Solusi Atasi Stres Kerja, Kajian Ini Ajarkan Cara Kelola Emosi dan Hati
Semarang, muhammadiyahsemarangkota — Keberhasilan sebuah institusi layanan kesehatan tidak hanya bersandar pada kecanggihan teknologi medis dan kecerdasan intelektual karyawannya semata. Sisi krusial yang sering kali luput dari perhatian adalah kematangan emosional para tenaga medis dalam menghadapi tekanan emosi pasien sehari-hari. Realitas emosional inilah yang memicu lahirnya diskusi hangat dalam kajian dan doa pagi di Rumah Sakit (RS) Roemani Muhammadiyah Semarang, Jumat (3/7/2026).
Dr. Aang Kunaepi, M.Ag hadir langsung menuntun jalannya siraman rohani yang menyejukkan batin tersebut. Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang sekaligus Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang ini memadukan konsep psikologi barat dengan teologi Islam. Langkah tersebut bertujuan memberikan formula konkret agar para pegawai mampu mengelola stres kerja sekaligus meraih ketenangan jiwa yang hakiki.
Sang doktor mengutip pandangan Daniel Goleman mengenai pentingnya mengendalikan dorongan hati demi membangun hubungan sosial yang sehat. Namun, akademisi ini menyempurnakan teori barat tersebut dengan menyodorkan lembaran Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 112 sebagai obat penawar gelisah. Seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada pencipta dan konsisten berbuat baik akan otomatis kehilangan rasa takut terhadap masa depan.
Sinergi Hati dan Pikiran
Memasuki inti kajian, pembicara membeberkan lima komponen utama kecerdasan emosional yang wajib melekat pada diri setiap pelayan umat. Kelima pilar tersebut meliputi kesadaran diri, pengelolaan diri, motivasi internal, empati yang tulus, serta keterampilan sosial yang luwes. Sinergi kelima aspek ini akan menuntun setiap individu untuk mahir menahan amarah, menjaga lisan, serta mengikis sifat egois.
Kematangan emosi ini nantinya harus mewujud nyata dalam bentuk kontribusi profesional pada fasilitas kesehatan tempat mereka mengabdi. Ketika kecerdasan emosional berpadu dengan kekuatan spiritual, motivasi kerja pegawai akan bergeser dari sekadar berburu pujian manusia menuju pencarian rida ilahi. Melalui cara pandang ini, setiap senyuman dan bantuan medis kepada pasien akan bernilai pahala yang melimpah.
“Serahkanlah dirimus kepada Allah, berbuatlah ihsan dalam setiap langkah, maka hidupmu akan dipenuhi ketenangan, tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan,” ujar Dr. Aang Kunaepi saat membacakan intisari teologis di hadapan jamaah.
Sembilan Pilar Utama
Lebih dalam lagi, kajian spiritual ini menyoroti urgensi penegasan etos kerja Muhammadiyah di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pegawai rumah sakit wajib memandang profesi mereka sebagai ruang pembuktian keimanan, bukan sekadar tempat mengais nafkah bulanan. Kesadaran tauhid yang kokoh otomatis melahirkan sistem pengawasan mandiri karena merasa Tuhan selalu memantau setiap tindakan.
Budaya amanah dan profesionalisme mutlak menjadi identitas utama yang membedakan kader persyarikatan dengan pekerja umum. Pihak penceramah juga mendesak pentingnya merawat ukhuwah dan kerja sama tim demi menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Menutup kajian pagi yang khidmat tersebut, sang ustadz meminta seluruh elemen rumah sakit untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Layani dengan hati, bekerja dengan ihsan, agar setiap langkah menjadi ibadah dan membawa keberkahan,” pungkas Ketua Majelis Tabligh tersebut penuh optimisme.