan.
Ketulusan yang hadir di lapangan secara perlahan menyentak kesadaran sejumlah warga sekitar. Padahal, wilayah tersebut sebelumnya sempat diwarnai prasangka yang menyebut gerakan Muhammadiyah terlalu kaku dan eksklusif.
Mengikis Prasangka Melalui Aksi Nyata
Dahulu, sempat terlontar kalimat pedas dari mulut ke mulut yang cukup menyakitkan di tengah masyarakat. “Kalau kegiatan Muhammadiyah ya paling cuma untuk orang Muhammadiyah sendiri,” bunyi sindiran kala itu.
Bukan hanya itu, ada pula warga yang sempat berkata dengan nada meremehkan. “Buat apa takziah orang Muhammadiyah, begini dilarang begitu dilarang,” sebut mereka dahulu.
Namun, para pengurus di lapangan justru menjawab keraguan itu dengan memprioritaskan masyarakat luas. Mereka bahkan saling mengingatkan untuk memberikan bagian terbaik kepada warga sekitar. “Daging yang bagus untuk warga ya… biar mereka ikut senang,” suara yang terdengar jelas di sela kesibukan.
Selain itu, salah satu panitia yang bertugas juga menyampaikan untuk membagikan paket secara merata tanpa tebang pilih. “Yang penting semua kebagian,” timpal salah seorang panitia.
Prinsip tersebut kemudian diperkuat dengan pesan persaudaraan yang sangat menyejukkan hati semua orang di dalam garasi. “Jangan lihat golongan… kabeh sedulur,” ucapnya sambil terus mengemas daging.
Pendekatan humanis ini akhirnya menjadi cara menghilangkan prasangka golongan yang sangat efektif di tingkat akar rumput. Akibatnya, warga yang dahulu memandang dengan sinis, kini pulang membawa bingkisan daging dengan mata berkaca-kaca.
Apresiasi Tinggi dari Pemangku Wilayah
Sementara itu, Ketua RT 7 RW 6 Kelurahan Mlatibaru, Yoga Hardianto, mengaku tidak mampu menyembunyikan rasa harunya melihat momen langka ini. Ia langsung menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif inklusif yang digerakkan oleh PCM Semarang Timur tersebut.
“Terimakasih, saya sangat bangga Muhammadiyah telah memotong hewan di wilayah kami. Dan yang menjadikan saya kagum dan saya acungi jempol, walaupun hewan-hewan ini dari Muhammadiyah namun bisa dirasakan oleh masyarakat umum bahkan orang-orang NU. Sekali lagi saya sebagai pemangku wilayah mengapresiasi Muhammadiyah yang telah malang melintang menunjukkan kinerjanya untuk lingkungan dan masyarakat umum,” ujar Yoga Hardianto dengan penuh rasa bangga.
Melalui keringat tanpa pamrih di pertigaan Jalan Mlatiharjo Tengah, kerukunan umat Islam di kampung ini tidak lagi sekadar menjadi slogan. Pada akhirnya, dakwah yang mengalir hari itu membuktikan bahwa merangkul perbedaan jauh lebih bertenaga daripada ceramah panjang.