Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Menyikapi Mitos Malam 1 Suro dalam Pandangan Islam

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Menyikapi Mitos Malam 1 Suro dalam Pandangan Islam
ILUSTRASI – Memperkuat iman tauhid dan memanjatkan doa memohon keselamatan kepada Allah SWT adalah langkah utama bagi umat Islam dalam menyikapi berbagai mitos malam 1 Suro menjelang tahun baru 1 Muharam.

Senin malam Selasa besok (15/6/2026), masyarakat dan umat Islam di Indonesia akan menyambut pergantian tahun yang bertepatan dengan 1 Muharam 1448 H. Momen pergantian tahun ini kerap memunculkan kembali berbagai cerita rakyat dari mulut ke mulut. Meskipun kita sulit melacak sumber aslinya, mitos malam 1 Suro nyatanya masih kuat memengaruhi pola pikir dan aktivitas sebagian masyarakat kita hari ini.

Dalam literatur filsafat, kita mengenal istilah Demiurge (atau Demi Urgos). Istilah ini merujuk pada entitas yang banyak orang yakini sebagai pencipta atau pembentuk dunia material. Di sisi lain, tradisi Hindu mengenal Dewi Durga sebagai pelindung alam semesta yang juga memiliki sisi mengerikan.

Masyarakat tanah Jawa kemudian mengadaptasi sosok ini ke dalam kearifan lokal. Mereka bahkan menyinkretkan sosok tersebut dengan legenda Ratu Kidul, yang masyarakat yakini sebagai penguasa laut selatan.

Kisah-kisah tersebut berkembang sedemikian rupa di tengah masyarakat hingga melahirkan berbagai mitos malam 1 Suro beserta daftar pantangannya. Masyarakat sering merasa takut jika melanggar larangan tertentu, seperti pantangan menggelar hajatan, keluar rumah, pindah atau membangun rumah, serta keharusan menjaga tutur kata. Banyak orang meyakini ritual tapa bisu atau memberikan sesaji sebagai jalan keselamatan untuk menolak bala.

Meluruskan Aqidah Melalui Cahaya Tauhid

Sebagai umat Islam, kita perlu melihat fenomena ini dari kacamata iman. Kiai Haji Ahmad Dahlan memberikan pemahaman penting mengenai kemurnian tauhid. Beliau menjelaskan bahwa pelindung sejati manusia hanyalah Allah SWT. Keyakinan ini tidak berarti kita harus memusuhi tradisi. Sebaliknya, hal ini memberikan perspektif baru agar kita tetap menambatkan hati hanya kepada Sang Pencipta.

Islam mengajarkan bahwa shalat merupakan bentuk penyembahan yang paling hakiki. Secara etimologis, kata “sembahyang” berasal dari “sembah” dan “Hyang”. Dalam konteks Islam, Hyang merujuk kepada Allah, satu-satunya Tuhan yang wajib manusia sembah.

Dengan memahami hakikat ini, kita menyadari bahwa setiap waktu adalah milik Allah. Tidak ada hari sial atau waktu yang membawa petaka bagi mereka yang beramal saleh. Akar iman tauhid bersumber langsung dari Kalamullah. Surat Al-Ikhlas memuat salah satu landasan utamanya.

Tauhid menuntun kita untuk memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: Ud’ûni astajib lakum (Mohonlah kamu kepada-Ku. Pasti Aku ijabahi doamu).

Doa Keselamatan dan Sikap Ahli Tauhid

Sebagai hamba yang bertauhid, kita sepatutnya selalu memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Allah. Rasulullah mencontohkan salah satu doa untuk memohon perlindungan dan keberkahan sebagai berikut:

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

(Ya Allah, kami mohon kepada-Mu keselamatan agama, kesehatan tubuh, pertambahan ilmu, keberkahan rezeki, penerimaan tobat sebelum mati, kasih sayang ketika mati, dan ampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, kelepasan dari neraka, dan kemaafan ketika hisab).

Menjadi seorang muwahhidun (ahli tauhid) berarti berani menanggalkan berbagai mitos malam 1 Suro yang irasional dan bertentangan dengan ruh keislaman. Di alam Pancasila ini, kita memang hidup berdampingan dengan berbagai kepercayaan. Namun, bagi seorang Muslim, menjaga kemurnian iman adalah prioritas utama. Kita tetap menghormati lingkungan sekitar, tetapi kita harus selalu menjaga hati dan pikiran agar hanya bergantung kepada Allah SWT.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: