Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 5 menit baca

Bagaimana Muhammadiyah Menyambut 1 Muharam?

Drs. H. Nurbini, MSI

Dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo, Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Bagaimana Muhammadiyah Menyambut 1 Muharam?
ILUSTRASI KAJIAN MUHARAM – Suasana pengajian dan muhasabah diri sebagai salah satu amalan bulan Muharam yang dianjurkan. Momentum 1 Muharam menurut Muhammadiyah dimaknai sebagai titik tolak hijrah spiritual dan peningkatan ilmu, bukan sekadar perayaan seremonial pergantian Tahun Baru Hijriah. (Ilustrasi/AI)

Persyarikatan memiliki cara pandang khusus saat menyambut 1 Muharam Muhammadiyah atau tahun baru hijriah. Momen ini dipandang bukanlah hari raya dalam pengertian syariat seperti Idulfitri dan Iduladha. Oleh karena itu, warga persyarikatan tidak menggelar ritual-ritual khusus yang tidak memiliki dasar kukuh dari Al-Qur’an dan sunnah. Sebaliknya, Muhammadiyah memandang tahun baru hijriah sebagai momentum dakwah, muhasabah (introspeksi), hijrah, serta pembaruan diri secara konsisten.

Persyarikatan memegang teguh prinsip bahwa ibadah wajib memiliki dalil yang jelas. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah memberikan tuntunan khusus untuk merayakan malam 1 Muharam dengan ritual tertentu. Warga persyarikatan tidak perlu melaksanakan shalat khusus tahun baru, puasa khusus malam tahun baru, zikir berjamaah dengan tata cara tertentu, atau perayaan seremonial lainnya yang mengklaim sebagai bagian dari syariat.

Namun, umat Islam dapat memanfaatkan pergantian tahun hijriah ini sebagai sarana untuk mengingat kembali peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ. Peristiwa sejarah tersebut menjadi titik balik perjuangan dakwah Islam di muka bumi. Allah SWT mengabadikan kisah mulia tersebut dalam Al-Qur’an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini menunjukkan kemuliaan nilai hijrah secara gamblang. Esensi hijrah mengajarkan umat untuk berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik demi meraih ridha Allah.

Ragam Aktivitas Positif dalam 1 Muharam Muhammadiyah

Bagaimana warga persyarikatan mengisi momentum penting 1 Muharam Muhammadiyah ini?

Pertama, umat harus mengutamakan muhasabah dan evaluasi diri. Pergantian tahun membuka kesempatan emas untuk menilai kualitas iman, ibadah, akhlak, dan amal personal.

Umar bin Al-Khaththab r.a. pernah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian menghadapi hari hisab.” Atas dasar itu, warga perlu memperbanyak introspeksi tentang capaian setahun lalu, dosa yang harus mereka tinggalkan, serta amal yang harus mereka tingkatkan.

Kedua, umat harus memaknai hijrah secara spiritual dan sosial. Hijrah tidak hanya bermakna pindah tempat, melainkan berproses dari kemalasan menuju kesungguhan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, serta dari kebodohan menuju ilmu.

Rasulullah ﷺ bersabda: وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

Ketiga, pengurus di berbagai tingkatan biasanya menyambut malam 1 Muharam Muhammadiyah dengan kegiatan pengajian dan dakwah. Mereka menyelenggarakan pengajian tahun baru hijriah, tabligh akbar, atau kajian sejarah perjuangan Nabi ﷺ. Langkah nyata ini menyokong misi utama organisasi sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi munkar.

Optimalisasi Amal Saleh dan Puasa Sunnah

Keempat, warga mengintensifkan amal saleh karena bulan Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram yang Allah muliakan. Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam surat At-Taubah ayat 36: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan … di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Oleh karena itu, warga Muhammadiyah dianjurkan memperbanyak salat sunnah, tilawah Al-Qur’an, sedekah, puasa sunnah dan lainnya.

Kelima, Muhammadiyah sangat menganjurkan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam. Rasulullah ﷺ bersabda: صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Hal yang Perlu Dihindari

Melalui panduan manhaj tarjih, warga Muhammadiyah wajib menghindari keyakinan atau ritual yang tidak memiliki dasar syariat. Warga harus menjauhi salat khusus malam tahun baru, doa akhir dan awal tahun yang mengklaim keutamaan tanpa dalil sahih, ritual tolak bala, serta keyakinan mistis seputar bulan Muharam.

Bagi Muhammadiyah, 1 Muharam bukan sekadar pergantian angka tahun, tetapi momentum untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih bertakwa, lebih berilmu, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah. Semangat yang dibangun bukanlah kemeriahan seremonial, melainkan muhasabah, pembaruan diri, dan penguatan gerakan dakwah serta amal saleh.

Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Inilah semangat tahun baru hijriah atau 1 Muharam Muhammadiyah yang sejalan dengan manhaj. Yakni hijrah menuju pribadi berkemajuan dan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: