Melanjutkan kajian sebelumnya yang menyoroti pentingnya ideologi lurus, ulasan keempat ini mengajak kita menyelami aspek spiritual. Allah SWT ternyata lebih memperhatikan penampilan ruhaniah manusia ketimbang fisik lahiriahnya.
Seseorang mungkin berpakaian sangat sederhana menurut ukuran indra manusia. Namun, kegemarannya membaca kitab suci membuat kedudukannya jauh lebih mulia di mata Sang Pencipta. Hal ini tentu sangat berbeda dengan mereka yang berpakaian mewah tetapi hatinya kosong dari lantunan ayat suci. Rasulullah SAW menegaskan prinsip tersebut dalam sabdanya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim: 4650, 465).
Menerapkan makna hadis ini dalam realitas kekinian, kita bisa melihat perbedaan yang sangat kontras. Setiap muslim yang menghidupkan waktunya untuk mendaras firman Allah memiliki aura gaya hidup ruhaniah yang jauh lebih terang.
Sebaliknya, mereka yang sekadar menghabiskan waktu menggulir layar aplikasi hiburan bermuatan non-islami akan kehilangan pendar spiritual tersebut. Mempertegas hal ini, Nabi Muhammad SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah:
Perumpamaan Mukmin Laksana Buah Utrujjah
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلَا رِيحَ لَهَا
“Beliau bersabda, Perumpamaan orang yang membaca Alquran adalah seperti buah Utrujjah, rasanya lezat dan baunya sedap. Orang yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma, rasanya manis, baunya tidak ada. Adapun orang Fajir yang membaca Alquran seperti buah Raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang Fajir yang tidak membaca Alquran seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga tidak sedap.” (HR. Bukhari, 4632, 4671, 5007, 7005, Muslim 1328, Abu Dawud, 4191, Nasai 4952, Nasai, 210, Ahmad 18728, 18789, 18833).
Istilah fajir dalam sabda tersebut merujuk pada pendosa, pelaku maksiat, atau orang yang gemar melanggar perintah Allah SWT. Melalui perumpamaan ini, kita kerap mendapati fenomena para orientalis yang mendalami literatur Islam dengan tujuan awal menghancurkan ajaran agama.
Meskipun begitu, kebenaran ilmiah Al-Qur’an justru membuat tokoh-tokoh besar seperti Roger Garaudy dan Keith Moore takjub hingga akhirnya memutuskan bersyahadat. Keputusan menjadi mualaf ini menjadikan mereka laksana buah Utrujjah yang wangi dan lezat.
Di sisi lain, ada sosok seperti Annemarie Schimmel yang menghafal Al-Qur’an namun tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya. Ilmuwan muslim memang memuji keharuman namanya, namun status keimanannya ibarat buah Raihanah; baunya harum karena ilmunya, tetapi rasanya pahit.
Syafaat Mahkota Kemuliaan di Akhirat
Mengupas lebih dalam keutamaan Al-Qur’an, edisi keempat ini menyingkap kedahsyatan syafaat di akhirat. Kitab suci ini tidak sekadar memayungi atau membela pembacanya di Padang Mahsyar, melainkan akan terus mendampingi hingga menghadap Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW menginformasikan kabar gembira mengenai kiprah Al-Qur’an tersebut:
يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ، زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ، فَيَرْضَى عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً
“Kelak di hari qiyamat AlQuran datang, seraya memohon kepada Tuhannya: ‘Wahai Tuhan, pakaikanlah kepadanya (pembaca Al-Qur’an)! Kemudian ia dipakaikan mahkota kemuliaan. Kemudian ia memohon kembali, ‘Wahai Tuhan, tambahkanlah! Kemudian dipakaikan pakaian kemuliaan. Kemudian ia memohon lagi, Wahai Tuhan, ridhailah dia! Kemudian Allah pun meridhainya. Maka ia berkata: bacalah dan naiklah. Sebab setiap satu ayat akan dilipatkan satu kebaikan.” (Imam Turmudzi: 2839, Darimi: 3177, 3179).
Memahami matan hadis mutasyabihat di atas membuka kesadaran akal sehat kita bahwa kelak di akhirat, Al-Qur’an akan tampil ibarat makhluk pribadi yang memohonkan mahkota kehormatan bagi pembacanya.
Mengingat hakikatnya sebagai Kalamullah, Allah pasti mengijabah setiap permohonan tersebut. Terlebih lagi, syafaat kitab suci berlaku tuntas sejak dari Padang Mahsyar hingga kita masuk surga dengan penuh kehormatan.
Seluruh proses berat di akhirat akan menjadi jauh lebih ringan bagi mereka yang dijaga oleh ayat-ayat-Nya. Oleh karena itu, mari kita rutinkan mendaras ayat suci setiap hari demi meraih derajat mulia sebagai Ahlul Qur’an.