Sepiring Opor Penawar Lelah di Kerasnya Jalanan Ngaliyan
NGALIYAN, muhamamdiyahsemarangkota.org – Sengatan matahari dan debu aspal di depan Kantor Kelurahan Ngaliyan seolah tak lagi terasa menyengat pada Sabtu (19/9/2026) pagi menjelang siang. Di tengah kerasnya rutinitas jalanan dan riuhnya warga yang memeras keringat di lapangan kecamatan, sebuah oase kemanusiaan mekar di bawah tenda sederhana.
Adalah Ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Ngaliyan, dengan tulus menyodorkan piring-piring berisi nasi dan kepulan opor ayam beserta lauk lainnya. Lewat inisiatif Program Makan Gratis Umat, mereka meruntuhkan sekat sosial serta menghadirkan penawar lelah bagi para pekerja informal, kurir, pengemudi ojek online, atau siapapun yang membutuhkan.
Pemandangan hari itu menampilkan panggung kemanusiaan yang berdenyut nyata, lebih dari sekadar pembagian makanan biasa. Titik-titik warna hijau dari jaket para ojol dan ragam seragam para kurir pengantar paket berpadu harmonis dengan kesederhanaan warga sekitar yang duduk sejajar menikmati hidangan.
Hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit bagi warga untuk menandaskan 100 porsi program makan gratis Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ngaliyan ini.
Mengobati Lelah Pekerja Jalanan dan Mahasiswa
Di atas jok sepeda motornya, Kholil (32) bersiap membelah debu jalanan Semarang kembali. Kurir pengantar paket ini baru saja menghabiskan sepiring opor ayam lengkap yang kini menjadi bahan bakar dirinya untuk mengantarkan tumpukan barang paket demi menafkahi keluarga. Suara deru mesin motor seolah berhenti sejenak saat ia menyampaikan betapa program ini memberi arti besar bagi para pekerja jalanan sepertinya.
“Bagi orang-orang seperti saya yang di jalan, kalau ada seperti ini istilahnya buat makan siang kita. Jadi jatah kita untuk uang makan siang kan bisa kita alihkan untuk kebutuhan lain. Menurut saya ini bagus, baik,” tutur Kholil dengan mata yang memancarkan kelegaan.
Sambil mengencangkan helmnya, ia menguntai harap, “Kalau bisa biasa setiap minggu. Kan satu minggu sekali lebih baik.”
Kisah hangat juga mengalir dari Hamid, mahasiswa perantauan asal Kota Demak yang tengah menempuh studi di jurusan Teknik Lingkungan UIN Walisongo. Jauh dari rumah dengan uang saku yang terbatas, pemuda ini menemukan sepotong kehangatan keluarga di trotoar Ngaliyan. Ia tak canggung berbaur bersama para pekerja kasar dan orang-orang yang baru selesai joging di lapangan kecamatan.
“Alhamdulillah kami mahasiswa UIN Walisongo sangat mendapat manfaat. Apalagi orang tua memberi uang saku yang pas-pasan. Jadi program ini sangat membantu makan kami pada hari Sabtu,” ujar Hamid penuh syukur.
Lalu Ia menitipkan doa tulus untuk para relawan ibu-ibu yang memasak hidangan tersebut. “Semoga lancar semuanya dan membawa keberkahan tersendiri. Karena panitia membagikan makan kepada teman-teman mahasiswa dan teman-teman yang sedang berolahraga.”
Asa Merawat Pelita Harapan Lebih Sering
Tangan-tangan terampil yang bekerja meracik keajaiban kemanusiaan di trotoar Ngaliyan ini, bermodalkan ketulusan swadaya yang luar biasa. Herman, selaku Ketua PRM Ngaliyan, memandang riuhnya antrean pagi itu dengan mata berkaca-kaca melihat harmoni yang hadir.
“Yang jelas terbuka, siapa saja bisa menikmati acara ini. Dari kalangan ojol, kemudian dari yatim piatu atau pemulung,” tegas Herman.
Rasa haru menyentuh hatinya saat melihat jembatan kebaikan ini meluas hingga ke kalangan terpelajar. “Saya agak sedikit heran hari ini banyak mahasiswa. Ada salah satu pengurus Aisyiyah yang punya kos-kosan mengajak mahasiswanya datang. Mungkin mereka berbagi kabar antarmahasiswa sekitarnya sehingga banyak mahasiswa mengikuti acara hari ini,” jelasnya antusias.
Herman menuturkan bahwa pengurus sementara waktu baru bisa merealisasikan inisiatif sosial ini satu bulan sekali, tepatnya pada hari Sabtu pekan, mulai pukul 10.00 WIB. Ibu-ibu PRA Ngaliyan mengumpulkan pembiayaan operasional yang mencapai sekitar Rp 900 ribu ini keping demi keping dari dompet pribadi mereka.
Mendengar besarnya harapan Kholil dan warga lainnya, pihak penyelenggara memendam asa yang sama. Mereka sangat berharap intensitas program makan gratis ini bisa meningkat menjadi sepekan sekali.
Namun, niat mulia tersebut tentu membutuhkan daya dukung yang lebih besar dan uluran tangan dari masyarakat luas agar napas kebaikan ini terus menyala.
Ajakan Menenun Kebaikan Bersama
Melihat efek domino kebahagiaan yang mengalir, nurani siapa yang tidak tergugah? Saat seorang pengamen jalanan yang lapar bisa makan berdampingan dengan mahasiswa, warga membumikan nilai-nilai profetik Islam dengan sempurna. Hal ini sejalan dengan tuntunan Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
Agar pelita harapan ini menyala lebih sering setiap pekannya, panitia membentangkan karpet merah bagi siapa pun yang ingin menjadi pahlawan kemanusiaan, menyokong swadaya ibu-ibu Aisyiyah.
“Kalau mau berdonasi, monggo silakan kepada masyarakat umum bisa transfer ke rekening kami PRM. Bisa menghubungi Pak Tri atau saya,” kata Herman.
Bagi Anda yang hatinya tergerak melihat ketangguhan para pejuang nafkah ini, mari wujudkan harapan mereka untuk menikmati sajian bergizi setiap pekan. Anda dapat menyalurkan donasi sedekah langsung melalui Bank Jateng Syariah atas nama Tri Budi Kresnanto (Nomor Rekening: 6022023081). Anda juga dapat menyampaikan konfirmasi kebaikan langsung kepada Herman melalui nomor WhatsApp 081575158943.
Kehadiran Program Makan Gratis Umat di Ngaliyan ini membuktikan bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya di tengah kerasnya aspal jalanan. Sepiring opor ayam dari tangan tulus ibu-ibu bersahaja tidak sebatas memadamkan kelaparan, melainkan menyuburkan benih empati di tengah kerasnya arus kehidupan urban.
Gerakan ini menjadi undangan terbuka bagi setiap jiwa yang peduli untuk turut serta menenun solidaritas. Sebuah undangan untuk memastikan para pekerja keras dan mahasiswa perantau tak lagi menahan lapar saat merajut masa depan.