Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 3 menit baca

Jangan Mengaku Cinta Rasulullah Jika Hidupmu Jauh Dari Sunnah Nabi


‎
Ada pertanyaan yang seharusnya menghantam hati kita pada saat memperingati Maulid Nabi: Benarkah kita memiliki cinta Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam?

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam mencintai umatnya dengan cinta yang luar biasa. Beliau berdakwah hingga tubuhnya terluka, dilempari batu, menahan lapar, dihina dan disakiti. Namun di tengah penderitaan itu, yang beliau pikirkan tetap satu: keselamatan umatnya.

Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keselamatan bagimu, serta penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)

Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk membalas cinta itu? Jangan terlalu cepat mengaku memiliki cinta Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam jika sunnah Nabi masih kita abaikan. Jangan hanya sibuk mengharapkan syafaat Rasulullah, tetapi malas mengikuti tuntunannya.

Kita rajin bershalawat, tetapi masih gemar berdusta. Kita memuji akhlak Rasulullah, tetapi mudah menghina sesama. Dan kita mengaku umatnya, tetapi perintahnya sering kita tunda. Kita ingin bertemu dengannya di akhirat, tetapi kehidupan kita justru semakin jauh dari jalan yang beliau ajarkan.

Ini bukan cinta. Tapi baru pengakuan.

Bukti cinta Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam bukan sekadar lantunan shalawat yang indah. Cinta adalah ittiba’ mengikuti. Ketika beliau memerintahkan, kita taat. Ketika beliau melarang, kita berhenti. Dan ketika sunnah Nabi ditinggalkan, kita berani menghidupkannya. Ketika akhlaknya dicontohkan, kita berusaha menirunya.

Jangan hanya ingin mendapatkan syafaat Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam. Berusahalah menjadi umat yang layak mendapatkan syafaat itu.

Jangan hanya merindukan telaganya. Tempuh jalan yang beliau tunjukkan menuju telaga itu. Dan jangan sampai peringatan Maulid Nabi setiap tahun hanya menjadi acara seremonial: suara shalawat menggema, tetapi setelah acara selesai, kehidupan kita kembali sama. Jika Maulid Nabi tidak membuat kita semakin taat, lalu apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?

Mari berhenti menjadikan cinta Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam sebagai slogan.

Hidupkan sunnah Nabi di rumah. Ajarkan sirah-nya kepada anak-anak. Teladani kejujurannya. Tiru kelembutannya. Tegakkan keberaniannya membela kebenaran. Dan jadikan akhlak Rasulullah sebagai cermin kehidupan.

Sebab, cinta sejati tidak membutuhkan banyak kata.

Lisan boleh berkata, “Aku mencintai Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam.” Tetapi kehidupanlah yang harus membuktikan: “Ya Rasulullah, aku mungkin belum sempurna, tetapi aku sungguh sedang berjuang berjalan di atas jejakmu.”

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad

Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: