Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 6 menit baca

Jejak Sejarah Islam dan Cahaya Muhammadiyah di Jerman

Jejak Sejarah Islam dan Cahaya Muhammadiyah di Jerman
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A., Ketua PWM Sumatera Barat (2000–2005 & 2015–2022) dan Rektor UM Sumbar (2006–2013), membagikan refleksinya mengenai sejarah dan kiprah Muhammadiyah di Eropa.

Ada masa ketika saya memandang bangsa-bangsa dunia melalui kaca sederhana bentukan buku pelajaran dan cerita orang dewasa. Orang Jerman, dalam bayangan masa kanak-kanak, hebat dalam ilmu eksakta tetapi kaku dan dingin. Masyarakat Inggris terkesan disiplin. Bangsa Arab sering digambarkan banyak bicara. Sementara penduduk Indonesia dikenal banyak tersenyum.

Setelah dewasa dan berkesempatan mengunjungi berbagai negeri di Asia, Australia, Afrika, Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada, saya menyadari bahwa manusia jauh lebih kaya daripada stereotip yang pernah kita bangun tentang mereka.

Lanskap dunia yang dahulu hanya hidup dalam imajinasi perlahan berubah menjadi pengalaman. Dan pengalaman itu mengubah cara saya membaca manusia, termasuk dalam melihat perkembangan Islam di Eropa.

Sejak 1980 hingga kini, saya telah menjejaki lima benua. Khusus Eropa, perjalanan itu berlangsung pada 1988, 1994, 1996, 2004, dan 2013. Dari 44 negara Eropa menurut standar Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau sekitar 50–51 jika pengertian geografis turut memasukkan negara lintas benua seperti Rusia dan Turki, saya telah mengunjungi sekitar separuhnya.

Dalam setiap perjalanan, saya berusaha mendatangi masjid, museum, universitas, dan tempat-tempat yang menyimpan ingatan peradaban. Dari sana saya belajar bahwa kita tidak pernah cukup memahami sebuah bangsa hanya melalui politiknya. Kita harus membaca sebuah negeri melalui sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan, agama, dan terutama melalui cara manusia-manusianya membangun ruang bersama.

Jejak Sejarah Islam di Jerman

Di antara negeri yang menarik perhatian saya adalah Jerman. Negeri yang pernah menjadi salah satu pusat industri, filsafat, dan ilmu pengetahuan Eropa ini mengukir sejarah Islam di Jerman melalui jejak hubungan yang panjang dengan dunia Islam.

Kita bahkan dapat menelusuri jejak itu hingga abad ke-8, ketika Charlemagne dari bangsa Franka bertukar pesan dan hadiah dengan Khalifah Harun al-Rasyid dari Abbasiyah di Baghdad.

Berabad-abad kemudian, pada abad ke-18, Kerajaan Prusia merekrut tentara Muslim dari kalangan Tatar, Bosnia, dan Albania. Untuk memenuhi kebutuhan ibadah mereka, Raja Prusia mendirikan sebuah masjid di Potsdam.

Sejarah sederhana ini menyimpan pesan yang dalam: komunitas Muslim di Jerman hadir bukan semata-mata karena migrasi modern. Ia memiliki lapisan sejarah yang lebih tua dan lebih kompleks. Jauh sebelum kiprah Muhammadiyah di Jerman mulai merajut dakwah di benua biru ini.

Pada zaman pencerahan, hubungan itu memasuki ruang yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar diplomatik atau militer, tetapi intelektual dan spiritual.

Johann Wolfgang von Goethe, salah seorang pujangga terbesar Jerman, menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan khazanah sufisme Islam. Dalam West-östlicher Divan, Goethe berdialog secara puitis dengan tradisi Timur, terutama melalui pengaruh Hafiz dari Shiraz.

Pada Goethe, Timur bukan sekadar objek eksotisme Barat. Ia menjadi teman dialog, sumber inspirasi estetika, dan jendela menuju pengalaman spiritual.

Di sinilah mengandung sebuah pelajaran filosofis: peradaban tumbuh bukan ketika manusia menutup pintu terhadap yang berbeda, melainkan ketika ia berani berdialog dengan sesuatu yang bukan dirinya. Identitas yang matang tidak merasa terancam oleh perbedaan. Ia justru menemukan kedalaman dirinya melalui perjumpaan.

Transformasi Komunitas Muslim di Jerman

Namun wajah Islam di Jerman berubah secara mendasar setelah Perang Dunia II. Pada 1961, ketika Jerman Barat mengalami kekurangan tenaga kerja, pemerintahnya menandatangani kesepakatan dengan Turki untuk mendatangkan pekerja migran atau Gastarbeiter.

Masyarakat semula memandang mereka sebagai pekerja sementara. Tetapi sejarah memiliki kehendaknya sendiri. Banyak di antara mereka kemudian menetap, membawa keluarga, membangun rumah, mendirikan masjid, membentuk organisasi, dan melahirkan generasi baru yang menjadikan Jerman bukan lagi tempat persinggahan, melainkan tanah air.

Kini komunitas Muslim di Jerman telah menjadi bagian penting dari wajah demografis Jerman. Berbagai sumber menyebut jumlahnya sekitar 6,6–7 juta jiwa atau sekitar 8–8,5 persen penduduk. Komunitas itu pun semakin beragam: bukan hanya keturunan Turki, tetapi juga Arab, Bosnia, Albania, Kosovo, Afghanistan, dan berbagai latar lainnya.

Perubahan demografis itu membawa pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar angka. Kita tidak lagi dapat memahami Islam di Jerman hanya sebagai agama para pendatang. Ia semakin menjadi bagian dari masyarakat Jerman itu sendiri.

Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah Muslim dapat hidup di Jerman, melainkan bagaimana Islam dan demokrasi dapat saling menemukan ruang yang produktif dalam masyarakat plural.

Perkembangan institusional menunjukkan adanya proses menuju arah tersebut. Di sejumlah negara bagian, sekolah negeri telah mengajarkan pendidikan agama Islam. Universitas seperti Münster dan Tübingen mengembangkan pusat teologi Islam untuk mendidik guru dan imam dalam konteks masyarakat Jerman. Bahasa Jerman menjadi medium penting agar pendidikan Islam tumbuh dalam lingkungan sosial dan kebudayaan setempat.

Peran PCIM dan Cahaya Muhammadiyah

Transformasi ini sangat penting. Masjid tidak lagi sekadar ruang salat. Ia dapat menjadi ruang pendidikan, pembentukan identitas, pelayanan sosial, dialog, dan artikulasi kewargaan.

Agama tidak kehilangan kesuciannya ketika hadir di ruang publik. Sebaliknya, iman menemukan makna sosialnya ketika umat menerjemahkan nilai-nilai spiritual menjadi ilmu, akhlak, solidaritas, dan kemanfaatan.

Namun perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Islamofobia, perdebatan mengenai jilbab dan burka, pembangunan menara masjid, serta politik anti-imigrasi tetap menjadi bagian dari perdebatan publik Jerman.

Pada saat yang sama, komunitas Muslim sendiri menghadapi tantangan internal: bagaimana mempertahankan iman dan identitas tanpa menjadikan identitas sebagai tembok yang memisahkan diri dari masyarakat luas.

Di sinilah organisasi-organisasi Muslim memainkan peranan penting. DİTİB merupakan salah satu jaringan besar yang berakar pada komunitas Turki, sementara Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) menjadi organisasi payung yang lebih beragam secara etnis dan aktif berdialog dengan pemerintah.

Keberadaan organisasi-organisasi itu memperlihatkan bahwa Muslim Jerman bukan kelompok yang homogen, melainkan sebuah mosaik sosial yang terus bergerak dan berkembang.

Di antara mosaik itu, hadir kiprah Muhammadiyah di Jerman. PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) Jerman Raya atau Muhammadiyah Deutschland e.V., yang berpusat di Frankfurt, menjadi bagian dari dinamika tersebut.

Organisasi ini berdiri pada 2007 dan memperoleh pengakuan pemerintah sebagai organisasi nirlaba pada 2014. Anggotanya banyak berasal dari pelajar, mahasiswa, dan profesional Indonesia. Aktivitasnya meliputi kajian keislaman, dakwah kultural, filantropi, kegiatan anak muda, serta kerja sosial.

Menjadi Jembatan Peradaban Eropa

Di titik ini, masjid menemukan makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar bangunan dengan kubah dan menara, melainkan rumah spiritual yang dapat sekaligus menjadi rumah kebudayaan.

Di dalamnya manusia belajar bahwa menjadi Muslim di Eropa tidak berarti hidup dalam ruang yang terpisah dari masyarakat. Menjadi Muslim berarti menghadirkan iman melalui pendidikan, akhlak, ilmu, solidaritas, dan kemanfaatan sosial.

Karena itu, masa depan Islam di Jerman tidak terutama bergantung pada seberapa banyak umat membangun masjid atau berapa juta Muslim yang tinggal di sana. Ukuran yang lebih penting ialah seberapa jauh keberadaan demografis itu dapat berubah menjadi kontribusi peradaban.

Dari Potsdam hingga Frankfurt, dari masjid para prajurit hingga komunitas Muslim generasi kedua dan ketiga, perjalanan Islam di Jerman sesungguhnya adalah perjalanan dari “orang asing” menuju bagian dari masyarakat.

Sejarah itu mengajarkan bahwa identitas bukanlah tembok yang harus kita jaga dari dunia, melainkan jembatan yang memungkinkan manusia membawa nilai terbaik dirinya ke ruang bersama.

Mungkin di situlah masa depan Islam di Jerman menemukan maknanya: bukan sebagai bayang-bayang masa lalu, bukan pula sebagai tamu yang selamanya menunggu untuk pulang, melainkan sebagai salah satu unsur yang ikut membentuk wajah baru Eropa—Islam yang berakar pada iman, terbuka terhadap ilmu, matang dalam kewargaan, dan hadir sebagai rahmat bagi ruang publik.

Dan di tengah mosaik iman, sejarah, kebudayaan, serta pengalaman manusia itu, Muhammadiyah di Jerman dapat menanam saham kecil tetapi bermakna: bukan sekadar untuk memperluas organisasi, melainkan untuk menyalakan cahaya peradaban di bumi-Nya.

Wallahu a’lam.

Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: