Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Patahkan Mitos Angka 13, Muhammadiyah Tegakkan Tauhid Lewat Menara Medis Megah

21 Mei 2026, 11:22 WIB 3 menit baca
Foto Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir (tengah) sedang berbincang akrab dengan Ketua PWM Jawa Tengah KH Tafsir (kiri) dan seorang pimpinan wanita berhijab abu-abu (kanan) di sofa utama acara peresmian Ibrahim Tower RS Roemani Semarang. Foto ini mendukung narasi berita tentang keberanian Muhammadiyah dalam meruntuhkan mitos angka 13 melalui pembangunan menara medis setinggi 13 lantai.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir (tengah), dan Ketua PWM Jawa Tengah, KH Tafsir (kiri), tampak berbincang hangat di sela-sela acara peresmian Ibrahim Tower RS Roemani Muhammadiyah Semarang, Rabu (20/5/2026). Melalui pembangunan menara medis 13 lantai ini, Muhammadiyah secara simbolis mendobrak mitos angka 13 yang selama ini lekat dengan takhayul, sekaligus menegaskan kekuatan tauhid dan kemajuan sains di tengah masyarakat.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Angka 13 selama ini akrab dengan stigma mistis, kesialan, hingga ketakutan yang tidak beralasan di tengah masyarakat. Banyak pihak bahkan sengaja menghilangkan angka tersebut dalam penomoran lantai gedung-gedung tinggi. Namun, Muhammadiyah justru mengambil langkah berani yang melawan arus mainstream dengan meresmikan Ibrahim Tower, sebuah menara medis setinggi 13 lantai.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, bersama Ketua PWM Jawa Tengah, KH Tafsir, membuka langsung gedung baru milik RS Roemani Muhammadiyah ini pada Rabu (20/5/2026). Prosesi pemotongan pita bunga melati ronce menjadi simbolisasi penting. Momen tersebut menandai runtuhnya mitos angka 13 sekaligus menegaskan lompatan besar modernisasi layanan kesehatan di Kota Semarang.

Usai prosesi sakral tersebut, rombongan besar langsung melangkah masuk untuk meninjau fasilitas pelayanan dari lantai ke lantai. Mereka memeriksa kesiapan setiap ruangan dengan saksama hingga mencapai lantai 12. Sementara itu, lantai 13 sengaja mengusung desain bangunan lapang terbuka yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian.

Langkah berani ini langsung memantik rasa kagum dari Haedar Nashir yang melihat langsung inovasi arsitektur vertikal tersebut. Sempitnya lahan di pusat kota tidak menjadi alasan bagi Muhammadiyah untuk berhenti memikirkan derajat kesehatan umat. Keterbatasan itu justru melahirkan terobosan pembangunan gedung tinggi yang efisien dan modern.

“Keterbatasan lahan ternyata tidak membuat berhenti berkembang. Ini bukti inovasi Muhammadiyah dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan modern,” ujar Haedar Nashir penuh apresiasi.

Hancurkan Takhayul Lewat Arsitektur

Ketua PWM Jawa Tengah, KH Tafsir, secara blak-blakan menegaskan bahwa pemilihan jumlah 13 lantai ini memiliki pesan ideologis yang kuat. Muhammadiyah sengaja memilih angka tersebut untuk menghancurkan cara pandang mistis yang masih membelenggu sebagian masyarakat. Bagi organisasi ini, memelihara ketakutan pada angka adalah bentuk pengikisan terhadap nilai tauhid.

Tafsir menceritakan awal mula ide pembangunan vertikal ini muncul karena RS Roemani tidak memiliki lahan horizontal yang luas. Maka, satu-satunya jalan keluar adalah membangun menara ke atas langit. Keputusan menggenapkan bangunan hingga 13 lantai menjadi momentum paling pas untuk mengedukasi masyarakat bahwa semua angka adalah ciptaan Tuhan yang baik.

Bagi Muhammadiyah, tauhid merupakan pondasi keimanan yang sangat kokoh dan tidak memberikan ruang sedikit pun bagi takhayul. Menara berlantai 13 ini menjadi proklamasi nyata bahwa iman dan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan. Menariknya, pemimpin wilayah ini juga menyelipkan sebuah pesan filosofis yang sangat menyentuh hati di balik menjulangnya gedung baru tersebut.

“Gedung boleh tinggi, tapi hati tetap rendah. Muhammadiyah ingin memecah mitos angka 13 sebagai angka mistis. Bagi Muhammadiyah, tauhid adalah pondasi yang sangat kuat, maka tidak ada tempat bagi mitos,” tegas KH Tafsir kepada wartawan.

Melompat Jauh di Tengah Keterbatasan

Berdirinya Ibrahim Tower pada akhirnya bukan sekadar tentang pembangunan fisik sebuah rumah sakit. Menara pelayanan medis ini menjadi penegasan bahwa Muhammadiyah mampu melompat jauh melewati batas keterbatasan lewat inovasi dan keberanian berpikir modern. Fasilitas ini kini siap melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang kasta atau golongan.

Dari jantung Kota Semarang, organisasi berlambang matahari ini menunjukkan kepada publik mengenai esensi kemajuan yang sesungguhnya. Peradaban yang maju tidak tegak berdiri di atas mitos atau cerita burung, melainkan melalui penguasaan ilmu, penguatan tauhid, dan kerja nyata. Gedung 13 lantai ini menjadi simbol perlawanan terhadap kejumudan berpikir.

Kini, wajah baru RS Roemani siap beroperasi penuh untuk memberikan senyuman dan kesembuhan bagi para pasien. Kehadiran menara medis ini berhasil membuktikan bahwa angka 13 tidak membawa kesialan, melainkan membawa keberkahan dan manfaat luas bagi masyarakat luas. Solidaritas sosial dan kemandirian umat pun kini semakin kokoh menjulang tinggi bersama megahnya Ibrahim Tower.

“Dari jantung Kota Semarang, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kemajuan tidak dibangun dengan mitos, melainkan dengan ilmu, tauhid, dan kerja nyata,” pungkas jajaran pimpinan optimis.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: