Untukmu yang Lelah Bekerja, Jangan Sampai Harta Melimpah Tapi Hati Hampa
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Mengumpulkan rupiah demi rupiah setiap hari kerap membuat seseorang merasa lelah tanpa pernah merasakan ketenangan batin yang sejati. Di tengah rutinitas siang yang padat, Ustadz H. Sarmadi, S.Ag., M.Pd.I. mengingatkan bahwa harta berlimpah tidak bakal pernah menentramkan jiwa tanpa kehadiran rezeki yang bersih dan penuh keberkahan pada Selasa (18/8/2026).
Momen sejuk tersebut mengemuka seusai jamaah menunaikan shalat Dhuhur berjamaah di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang. Para pegawai RS Roemani Muhammadiyah dan karyawan Gedung Dakwah tampak khusyuk menyimak tausiyah usai menepi sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan.
Mengangkat intisari Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 97, dai kondang ini menegaskan bahwa ukuran kebahagiaan hidup seorang muslim tidak terletak pada tingginya jabatan. Kehidupan yang baik justru terpancar sewaktu seseorang merawat iman, beramal saleh, serta mensyukuri setiap pemberian Allah SWT.
“Bekerja dengan disiplin, memberikan pelayanan terbaik, serta tidak menyalahgunakan kepercayaan merupakan bentuk nyata dari perbuatan baik. Aktivitas pekerjaan sehari-hari dapat berubah menjadi ibadah apabila berniat karena Allah SWT,” ungkap Ustadz H. Sarmadi, S.Ag., M.Pd.I. di hadapan para jamaah.
Menjaga Kesucian Nafkah
Selanjutnya, penceramah kajian ini mengajak seluruh tenaga medis dan pekerja profesional untuk membentengi diri dari cara-cara yang merugikan orang lain. Pihaknya menekankan bahwa rezeki yang sedikit tetapi diperoleh dengan jujur jauh lebih bernilai daripada harta melimpah yang menghilangkan ketenangan keluarga.
Di samping itu, kebiasaan menanam kebaikan hendaknya tidak terbatas pada ruang-ruang masjid semata. Senyum yang tulus kepada pasien, keramahan saat melayani sesama rekan kerja, hingga sikap menjaga kebersihan lingkungan merupakan cerminan amal saleh yang sangat dicintai Allah SWT.
Oleh karena itu, setiap menit dalam beraktivitas menyimpan kesempatan emas untuk mengumpulkan bekal akhirat. Keikhlasan dalam bekerja secara otomatis menyulap rasa lelah menjadi guguran dosa yang melapangkan dada.
“Anak dan istri yang memakan rezeki halal akan tumbuh menjadi pribadi yang menentramkan hati. Maka jagalah sumber nafkah kita agar senantiasa mendatangkan keberkahan hidup,” tambah penceramah kultum Dhuhur tersebut.
Merawat Hidayah dan Qanaah
Sembari menutup uraiannya, penceramah asal Semarang ini mendorong para jamaah untuk senantiasa memohon hidayah dan menumbuhkan sifat qanaah. Rasa cukup di dalam hati terbukti sanggup membentengi manusia dari sifat serakah yang tidak pernah memuaskan dahaga duniawi.
Sifat qanaah sama sekali tidak mematikan semangat seseorang untuk meraih sukses atau berprestasi. Sebaliknya, sikap terpuji ini justru menuntun seseorang untuk tetap berjuang maksimal tanpa harus kehilangan rasa syukur atas segala takdir Ilahi.
Lalu, momen hening sesaat di Masjid At-Taqwa berhasil memberi pasokan energi spiritual baru bagi para pekerja sebelum kembali bertugas. Kehangatan firman-Nya menguatkan tekad para jamaah untuk melangkah dengan niat yang lebih bersih.
Akhirnya, pesan bersahaja dari mimbar masjid ini kembali menyadarkan publik bahwasanya kekayaan sejati berada pada rasa syukur dan keteguhan iman. Menjaga cara mencari rezeki halal bakal menjadi cahaya penuntun menuju keselamatan dunia dan akhirat.