Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Enggan Ilmu Mangkrak, Dosen Unimus Ini Sabet Penghargaan Buku Terproduktif

9 September 2026, 18:45 WIB • 2 menit baca
Wakil Rektor I UNIMUS Prof. Budi Santosa menyerahkan trofi dan piagam penghargaan kepada dosen keperawatan Prima Trisna Aji di halaman pelataran kampus UNIMUS.
Dosen Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS sekaligus penulis buku keperawatan, Prima Trisna Aji, menerima penghargaan Buku ISBN Terproduktif Tahun 2026 dari Wakil Rektor I Prof. Budi Santosa pada peringatan HUT ke-81 RI di halaman Rektorat UNIMUS Semarang.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sebuah prinsip sederhana mampu mengubah perjalanan akademik menjadi deretan karya yang berdampak luas. Dosen spesialis Keperawatan Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Prima Trisna Aji, membuktikan hal tersebut lewat konsistensi menulisnya.

Atas ketekunannya mendokumentasikan riset dan pengabdian masyarakat, UNIMUS mendaulat Prima sebagai penerima penghargaan Buku ISBN Terproduktif Tahun 2026. Wakil Rektor I UNIMUS, Prof. Budi Santosa, menyerahkan langsung trofi apresiasi tersebut pada momen Peringatan HUT ke-81 RI.

Bagi Prima, menulis buku bukan sekadar mengejar popularitas atau angka kualifikasi administratif. Pihaknya meyakini bahwa hasil riset kesehatan harus menyapa masyarakat agar tidak mengendap dalam tumpukan laporan kampus semata.

“Saya percaya ilmu tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah atau tersimpan dalam laporan penelitian. Ilmu harus ditulis, dibagikan, dikembangkan, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Prima usai menerima penghargaan.

Integrasi Riset, Hibah Nasional, dan Dampak Nyata Kesehatan

Produktivitas Prima dalam melahirkan buku ber-ISBN berjalan seiring dengan keberhasilannya meraup pendanaan riset. Dalam setahun terakhir, ia sukses mengamankan hibah penelitian internal, hibah RisetMu tingkat pusat, hingga Hibah Dana Indonesiana dari kementerian.

Isu-isu nyata di lapangan menjadi bahan bakar utama baginya untuk merancang penelitian dan buku ajar. Langkah terintegrasi ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan teori akademik dengan praktik pelayanan medis di lapangan.

Wakil Rektor I UNIMUS, Prof. Budi Santosa, mengapresiasi tinggi dedikasi para dosen yang terus berinovasi. Pihaknya berharap pencapaian ini menularkan semangat berkarya bagi seluruh civitas akademika.

“Prestasi ini merupakan hasil dari konsistensi dan kerja keras. Kami berharap penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Prof. Budi.

Siapkan Karya Ber Kualitas dan Dorong Budaya Menulis Mahasiswa

Menghadapi derasnya arus kecerdasan buatan, Prima menilai akademisi harus menjaga kedalaman dan kredibilitas karya. Ia menegaskan bahwa tantangan penulisan era digital terletak pada relevansi dan kebermanfaatan isi buku bagi para pembaca.

Selain itu, ia aktif mengajak mahasiswa untuk membiasakan diri menulis sejak duduk di bangku kuliah. Menulis perlu menjadi sarana utama bagi anak muda untuk membangun serta menyebarluaskan gagasan secara etis.

“Penghargaan adalah bonus dari sebuah proses. Yang paling penting bukan seberapa banyak penghargaan yang kita bawa pulang, tetapi seberapa banyak ilmu yang dapat kita tinggalkan,” kata Prima menutup pembicaraan.

Dari pelataran Rektorat UNIMUS, kisah Prima memberikan pesan kuat bagi dunia pendidikan tinggi. Dedikasi menulis dan meneliti terbukti mampu membawa ilmu pengetahuan keluar dari dinding kampus demi menerangi masyarakat luas.

Kontributor: Prima Trisna Aji
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: