Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 7 menit baca

Syiah Kuala dan Islam di Aceh

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Syiah Kuala dan Islam di Aceh
Fungsionaris ICMI Orwil Jawa Tengah, Gunoto Saparie. Penanaman nilai-nilai Kemuhammadiyahan di ekosistem sekolah menjadi pondasi utama dalam keberhasilan Pendidikan Muhammadiyah masa kini.

Ada yang ganjil dari sebuah pertemuan penyair. Orang datang membawa kata-kata, tetapi justru pulang dengan lebih banyak diam. Barangkali karena puisi, pada akhirnya, selalu menemukan rumahnya bukan di panggung, melainkan pada saat seseorang berhadapan dengan waktu.

Begitulah yang saya rasakan di sela-sela kegiatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh beberapa waktu lalu.

Agenda resmi berlangsung sebagaimana mestinya: seminar yang mempertemukan gagasan, pembacaan puisi yang menyuarakan pengalaman manusia dari berbagai negeri serumpun, musikalisasi puisi yang memberi irama pada kata, dan pameran poster puisi yang membuat bahasa menemukan tubuh visualnya.

Tetapi di luar ruang-ruang itu, panitia mengajak para peserta mengunjungi beberapa situs bersejarah yang menjadi daya tarik wisata religi Islam di Aceh. Salah satunya adalah Makam Syiah Kuala di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Perjalanan itu, tanpa diduga, menjadi bagian paling sunyi dari seluruh rangkaian pertemuan.

Di hadapan sebuah makam, orang kehilangan kebiasaan untuk berdebat. Sejarah tidak lagi tampil sebagai kumpulan angka, melainkan sebagai kehadiran yang nyaris dapat disentuh. Batu nisan tidak pernah berbicara. Namun, justru karena diam itulah ia menyimpan lebih banyak makna daripada pidato yang paling panjang.

Kompleks Makam Syiah Kuala tidak menampilkan kemegahan yang mencolok. Ia sederhana, teduh, bersih, dan dipenuhi orang-orang yang datang dengan niat masing-masing. Ada rombongan pengajian, keluarga yang membawa anak-anak, peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan tamu dari Malaysia, Turki, dan Thailand. Mereka datang bukan semata-mata untuk melihat sebuah situs sejarah Islam di Aceh. Mereka datang untuk mengingat.

Mengingat adalah pekerjaan yang semakin sulit pada zaman yang mengagungkan kecepatan.

Nama ulama besar yang dimakamkan di sana ialah Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Singkili, yang lebih dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala atau Syekh Abdurrauf As-Singkili.

Dalam sejarah Islam di Aceh, ia bukan sekadar seorang ulama. Ia adalah simpul yang menghubungkan ilmu, kekuasaan, dan masyarakat.

Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, ia dipercaya menjadi Qadhi Malikul ‘Adil di bawah pemerintahan Sultanah Safiatuddin Syah. Jabatan itu bukan sekadar kedudukan administratif, melainkan amanah untuk menjaga hukum, etika, dan keseimbangan kehidupan kerajaan.

Namun kekuasaan, sebagaimana sering dibuktikan oleh sejarah, tidak pernah menjadi warisan yang paling panjang. Yang bertahan justru ilmu.

Syekh Abdurrauf As-Singkili memilih jalan yang tidak selalu terlihat. Ia mengajar. Ia menulis. Dan ia pun membimbing murid-murid. Ia membangun tradisi keilmuan yang melampaui zamannya.

Murid-muridnya kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Nama Syekh Burhanuddin di Ulakan, Sumatra Barat, maupun Syekh Yusuf al-Makassari, menjadi bagian dari mata rantai panjang penyebaran Islam yang bertumpu pada ilmu, bukan pada penaklukan.

Maka, perkembangan Islam di Nusantara sesungguhnya tidak hanya bergerak melalui kapal-kapal dagang yang berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Islam juga bergerak melalui guru yang mengajar di surau, melalui kitab yang disalin dengan tangan, serta melalui perjalanan murid yang kembali ke kampung halaman dengan membawa pengetahuan.

Barangkali itulah sebabnya Aceh dijuluki sebagai Serambi Mekah. Julukan itu bukan semata-mata karena letaknya di ujung barat Nusantara atau karena menjadi tempat pertama yang menerima pengaruh Islam sejak abad ke-7. Julukan tersebut lahir karena Aceh pernah menjadi ruang tempat ilmu bertumbuh.

Di sana berdiri Kesultanan Peureulak, kemudian Samudera Pasai, lalu Aceh Darussalam yang mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Iskandar Muda. Dari pelabuhan-pelabuhan Aceh, perdagangan berlangsung; dari dayah-dayahnya, pengetahuan mengalir.

Dalam arus besar itulah Syiah Kuala hadir. Ia tidak memulai sejarah Islam di Aceh. Ia datang ketika pohon itu telah tumbuh. Akan tetapi, ia merawat akarnya agar tidak lapuk oleh zaman.

Ada perbedaan antara membangun dan memelihara. Yang pertama sering memperoleh kemasyhuran. Yang kedua justru membutuhkan kesabaran yang lebih panjang.

Sebagai penyair, saya merasa tempat wisata religi ini menghadapkan kami pada sebuah pertanyaan yang sederhana: apa sebenarnya yang bertahan dari kehidupan seseorang?

Bukan rumahnya. Bukan hartanya. Bahkan, bukan pula kekuasaannya. Yang tinggal adalah jejak yang diteruskan oleh orang lain.

Barangkali karena itulah kompleks makam tersebut tidak hanya berisi Makam Syiah Kuala, tetapi juga makam para murid dan keluarganya. Sejarah ternyata tidak pernah dikerjakan oleh seorang diri. Selalu ada lingkaran manusia yang saling menyambung, seperti mata rantai yang tidak terputus.

Saya melihat beberapa peziarah membaca doa dengan khusyuk. Tidak ada suara keras. Tidak ada keramaian yang dibuat-buat. Hanya desir angin yang sesekali datang dari arah laut dan dedaunan yang bergoyang perlahan.

Di tempat seperti itu, waktu terasa berjalan dengan ukuran yang berbeda.

Di luar kompleks makam, dunia terus bergerak dengan segala kegelisahannya. Teknologi mempercepat komunikasi. Kecerdasan buatan mengolah jutaan data dalam hitungan detik. Informasi berdesakan memasuki layar telepon genggam. Namun di sini, orang masih rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk berdiri beberapa menit di hadapan sebuah makam.

Mengapa? Barangkali karena manusia membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh teknologi: hubungan dengan asal-usulnya.

Sejarah bukan sekadar nostalgia. Ia adalah cara sebuah masyarakat memahami dirinya sendiri.

Tanpa ingatan sejarah, identitas menjadi rapuh. Orang mudah terpesona oleh hal yang baru tanpa mengetahui akar yang menopangnya. Padahal kebudayaan, seperti halnya pohon, tidak mungkin tumbuh hanya dengan memandangi ranting-rantingnya. Ia hidup karena akar terus bekerja dalam diam.

Mungkin itu pula makna yang saya temukan selama mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV. Pertemuan ini tidak sekadar mempertemukan para penyair dari berbagai negara dan daerah yang berbagi bahasa serumpun. Ia juga mempertemukan kami dengan ruang-ruang sejarah yang telah melahirkan kebudayaan Melayu-Islam selama berabad-abad.

Puisi ternyata tidak berdiri di ruang kosong.

Ia lahir dari perjalanan sejarah, dari pengalaman kolektif, dari perjumpaan manusia dengan agama, perdagangan, politik, laut, dan peradaban.

Aceh mengingatkan akan semua itu.

Dalam setiap seminar, kami membicarakan sastra. Dalam setiap pembacaan puisi, kami merayakan bahasa. Namun, di Makam Syiah Kuala, kami belajar sesuatu yang lebih tua daripada sastra itu sendiri: kerendahan hati. Karena setiap penulis, setiap penyair, betapa pun besar namanya, akhirnya akan menjadi bagian dari keheningan.

Yang menentukan bukan seberapa nyaring ia pernah berbicara, melainkan seberapa jauh gema pemikirannya tetap hidup setelah ia tiada.

Syekh Abdurrauf As-Singkili telah wafat lebih dari tiga abad yang lalu. Namun, pengaruhnya belum selesai. Tradisi keilmuan yang ia bangun masih dikenang. Kitab-kitabnya masih dipelajari. Namanya diabadikan menjadi nama kawasan, kecamatan, bahkan universitas terbesar di Aceh. Hal itu menunjukkan bahwa ilmu memiliki umur yang lebih panjang daripada tubuh manusia.

Saya meninggalkan kompleks makam itu dengan langkah yang lebih lambat dibandingkan ketika datang.

Barangkali setiap ziarah memang selalu demikian. Kita merasa sedang mengunjungi orang yang telah meninggal. Padahal sesungguhnya kitalah yang sedang diajak bercermin. Sebab, makam bukan hanya mengingatkan tentang kematian. Ia juga mengingatkan tentang kehidupan: tentang bagaimana seseorang memilih mengisi hari-harinya, tentang apa yang diwariskan kepada generasi sesudahnya, dan tentang keyakinan bahwa pengetahuan yang dibagikan dengan tulus akan terus berjalan melampaui usia pemiliknya.

Di tengah riuhnya Pertemuan Penyair Nusantara XIV, kunjungan wisata religi ke Makam Syiah Kuala menjadi jeda yang paling bermakna. Sebuah jeda yang mengingatkan bahwa kebudayaan tidak dibangun hanya oleh para penyair yang merangkai kata-kata, melainkan juga oleh para ulama yang menanamkan ilmu, para guru yang mendidik murid-muridnya, dan para pejalan sejarah yang memilih bekerja dalam kesunyian.

Di sanalah saya menyadari bahwa puisi dan dakwah, sesungguhnya, memiliki kesamaan yang jarang disadari. Keduanya berangkat dari keyakinan bahwa kata dapat mengubah manusia. Bedanya, puisi berusaha menyentuh batin melalui keindahan, sedangkan dakwah menuntun hati melalui hikmah.

Pada diri Teungku Syiah Kuala, kata-kata itu menjelma menjadi ilmu yang melahirkan generasi-generasi baru. Dan di hadapan makamnya, saya merasa sejarah Islam di Aceh belum selesai. Ia masih terus ditulis oleh setiap orang yang datang, berdoa, lalu pulang membawa sepotong kesadaran bahwa kehidupan yang paling bermakna adalah kehidupan yang meninggalkan cahaya bagi orang lain.

Baca juga:

Aceh dan Muhammadiyah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: