Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Milad Aisyiyah ke-109: Mengapa Dakwah Aisyiyah Harus Mulai dari RT?

21 Juni 2026, 21:29 WIB 3 menit baca
Ketua PDM Kota Semarang KH Fachrur Rozi memberikan sambutan menggunakan mikrofon dalam acara Milad Aisyiyah ke-109 di Unimus.
Ketua PDM Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag, saat menyampaikan otokritik dan arahan strategis di sela-sela resepsi Milad Aisyiyah ke-109 di Gedung Serba Guna Unimus, Sabtu (20/6/2026). (Foto: Dok. muhammadiyahsemarangkota.org)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org Momentum bersejarah Milad Aisyiyah ke-109 kini menjadi alarm pengingat bagi gerakan perempuan Muhammadiyah. Mereka harus segera kembali ke akar rumput. Sadar bahwa forum Kajian Sabtu Pertama tidak boleh mandek di tingkat kota, kini ibu-ibu tangguh di Semarang bersiap memimpin kembali pengajian di tingkat RW. Langkah ini menjadi strategi utama agar syiar Islam berkemajuan dapat menyentuh masyarakat secara langsung.

Langkah kaki ratusan perempuan berkebaya batik hijau khas ‘Aisyiyah bergemuruh pelan memenuhi Gedung Serba Guna Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Riuh rendah tawa dan sapaan hangat mengusir sepi gedung pada Sabtu (20/6/2026) siang itu. Mereka berkumpul dengan penuh takzim untuk memperingati Milad Aisyiyah ke-109. Oleh karena itu, perayaan ini menjadi ruang refleksi batin yang mendalam bagi seluruh kader, bukan sekadar panggung seremonial tahunan.

Otokritik Jujur dari Sang Ketua

Di tengah gemerlap aset megah berupa sekolah dan rumah sakit, ternyata terselip sebuah kegelisahan komunal yang jujur. Ketua PDM Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag, duduk di sela-sela acara dengan pandangan mata yang menerawang jauh. Ia tidak menampik sebuah fakta penting. Faktanya, ada ruang-ruang sunyi di akar rumput yang perlahan mulai kehilangan sentuhan hangat organisasi.

“Resepsi milad ini salah satu tujuannya untuk menumbuhkan ghirah ber-‘Aisyiyah di akar rumput. Ketika para penggerak ranting berkumpul, mereka akan memiliki kebanggaan dan kekuatan psikologis. Mereka menyadari bahwa teman seperjuangannya banyak, bahkan banyak yang memiliki kemampuan luar biasa. Dari sinilah semangat untuk menghidupkan ranting akan tumbuh kembali,” ungkap Fachrur Rozi dengan penuh penekanan.

Namun, ia secara terbuka menilai bahwa kiprah organisasi di bidang tabligh masih memerlukan penguatan besar. Dominasi kelompok lain di pengajian tingkat terbawah menjadi tantangan nyata saat ini. Masalah tersebut harus segera selesai secara taktis.

“Faktanya, pengajian di tingkat kelurahan, RW, bahkan RT masih banyak didominasi saudara-saudara kita yang lain. Kita sering kali masih bergabung, belum menjadi motor penggerak utama,” kata ia secara blak-blakan.

Menghidupkan Kembali Majelis Taklim Kelurahan

Ketulusan untuk mengakui kekurangan tersebut akhirnya menjadi titik balik yang sangat krusial dalam momentum Milad Aisyiyah ke-109 ini. Oleh sebab itu, ibu-ibu tangguh kini tertantang untuk kembali mengetuk pintu rumah tetangga. Mereka harus meninggalkan sejenak kesibukan mengelola lembaga pendidikan formal. Transformasi ini membutuhkan energi baru agar warna gerakan mereka semakin tampak kuat di lapisan masyarakat terbawah.

“Kalau di bidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan, orang mengakui kehadiran ‘Aisyiyah. Tetapi di wilayah tabligh, ini masih harus terus ditingkatkan,” ujarnya saat merefleksikan posisi organisasi.

Guna menjawab tantangan besar tersebut, sebuah ikhtiar terstruktur kini mulai berdenyut melalui forum Kajian Sabtu Pertama. Pertemuan bulanan ini didesain bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya para pimpinan untuk bertukar pikiran. Lebih dari itu, forum tersebut harus menjadi mata rantai perjuangan yang panjang hingga ke tingkat ranting.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada KSP. Harapannya, nilai-nilai yang dikaji di tingkat kota itu dibawa turun oleh para peserta ke tingkat bawah. Mereka yang hadir itulah yang nantinya menjadi penggerak di kampung-kampung,” jelas ia memaparkan strategi pergerakan.

Kembali ke Denyut Nadi Perjuangan Umat

Melalui strategi estafet ilmu ini, setiap kader yang pulang membawa misi suci ke rumah masing-masing. Mereka akan bergerak aktif untuk menghidupkan kembali majelis taklim kelurahan secara konsisten. Dampaknya, keberadaan ranting akan kembali menjadi fondasi utama organisasi. Bagian bawah inilah yang menentukan hidup matinya marwah gerakan di mata umat.

Pada akhirnya, perayaan Milad Aisyiyah ke-109 menjadi pengingat yang menyengat batin seluruh pengurus. Keberhasilan amal usaha bernilai miliaran rupiah akan terasa hambar jika lentera mengaji di teras warga justru padam. Oleh karena itu, gerakan dakwah kini harus benar-benar hadir dan memimpin di gang-gang sempit kelurahan. Sebab, di sanalah sesungguhnya denyut nadi perjuangan umat yang paling murni berada agar organisasi tidak asing di kampung sendiri.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: