Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kagumi Ketelitiannya, Haedar Nashir Kenang Sosok Prof Siti Chamamah​

9 Juli 2026, 18:37 WIB 3 menit baca
Ribuan warga Muhammadiyah memadati Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta saat pelepasan jenazah dalam profil Prof Siti Chamamah Soeratno.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat memberikan sambutan pelepasan jenazah almarhumah Prof. Siti Chamamah Soeratno di hadapan ribuan pelayat yang memadati Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). (Foto: Muhammadiyah.or.id)

​YOGYAKARTA, muhammadiyahsemarangkota.orgSuasana ujian disertasi di Universitas Gadjah Mada (UGM) selalu berubah hangat di tangan Profesor Siti Chamamah Soeratno. Ketajaman berpikir sang pakar filologi ini meninggalkan kesan mendalam bagi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Melalui momentum duka ini, publik kembali menyoroti profil Prof Siti Chamamah Soeratno sebagai tokoh perempuan yang membawa gagasan melampaui zaman.​

Sebagaimana dilansir dari laman resmi Muhammadiyah.or.id, ribuan warga memadati Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta pada Rabu (8/7) untuk mengantarkan kepergian mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah tersebut.

Setelah prosesi salat jenazah selesai, masyarakat beriringan mengantar almarhumah menuju tempat peristirahatan terakhir di Makam Karangkajen. Momentum emosional ini menjadi saksi betapa besarnya rasa kehilangan dunia pendidikan Indonesia atas kepulangan sang profesor.

​Rekor Dua Dekade Menakhodai Nasyiatul ‘Aisyiyah

Jejak emas almarhumah dalam melahirkan generasi perempuan Islam modern bermula dari ketekunannya di organisasi kepemudaan. Sejarah pergerakan mencatat ia dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah selama dua dekade, tepatnya sejak tahun 1965 hingga 1985. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai tokoh perempuan Muhammadiyah yang memiliki ketahanan kepemimpinan luar biasa.

Selanjutnya, ia naik ke tampuk kepemimpinan tertinggi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah selama dua periode berturut-turut pada tahun 2000–2010. Di bawah kendalinya, organisasi wanita Muslim ini menjelma menjadi gerakan yang sangat aktif di sektor kesehatan dan pemberdayaan sosial.

​Haedar Nashir memberikan kesaksian langsung mengenai keteladanan nyata ini. Menurut Haedar, sosok akademisi sejati tersebut tidak pernah mengenal lelah dalam mengurus umat.

​“Kalau orang memberi amanah beliau selalu suka mencatat,” ujar Haedar Nashir saat memberikan sambutan pelepasan jenazah.

Penguji Disertasi UGM yang Hangat Namun Kritis

Selain lincah di organisasi, ia merupakan seorang pakar filologi dan sastra Melayu yang sangat disegani. Karier akademiknya mencapai puncak tertinggi saat ia mengukuhkan diri sebagai Guru Besar di UGM.

​Keahlian filologinya melahirkan berbagai karya ilmiah berbobot yang menjadi rujukan utama kebudayaan Indonesia. Haedar Nashir mengagumi atmosfer akademik yang selalu diciptakan almarhumah saat menguji mahasiswa.

​“Ia adalah sosok yang sangat mencintai ilmu, suka berdiskusi, bahkan pandai berdebat dalam hal keilmuan. Keahlian akademisnya diakui secara luas, sangat teliti,” tutur Haedar.
​Berdasarkan pengalaman tersebut, Haedar menceritakan bagaimana hangatnya situasi ujian tatkala mereka menguji disertasi bersama. Meskipun suasananya cair, almarhumah tetap mempertahankan ketajaman masukan yang sangat kritis.

​Warisan Pemikiran Perempuan yang Melampaui Zaman

​Sifat bersahaja dan kebanggaan almarhumah terhadap gerakan perempuan Islam terus menggema hingga akhir hayatnya. Sejak awal, ia selalu meyakini bahwa gagasan dari rahim persyarikatan memiliki dampak nyata bagi masyarakat luas. Kesetiaan pada nilai-nilai kemajuan ini yang kemudian diadopsi oleh sejarah Aisyiyah modern.

​Haedar kemudian mengenang kembali ucapan otentik yang sering dilontarkan oleh sang guru bangsa semasa hidupnya. Perkataan tersebut terus membekas bagi kader-kader penerus.

​“Ia juga selalu mengatakan Muhammadiyah itu hebat, ‘Aisyiyah itu hebat karena pemikirannya yang maju melampaui zamannya, dan amaliahnya yang dirasakan langsung,” kenang Haedar.

​Kini, pengabdian panjang sang profesor telah usai. Meskipun raga ia telah menyatu dengan tanah Karangkajen, namun warisan intelektualnya akan tetap hidup menginspirasi Indonesia.

Bagikan: