Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bukan Cuma Hafalan Teori, Cara Unik Sekolah Muhammadiyah Ini Tanamkan Kebiasaan Baik Anak Lewat Tiga Ekor Kambing

8 Juni 2026, 13:51 WIB 3 menit baca
Seorang panitia kurban berkaus cokelat corak batik sedang menguliti kambing kurban yang tergantung di pohon di halaman sekolah, disaksikan beberapa relawan dan jemaah wanita berhijab hitam di dekat gedung sekolah dasar berwarna biru-kuning
Panitia dan relawan saat bergotong royong menguliti hewan kurban di lingkungan sekolah SD Muhammadiyah 06 Semarang, Jumat (29/5/2026). Melalui praktik langsung ini, sekolah berupaya memupuk kebiasaan baik anak agar tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, gemar berbagi, dan memiliki kedisiplinan spiritual yang tinggi.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Proses pembentukan karakter mulia pada usia dini sejatinya memerlukan keteladanan nyata dan bukan sekadar hafalan teori di dalam kelas. Namun, tantangan mendidik generasi z pada era digital sekarang menuntut kreativitas yang jauh lebih tinggi dari pihak sekolah. Langkah segar inilah yang terus bergaung dari kompleks pendidikan SD Muhammadiyah 06 Semarang baru-baru ini.

Pihak sekolah sukses memboyong nilai-nilai keikhlasan langsung ke hadapan ratusan peserta didik lewat momentum istimewa. Mereka menggelar praktik penyembelihan tiga ekor kambing kurban pada akhir bulan 29 Mei 2026 kemarin. Agenda edukatif tersebut menjadi ruang luar biasa untuk memupuk kebiasaan baik anak agar gemar berbagi sejak dini.

Para siswa sekolah dasar tampak berkumpul bersama di sekitar area halaman kompleks utama masjid. Suasana seketika berubah menjadi sangat khusyuk saat gema takbir dan tahmid mulai berkumandang dari mulut mereka. Alhasil, para siswa dapat menyaksikan secara langsung bagaimana wujud nyata dari sebuah pengorbanan di jalan Allah.

Pantau Salat Subuh Setiap Pagi

Kepala SD Muhammadiyah 06 Semarang, H. Suharno, S.Pd., menegaskan bahwa esensi berkurban sejatinya adalah masalah ketakwaan hati. Pihak sekolah ingin anak-anak memahami bahwa nilai ibadah tidak bergantung pada seberapa besar nominal harta benda. Oleh karena itu, keterlibatan aktif siswa dalam mendistribusikan daging kurban menjadi poin pengajaran yang paling utama.

“Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa Allah SWT tidak melihat seberapa besar atau banyak hewan kurban yang disembelih, melainkan keikhlasan dan ketakwaan hamba-Nya dalam menjalankan perintah Allah,” ungkap H. Suharno saat memberikan penjelasan hangat.

Menariknya, program penanaman kebiasaan baik anak di sekolah ini ternyata tidak hanya berhenti pada momen kurban saja. Setiap pagi sebelum pelaksanaan salat Duha berjamaah, para guru senantiasa melakukan ritual pengecekan yang sangat unik. Guru-guru akan menanyakan secara teliti mengenai kepatuhan salat Subuh para siswa di rumah masing-masing.

Bagi siswa yang kedapatan melewatkan salat Subuh, para pengajar akan memberikan bimbingan khusus dengan penuh kasih sayang. Guru mendampingi mereka untuk segera menunaikan kewajiban fardu tersebut di lingkungan sekolah sebagai bentuk pembiasaan ibadah. Langkah konsisten ini terbukti ampuh melatih kedisiplinan spiritual anak didik secara mandiri tanpa paksaan kaku.

Membuka Komunikasi Pengasuhan Antara Guru dan Orang

Selanjutnya, atmosfer kebersamaan jemaah semakin terasa erat melalui agenda makan besar bersama pada keesokan harinya. Seluruh elemen sekolah mengolah sebagian daging kurban tersebut menjadi hidangan lezat untuk menu pengajian keluarga besar. Acara yang bertempat di Masjid Mujahidin itu sukses mendatangkan ratusan wali murid dalam suasana penuh kekeluargaan.

Pihak sekolah sengaja menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Syukri, S.Ag., untuk membedah rahasia pola pengasuhan islami yang menyentuh. Dalam tausiyahnya, Ustadz Syukri mengingatkan bahwa teladan terbaik pengasuhan anak bersumber dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Komunikasi yang penuh kelembutan antara ayah dan anak menjadi kunci utama dalam merajut keharmonisan rumah tangga.

“Nabi Ibrahim AS memberikan teladan tentang kepatuhan kepada Allah SWT serta kelembutan dalam berkomunikasi dengan putranya, Nabi Ismail AS. Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa pendidikan karakter dibangun melalui keteladanan, kasih sayang, dan pembiasaan yang baik dalam keluarga,” jelas Ustadz Syukri di mimbar.

Keberhasilan kolaborasi antara sekolah dan keluarga ini sekaligus memicu peningkatan kepercayaan dari masyarakat luas. SD Muhammadiyah 06 Semarang kini terus kebanjiran minat dari para orang tua baru menjelang tahun ajaran teranyar. Komitmen kuat untuk melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia kini resmi berjalan semakin nyata.

Kontributor: Tim Humas SD Muhammadiyah 06
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: