Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 5 menit baca

Kemerdekaan, Maulid, dan Krisis Keteladanan

Muhammad Burhan Khaerudin, S.Pd.

Kepala SD Muhammadiyah 12 Semarang

Kemerdekaan, Maulid, dan Krisis Keteladanan
Muhammad Burhan Khaerudin, S.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 12 Semarang, menyoroti pentingnya peran guru sebagai teladan sejati dalam mengatasi krisis keteladanan pada momentum Kemerdekaan Indonesia dan Maulid Nabi.

Bulan Agustus selalu membawa suasana yang khas. Bendera merah putih berkibar di depan rumah, sekolah, kantor, dan jalan-jalan. Anak-anak mengikuti berbagai perlombaan. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Kita mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi satu kata: merdeka.

Namun, ada satu pertanyaan yang barangkali perlu kita renungkan lebih dalam pada kemerdekaan tahun ini: Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sudahkah kita menjadi bangsa yang mampu memberikan keteladanan kepada generasi berikutnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik karena momentum 17 Agustus tahun ini berdekatan dengan bulan Rabiul Awal, bulan yang dalam tradisi umat Islam identik dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Dua momentum tersebut sesungguhnya memiliki satu titik temu yang sangat penting: keteladanan.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara

Kemerdekaan sering kali kita maknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan. Itu benar. Tetapi pendidikan mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada kebebasan secara politik. Kemerdekaan seharusnya melahirkan manusia yang mampu menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab.

Sebab, apa artinya merdeka jika anak-anak kita masih belajar dari orang dewasa yang tidak jujur? Apa artinya kemerdekaan jika kekuasaan justru dipertontonkan sebagai kesempatan untuk berbuat sewenang-wenang? Apa artinya kemerdekaan jika perbedaan pendapat selalu berujung pada saling merendahkan? Dan apa artinya kemerdekaan jika pendidikan hanya sibuk mengejar nilai, tetapi gagal membentuk manusia yang berkarakter?

Di sinilah pendidikan memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar.

Kita tidak kekurangan anak-anak yang cerdas. Kita juga tidak kekurangan sekolah, guru, kurikulum, seminar, dan berbagai program pendidikan. Yang mungkin semakin kita rasakan adalah krisis keteladanan. Padahal anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat.

Anak-Anak Lebih Banyak Melihat daripada Mendengar

Seorang guru dapat menghabiskan satu jam menjelaskan pentingnya kejujuran. Tetapi satu tindakan tidak jujur yang dilakukan guru dapat menghapus pelajaran itu dalam hitungan detik. Orang tua dapat berkali-kali menasihati anak agar tidak kecanduan gawai. Tetapi jika setiap waktu luang orang tua justru sibuk dengan telepon genggam, anak akan belajar dari perilaku, bukan dari nasihat.

Kita bisa berbicara panjang tentang toleransi, tetapi anak melihat orang dewasa mudah menghina orang yang berbeda. Para pendidik dapat mengajarkan disiplin, tetapi anak menyaksikan orang dewasa datang terlambat dan menganggapnya biasa. Bahkan saat berbicara tentang cinta tanah air, anak melihat lingkungan di sekitarnya dipenuhi ketidakpedulian terhadap kebersihan, fasilitas umum, dan kepentingan bersama

Inilah tantangan pendidikan hari ini: keteladanan.

Pendidikan karakter tidak akan pernah cukup jika karakter itu hanya menjadi materi pelajaran. Karakter harus menjadi budaya yang dapat dilihat, dirasakan, dan dialami anak setiap hari.

Maulid Nabi dan Pelajaran tentang Keteladanan

Menariknya, di tengah perayaan kemerdekaan tahun ini, umat Islam kembali diingatkan kepada sosok yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai uswah hasanah, teladan yang baik. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya mengajarkan kebaikan melalui perkataan. Beliau menghidupkan nilai itu dalam perilaku. Beliau mengajarkan kejujuran sekaligus dikenal sebagai Al-Amin sebagaimana ketika beliau menyelesaikan konflik saat peletakan batu Hajar Aswad. Sang Rasul juga mengajarkan kasih sayang sekaligus menunjukkan perhatian tersebut kepada anak-anak.

Selain itu, keadilan turut ditegakkan sebagaimana saat beliau marah kepada seseorang yang berusaha melobi hukum ketika ada seorang perempuan dari kalangan terpandang yang ketahuan mencuri. Sosok teladan ini pun mengajarkan hidup sederhana meskipun bisa saja menjalani hidup dengan kemewahan jika berkenan

Dengan demikian, salah satu pelajaran terbesar dari Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran beliau. Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: sudahkah kita menjadi teladan?

Guru Harus Menjadi “Kurikulum yang Hidup”

Sebagai seorang pendidik, saya semakin meyakini bahwa guru bukan sekadar penyampai materi. Guru adalah kurikulum yang hidup.

Anak mungkin lupa isi buku pelajaran beberapa tahun kemudian. Tetapi mereka bisa mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka. Mereka mungkin lupa definisi tentang integritas. Tetapi mereka akan mengingat guru yang tetap jujur ketika tidak ada yang melihat.

Para siswa mungkin lupa materi tentang kepemimpinan. Tetapi mereka akan mengingat kepala sekolah yang mau mendengarkan bawahannya. Anak didik mungkin lupa pelajaran tentang kasih sayang. Tetapi mereka akan mengingat guru yang tetap sabar ketika mereka melakukan kesalahan

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya bertanya: “Apa yang harus anak ketahui?” Tetapi juga: “Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk?” Dan pertanyaan berikutnya yang lebih berat: “Apakah orang dewasa di sekitar mereka sudah menjadi contoh dari manusia yang kita harapkan itu?”

Kemerdekaan yang Harus Diteruskan

Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan kepada kita. Tugas generasi hari ini bukan sekadar merayakannya. Tugas kita adalah mengisinya dengan kualitas manusia. Jika dahulu para pahlawan berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, maka hari ini kita memiliki bentuk perjuangan yang berbeda.

Guru berjuang melawan kebodohan. Orang tua berjuang melawan krisis pengasuhan. Pemimpin berjuang melawan keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan. Anak muda berjuang melawan budaya instan dan apatisme.

Dan setiap kita berjuang melawan kelemahan diri sendiri. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang besar dibangun oleh manusia-manusia yang berkarakter.

Karena pada akhirnya, anak-anak kita tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengatakan “jadilah baik”. Mereka membutuhkan generasi yang menunjukkan bagaimana menjadi baik.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: