Umat Islam di tanah air sering menyambut momen 1 Muharam dengan membaca doa awal tahun Hijriah dan doa akhir tahun Islam. Namun, bagaimana sebenarnya hukum baca doa awal tahun tersebut menurut syariat? Apakah ini merupakan amalan sunnah tahun baru Islam atau justru masuk kategori bid’ah?
Sejarahnya bermula ketika Khalifah Umar bin Khathab menetapkan awal tahun sistem kalender Hijriah jatuh pada tanggal 1 Muharam. Pada awalnya, penetapan ini murni bertujuan untuk memudahkan administrasi pemerintahan dan tidak memiliki formalitas syariat khusus.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Muslim di tanah air mulai memunculkan tradisi ritual perayaan tahun baru Hijriah. Inti dari tradisi tersebut adalah memanjatkan doa akhir tahun lalu yang dirangkai dengan doa awal tahun Hijriah.
Masyarakat mengenal cukup banyak varian materi doa akhir tahun Islam. Berikut adalah salah satu lafal doa akhir tahun yang sering dibaca:
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Artinya:
“Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang Kau larang sementara aku belum sempat bertobat. Aku juga memohon ampun atas perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu sementara Kau mampu menyiksaku, serta perbuatanku mendurhakai-Mu karena melanggar perintah tobat-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatan yang menjanjikan pahala-Mu. Janganlah Kau membuatku putus asa, Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Selanjutnya, umat Islam juga menyambungnya dengan contoh doa awal tahun Hijriah sebagai berikut:
اَللّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ. وَهَذَاعَامٌ جَدْيُددٌ قَدْ أَقْبَل. أَسسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مَنَ الشْيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وِالْعَوْنَ عَلَى هَذه النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالْاشْتِغَالِ بِمَا يُققَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَصَلَّي اللهُ عَلَي سَيّدِنَا مُحَمّدً وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِه وَسَلَّم
Artinya:
“Ya Allah, Engkaulah yang abadi, dahulu, lagi awal. Hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan kedermawanan-Mu kami memohon perlindungan dalam tahun ini dari godaan setan, kekasih-kekasihnya, dan bala tentaranya. Kami juga memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan. Jadikanlah kami sibuk melakukan amal yang mendekatkan diri kami kepada-Mu, wahai Zat yang memiliki Keagungan dan kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, serta para keluarga dan sahabatnya.”
Hukum Baca Doa Awal Tahun: Sunnah atau Bid’ah?
Secara substansi, menyimak materi doa-doa tersebut merupakan hal yang sepenuhnya baik. Para ulama menilai ritual amalan sunnah tahun baru Islam ini berstatus mubah. Status hukum ini bahkan bisa meningkat menjadi sunnah asalkan pelaksanaannya murni mengajak kepada kebaikan dan bersih dari hal-hal yang membahayakan akidah tauhid.
Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa totalitas ritual tahun baru Hijriah berhukum mubah. Sementara itu, memanjatkan materi doanya bernilai sunnah karena umat Islam sedang melaksanakan perintah Allah untuk senantiasa berdoa.
Namun, hukum baca doa awal tahun Hijriah ini bisa berubah drastis menjadi bid’ah munkarât. Hal ini terjadi jika masyarakat menyertai ritual tersebut dengan klaim sesat, seperti menganggap orang yang menolak ikut ritual bukanlah bagian dari ahlussunnah. Pemaksaan kehendak semacam ini jelas menyimpang jauh dari sunnah Nabi.
Amalan Sunnah Tahun Baru Islam Sesuai Tuntunan Nabi
Nabi Muhammad SAW sebenarnya telah mengajarkan amalan spesifik setiap kali umat memasuki tanggal baru Hijriah, termasuk saat 1 Muharam. Beliau selalu menuntun para sahabat untuk membaca doa pergantian bulan:
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ
Artinya:
“Ya Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah).” (HR Turmuzi: 3373. Hadis ini sahih, hadis-hadis lainnya lemah).
Agar peringatan tahun baru membawa keberkahan sempurna, umat Islam sebaiknya membaca doa tuntunan Nabi tersebut terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita menyambungnya dengan doa akhir dan awal tahun Hijriah.
Jika sekelompok masyarakat tetap memaksakan klaim ahlussunnah untuk doa akhir tahun Islam tanpa mau mendahuluinya dengan sunnah Nabi yang sahih, mereka bisa terindikasi mengubah syariat agama. Perbuatan ini menyimpan ancaman bahaya yang sangat besar di Padang Mahsyar kelak.
Dalam sebuah hadis sahih, Nabi bersabda dengan tegas mengenai hal ini:
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا لَيَرِد عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ قَالَ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا
بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي
Artinya:
“Aku manusia pertama di antara kalian yang menuju telaga. Barang siapa mendatanginya dan minum darinya, ia tak akan haus selamanya. Sungguh beberapa orang menemuiku yang aku mengenal mereka dan mereka mengenalku, tetapi tiba-tiba kami terhalang. Ada suara yang menjawab, ‘Kamu tidak tahu perubahan yang mereka lakukan sepeninggalmu!’ Sehingga aku berkata, ‘Celaka, celaka bagi siapa saja yang mengganti agama sepeninggalku!’” (HR. Bukhari: 6528).
Banyak hadis lain yang memiliki makna serupa. Sebagian menggunakan lafal:
إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي
Artinya:
“Sungguh engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu! ‘ Maka aku berkata; ‘menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku.” (HR Bukhari: 6097).
Sebagai penutup, umat Islam harus menyadari pentingnya mengetahui dasar kesahihan dalam melakukan ibadah ritual. Jangan sampai niat baik ingin menjadi orang saleh melalui ritual doa awal tahun Hijriah justru menjebak kita pada kesesatan yang fatal karena keliru memilih landasan.