Harus Jalan Kaki 8 KM, Jemaah Haji Semarang Sempat Tersasar 4 Jam di Jalur Lempar Jumrah
ARAFAH, muhammadiyahsemarangkota.org — Perjuangan fisik yang luar biasa harus dilewati oleh para jemaah haji Indonesia saat memasuki puncak ibadah di Mina. Gema takbir terus mengiringi langkah kaki ratusan jemaah yang merayap di sela kepadatan maktab. Mereka harus mengerahkan seluruh sisa tenaga demi menuntaskan rukun wajib haji ini.
Dinamika perjuangan ini terekam jelas dalam laporan langsung dari tanah suci pada Rabu, 10 Zulhijah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 27 Mei 2026 kemarin. Tim Pembimbing Haji Indonesia (TPHI), Nurbini, membagikan situasi terkini mengenai pelaksanaan lempar jumrah akabah. Dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo ini mendampingi langsung pergerakan jemaah menyusuri jalur lempar jumrah.
Rombongan KBIH Muhammadiyah Kota Semarang Kloter 28 SOC sendiri mulai bergerak keluar tenda setelah salat asar. Panitia sengaja memilih waktu sekitar pukul 04.00 sore untuk menghindari sengatan cuaca ekstrem siang hari. Langkah ini sekaligus menguji kebersamaan dan kekompakan ratusan jemaah haji asal Semarang di lapangan.
Tembus Jarak 8 Kilometer: Siasat Opsi Badal Demi Selamatkan Jemaah Lansia dan Risti
Tantangan terberat dalam prosesi ini adalah jarak fisik yang sangat menguras energi rohani jemaah. Jarak satu kali perjalanan dari tenda menuju titik jamarat akabah mencapai sekitar 3,7 kilometer hingga 4 kilometer. Alhasil, seluruh jemaah wajib berjalan kaki pulang-pergi sejauh total 8 kilometer untuk bisa kembali ke tenda Mina.
Kondisi rute yang jauh membuat beberapa jemaah haji mulai kelelahan di tengah jalan. Apalagi suhu udara di sekitar area maktab masih terasa lumayan panas meskipun matahari sudah bergeser sore. Situasi ini memaksa sebagian jemaah untuk berulang kali berhenti sejenak demi memulihkan stamina mereka di pinggir jalan.
“Alhamdulillah bisa dilakukan dengan lancar dengan jarak sekitar 3,7 km, atau ya kurang lebih karena perputaran bisa mencapai 4 kilo satu kali perjalanan, sehingga pulang pergi sekitar 8 kilo. Ada beberapa jemaah yang kelelahan, yang harus istirahat dalam perjalanan karena meskipun jam 04.00 sore suhu masih lumayan agak panas,” lapor Nurbini langsung dari tanah suci pada Rabu (27/5/2026) malam waktu setempat.
Demi mengantisipasi risiko kesehatan yang lebih fatal, tim pemandu langsung mengambil langkah penyelamatan yang taktis. Petugas memberlakukan sistem badal atau penggantian pelemparan bagi jemaah yang rentan secara fisik. Langkah bijak ini menyasar jemaah kategori risiko tinggi (risti), lansia, serta mereka yang menggunakan bantuan kursi roda.
Drama Salah Jalan 4 Jam: Sukses Selesaikan Rukun Wajib Haji Lewat Prosesi Tahalul
Selain kendala kelelahan fisik, kondisi lapangan yang sangat padat juga memicu drama tersasar yang cukup menegangkan. Ribuan manusia yang berjejal di jalur lempar jumrah sempat memicu kebingungan bagi sebagian jemaah. Akibatnya, ada beberapa jemaah yang salah mengambil jalur pemulangan hingga terpisah dari rombongan utama.
Kesalahan mengambil rute ini membuat durasi perjalanan pulang mereka membengkak berkali-kali lipat dari jadwal normal. Rombongan jemaah haji yang berjalan lancar biasanya sudah tiba kembali di tenda dalam waktu 2,5 jam. Namun, jemaah yang tersasar tersebut harus berjuang hingga 4 jam lamanya untuk bisa menemukan jalan pulang.
“Secara bergelombang, perjalanan kira-kira 2,5 jam pulang pergi, bahkan ada dari jemaah yang karena salah jalur, salah jalan maka… ya tadi sampai ada yang sampai 4 jam baru sampai di tenda kembali. Nah, kemudian dilanjutkan setelah lempar jumrah akabah dengan tahalul,” pungkas perwakilan TPHI tersebut.
Setelah seluruh rombongan berhasil berkumpul dengan aman di maktab, jemaah langsung menyempurnakan ibadah mereka melalui prosesi tahalul. Sebagian jemaah tampak mencukur rambut dengan cara mengguntingnya secukupnya di sekitar area jamarat akabah. Sementara itu, sebagian jemaah pria lainnya memilih memotong gundul bersih rambut mereka setibanya di dalam tenda Mina.