Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menangis Haru Dengar Khutbah Iduladha, Kisah Ibu Badriyah Jadi Potret Indah Bakti Anak pada Lansia

30 Mei 2026, 11:56 WIB 4 menit baca
Seorang lansia, Ibu Badriyah (tengah), mengenakan kerudung putih, tampak haru dan damai di antara jemaah wanita lainnya (yang terlihat lebih muda) di area luar Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, Semarang. Lansia itu menghadap kamera sementara jemaah di dekatnya menunduk dan berdoa. Cahaya alami lembut menerangi scene.
Potret Ibu Badriyah (tengah) di saf jemaah wanita di area luar Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, Semarang, pada Hari Raya Iduladha.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.orgSorot mata perempuan lansia itu mendadak berkaca-kaca saat melangkah keluar dari pintu gerbang masjid. Guratan senyum bahagia langsung terpancar dari wajahnya yang mulai termakan oleh usia. Rasa haru yang membuncah di dalam dada membuat wanita tua ini tidak berhenti bercerita sepanjang jalan pulang.

Momen menyentuh hati tersebut menjadi potret nyata dari indahnya bakti anak pada lansia di Hari Raya Iduladha. Kisah inspiratif ini bermula dari perjalanan spiritual Ibu Badriyah, seorang jemaah asal Mangkang yang kini menginjak usia 66 tahun. Meskipun perbendaharaan katanya terbatas, wanita lansia ini memiliki semangat tinggi untuk menjemput hidayah di Masjid At-Taqwa, Ngaliyan.

Oleh karena itu, sang anak perempuan, Diana, dengan penuh kesabaran setia menemani setiap langkah kaki sang ibunda tercinta. Diana memandang tugas mengantarkan orang tua ke majelis ilmu sebagai sebuah kewajiban moral yang sakral. Baginya, melihat binar kebahagiaan di wajah sang ibu saat mengaji adalah sebuah berkah hidup yang tidak ternilai dengan materi.

Perjuangan Menembus Batas Jarak Demi Membahagiakan Hati Ibunda

Namun, perjalanan spiritual menuju lokasi salat Iduladha sebenarnya sempat diwarnai oleh drama keluarga yang membingungkan. Sang anak sempat bimbang untuk memilih lokasi ibadah yang paling nyaman untuk sang ibu. Ia dilematis antara melaksanakan salat Iduladha di MIM Wonosari yang dekat dengan rumah atau menuju Masjid At-Taqwa di area Ngaliyan.

Meskipun demikian, dorongan kuat di dalam hati sang ibu rupanya tetap tertuju pada Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates. Tempat ibadah ini padahal berjarak cukup jauh, sekitar 9,2 kilometer dari rumah mereka.

Selanjutnya, tantangan di lapangan semakin menguji kesabaran mereka saat sampai di lokasi. Mereka baru menyadari bahwa ban mobil yang mereka kendarai bocor. Kendati menghadapi hambatan fisik tersebut, kendala itu tidak melunturkan rasa syukur mereka untuk tetap melaksanakan salat berjemaah.

Pada akhirnya, keteguhan hati ini membuahkan akhir yang manis saat mereka berhasil menembus saf salat. Keberhasilan ini menjadi bentuk nyata bagaimana kesabaran mendukung penuh aktivitas keagamaan orang tua.

Isak Tangis Haru di Barisan Saf Jemaah

Setibanya di rumah, sang ibu langsung meluapkan seluruh isi hatinya dengan penuh antusiasme yang meledak-ledak. Ia merasa sangat beruntung karena anak laki-lakinya yang sebentar lagi dikaruniai momongan juga ikut mendengarkan untaian khutbah penuh hikmah tersebut. Sambil menahan air mata, wanita lansia ini menceritakan kembali pesan suci dari sang khatib.

“Aku mau sampe ngetokke eluh (aku mau sampai mengeluarkan air mata). Berkaca-kaca, terharu mendengarkan khutbah Ustaz Ananto. Khutbahnya sangat berarti untuk kami yang masih terus belajar,” tutur Diana saat menirukan kembali ucapan antusias dari sang ibunda tercinta.

Sementara itu, suasana di halaman Masjid At-Taqwa Ngaliyan memang terasa begitu khusyuk saat khutbah berkumandang. Khotbah yang disampaikan oleh Ustaz Ananto Tri Prasetia tersebut benar-benar menghujam jantung batin para jemaah. Angin pagi yang berembus lembut seolah ikut membawa pesan mendalam kepada semua orang yang hadir.

Sentuhan Khutbah Iduladha Membentuk Kecerdasan Emosional Anak

Dalam materi khutbahnya, Ust. Ananto memberikan contoh nyata tentang pengubahan kalimat instruksi di dalam rumah. “Ketika kita mengganti kalimat ‘Kamu harus belajar sekarang!’ menjadi ‘Bagaimana rencana jadwal belajarmu hari ini agar tugas sekolah bisa selesai sebelum malam?’ ujarnya, Pernyataan ini sangat menekankan pentingnya komunikasi dua arah.

Melalui metode dialog yang tenang inilah, kecerdasan emosional anak yang paripurna dapat terbentuk atas dasar cinta. Kesimpulannya, mendidik anak zaman sekarang membutuhkan keikhlasan orang tua. Penerapan sains otak membuktikan bahwa dialog tenang merupakan metode paling mujarab.

Mendengar uraian yang begitu padat akan ilmu dan hikmah tersebut, mata Ibu Badriyah mulai berkaca-kaca di barisan safnya. Untaian kalimat sang khatib menyentuh relung hatinya begitu dalam hingga air mata meluap di pipinya. Kejadian tersebut menjadi momen haru pada Iduladha yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.

Semangat Menabung Kurban Menjadi Buah Manis Keteguhan Iman

Sebenarnya, ikatan batin Ibu Badriyah dengan masjid ini sudah terbangun kuat sejak beberapa bulan terakhir. Lansia asal Mangkang ini rutin mengikuti agenda senam sehat pada Ahad pertama. Selain itu, Ia juga aktif mengikuti kajian Ahad pagi pada pekan ketiga.

Hasilnya, rutinitas positif ini terbukti mampu menghadirkan kedamaian jiwa yang mendalam bagi masa tuanya. Efek magis dari siraman rohani tersebut bahkan langsung menggerakkan jiwa sosial sang ibu secara nyata.

Dua pekan lalu, setelah mendengar tausiah dari Ustaz H.M. Parwoto dengan tema “Menumbuhkan Jiwa Pengorbanan“, ia langsung memantapkan niat. Sang ibu bertekad kuat untuk mulai menabung demi bisa berkurban. Semangat membara ini menjadi bukti sahih bahwa usia senja bukan halangan untuk mengejar ketakwaan.

Meneladani Sejarah Agung untuk Ruang Bahagia Masa Tua

Sebagai wujud nyata bakti anak pada lansia, Diana berkomitmen untuk selalu mengupayakan ruang bahagia bagi sang ibu. Diana sadar bahwa mendampingi orang tua di masa tua adalah ladang pahala yang harus ia jaga dengan baik. Oleh karena itu, ia akan terus mengawal langkah kaki sang ibu menuju majelis ilmu selama fisik masih memungkinkan.

“Tugas saya niku (itu) mengantarkan atau menemani ibu ngaji kemanapun ibu ingin mengaji. Ini salah satu ikhtiar bakti saya untuk membahagiakan ibu. Karena saya tahu, saat mengaji dan ikut kajian, ibu saya merasa sangat bahagia,” pungkas Diana dengan penuh rasa takzim.

Kontributor: Hasan Pardjoyo
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: