Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tanpa Mimbar, Cara Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah Rangkul Tokoh Lintas Agama di Semarang

27 Juni 2026, 12:40 WIB 3 menit baca
Instruktur MDMC Kota Semarang memberi pelatihan mitigasi bencana kepada peserta Katana di Balai Kelurahan Mlatibaru

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org Dakwah ternyata tidak selalu membutuhkan mimbar yang megah atau untaian ceramah keagamaan. Melalui aksi kemanusiaan nyata, kiprah LRB PDM Kota Semarang justru memperlihatkan bagaimana perbedaan keyakinan bisa melebur dengan indah. Sebanyak 28 tokoh masyarakat lintas agama sengaja berkumpul di satu ruangan untuk belajar menjaga sesama.

Kegiatan intensif ini berlangsung dari Kamis (18/6/2026) hingga Rabu (24/6/2026) di Balai Kelurahan Mlatibaru, Jalan Mlatiharjo Raya. Selama satu pekan penuh, gedung pelayanan masyarakat tersebut berubah fungsi menjadi ruang belajar darurat. Seluruh peserta hadir bukan untuk memperdebatkan faksi sosial, melainkan berlatih melakukan mitigasi kebencanaan.

Pemerintah melalui BPBD Kota Semarang sengaja menunjuk Muhammadiyah Disaster Management Center Pimpinan Wilayah Jateng sebagai fasilitator utama pelatihan. Langkah strategis Kepala Pelaksana Drs. Endro Pudyo Martanto, M.Si., ini menjadi bukti nyata pengakuan atas profesionalisme lembaga tersebut. Komitmen LRB PDM Kota Semarang dalam melayani masyarakat tanpa batas sosiologis memang sudah membuktikan konsistensinya melintasi waktu.

Menjahit Harmoni dalam Rompi Kemanusiaan

Pendekatan humanis para instruktur memperlihatkan cara inklusif LRB PDM Kota Semarang, atau yang akrab dikenal sebagai MDMC, saat merangkul tokoh lintas kelompok. Mereka membimbing warga Nahdlatul Ulama, jamaah Muhammadiyah, umat Kristiani, hingga keturunan Tionghoa dengan tingkat kesabaran setara. Tim fasilitator sama sekali tidak pernah menanyakan apa agama peserta maupun organisasi yang mereka ikuti..

Praktik lapangan ini seketika memunculkan potret kerukunan antarumat beragama Semarang secara konkret dan tanpa rekayasa. Semua orang berbaur dengan akrab saat mengenakan rompi relawan berwarna cerah yang menanggalkan status sosial. Melalui program Pelatihan Katana ini, publik menyaksikan langsung model dakwah bil hal atau dakwah lewat perbuatan nyata.

Hukum Alam yang Memaksa Manusia Setara

Saat memasuki sesi keterampilan medis, metode pengajaran kembali menanamkan nilai-nilai kesetaraan universal. Fathul Faruq, salah satu instruktur senior, memecah kecanggungan kelas lewat pemaparan logika darurat yang sangat menampar kesadaran. Ia menegaskan bahwa kesiapan mandiri mutlak menjadi penentu keselamatan warga pada menit-menit awal bencana.

“Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui apa itu bencana. Tapi harus mampu bertindak ketika bencana benar-benar terjadi. Karena pada menit-menit pertama saat musibah datang, sering kali keselamatan warga ditentukan oleh kesiapan warga itu sendiri,” tegas Fathul.

Penjelasan Fathul tersebut spontan mengunci perhatian seluruh peserta di dalam Balai Kelurahan Mlatibaru. Logika itu menyadarkan semua orang bahwa air bah maupun gempa bumi tidak pernah memilih korban berdasarkan KTP. Oleh sebab itu, gerakan penyelamatan darurat pun sudah sewajarnya berjalan bersih dari sekat golongan.

Menghadirkan Manfaat Tanpa Mengincar Pujian

Kini, Balai Kelurahan Mlatibaru resmi melahirkan kader-kader tangguh hasil didikan LRB PDM Kota Semarang yang siap mengabdi. Para tokoh setempat akhirnya menyadari bahwa riuh pemberitaan media bukanlah alat ukur kesuksesan seorang relawan. Keberhasilan hakiki justru terwujud ketika korban musibah bisa kembali tersenyum dan melanjutkan kehidupan dengan normal.

Mungkin kelak para peserta akan melupakan sebagian teori teknis yang mereka catat di buku pelatihan. Namun, keteladanan nyata dari para fasilitator kemanusiaan tersebut akan selalu membekas kuat di dalam ingatan. Selama ketulusan menolong tanpa menjawab tanya ini terus hidup, masyarakat akan selalu menemukan alasan untuk saling percaya.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: