Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Saat Nurani Pesantren Mengoreksi Kekuasaan

Dr. Aang Kunaepi, M.Ag

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo

Saat Nurani Pesantren Mengoreksi Kekuasaan
Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., penulis yang mengulas pesan menohok Kiai Hasan Sahal terkait refleksi peringatan 100 Tahun Gontor.

Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar perayaan usia sebuah lembaga pendidikan. Satu abad perjalanan Gontor menjadi momentum untuk membaca kembali hubungan antara pendidikan, keteladanan, pengabdian, masyarakat, dan kekuasaan.

Dalam suasana resepsi kesyukuran 100 Tahun Gontor pada 19 September 2026, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan sejumlah pesan yang menarik perhatian karena disampaikan secara lugas, termasuk mengenai fenomena sosial, independensi pendidikan, kritik terhadap pemimpin, keteladanan, serta makna sejarah.

Pesan tersebut penting dibaca bukan semata-mata sebagai sindiran kepada pihak tertentu, tetapi sebagai refleksi moral mengenai bagaimana lembaga pendidikan seharusnya berdiri di tengah masyarakat dan berhadapan dengan kekuasaan.

Pesantren memiliki tradisi panjang sebagai ruang pendidikan sekaligus ruang pembentukan nurani sosial. Karena itu, suara pesantren tidak semestinya berhenti pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga menyentuh persoalan keadilan, amanah, integritas, dan tanggung jawab publik.

Sentilan Tajam untuk Budaya Cari Muka

Salah satu bagian menarik dari pesan Kiai Hasan adalah sentilannya terhadap fenomena sosial berupa budaya mencari muka. Kritik semacam ini sesungguhnya memiliki relevansi luas. Dalam kehidupan sosial dan birokrasi, pencarian kedekatan dengan pemegang kekuasaan dapat menggeser orientasi pelayanan dari kepentingan publik menuju kepentingan pribadi atau kelompok.

Fenomena tersebut berbahaya ketika masyarakat kehilangan keberanian menyampaikan kenyataan kepada pemimpin. Kekuasaan akhirnya hanya menerima informasi yang menyenangkan, sementara kritik dan persoalan nyata disembunyikan. Dalam kondisi demikian, seorang pemimpin dapat terjebak dalam ruang informasi yang tidak utuh.

Keberanian moral harus berdiri di atas keadilan, bukan kepentingan pribadi. Kritik yang lahir dari tanggung jawab moral berbeda dengan penghinaan. Kritik bertujuan memperbaiki, sedangkan penghinaan merendahkan.

Al-Qur’an memberikan prinsip penting: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.” (QS. An-Nisa: 135)

Pendidikan Karakter sebagai Ruh Utama

Pesan lain yang sangat penting adalah penegasan bahwa pendidikan merupakan ruh perjalanan Gontor. Dalam refleksi 100 Tahun Gontor, Kiai Hasan menekankan bahwa aktivitas pondok pada hakikatnya merupakan bagian dari proses pendidikan.

Di sinilah letak kekuatan pesantren. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Cara guru berbicara, cara pemimpin mengambil keputusan, cara memperlakukan santri, cara menyelesaikan konflik, bahkan cara lembaga berhubungan dengan kekuasaan, semuanya menjadi kurikulum kehidupan.

Karena itu, bangsa yang ingin memperbaiki kualitas kepemimpinannya harus memperbaiki pendidikan. Politik tanpa pendidikan karakter dapat menghasilkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Kekuasaan tanpa moral dapat melahirkan keputusan yang kuat secara administratif tetapi lemah secara etik.

Pesantren memiliki kesempatan besar untuk mengisi ruang tersebut. Pendidikan harus melahirkan manusia yang tidak hanya pintar berbicara, tetapi mampu membedakan antara kebenaran dan kepentingan; antara loyalitas dan kultus; antara penghormatan dan ketakutan.

Pemimpin Harus Siap Menerima Kritik

Adapun pesan Kiai Hasan yang paling kuat adalah kesediaan seorang pemimpin untuk menerima kritik. Dalam pemberitaan mengenai pidatonya, ia mempersilahkan masyarakat memprotes, mengkritik bahkan mendemo apabila kehidupan pemimpin pesantren jauh lebih berlebihan dibandingkan kehidupan para santrinya. Pernyataan tersebut mengandung prinsip kepemimpinan yang sederhana tetapi mendasar: pemimpin harus siap diawasi.

Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukan hak istimewa, melainkan amanah, menempatkan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi kepemimpinan. Karena itu, kritik seharusnya tidak selalu dianggap sebagai ancaman. Kritik dapat menjadi mekanisme koreksi agar kekuasaan tidak kehilangan orientasi.

Rasulullah SAW bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan tentang kritik tidak dapat dipisahkan dari keteladanan. Pendidikan karakter tidak mungkin berhasil apabila nilai yang diajarkan berbeda dengan perilaku pemimpinnya.

Pesantren memiliki tradisi keteladanan yang kuat. Santri belajar bukan hanya melalui kitab, tetapi melalui kehidupan bersama. Mereka melihat bagaimana guru hidup sederhana, bagaimana kiai mengambil keputusan, bagaimana menyelesaikan persoalan , dan bagaimana menjalankan amanah.

Karena itu, otoritas moral tidak cukup dibangun melalui jabatan. Ia dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan, siapa pun yang memegang otoritas. Masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai membuat kebijakan, tetapi juga pemimpin yang dapat menjadi contoh.

Allah SWT berfirman: كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)

Keteladanan dan Tanggung Jawab Sejarah

100 Tahun Gontor juga menghadirkan pelajaran tentang sejarah. Kiai Hasan mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar sesuatu yang dikenang, melainkan sesuatu yang harus dijadikan pijakan untuk membangun masa depan.

Ia menyerukan agar generasi berikutnya tidak hanya “berguru pada sejarah”, tetapi ikut membangun sejarah dan peradaban. Inilah makna pengabdian yang sesungguhnya.

Sejarah tidak boleh berubah menjadi museum kebanggaan. Sejarah harus menjadi energi untuk melanjutkan perjuangan. Gontor sendiri menggambarkan transformasi yang menarik.

Dalam pidatonya, Kiai Hasan mengenang Gontor pada masa awal sebagai lingkungan yang kemudian diperjuangkan hingga menjadi sumber inspirasi. Pesannya jelas: perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Ia membutuhkan pendidikan, kesabaran, pengorbanan, keteladanan, dan kesinambungan perjuangan.

Pesan Kiai Hasan Sahal dalam peringatan satu abad Gontor dapat dibaca sebagai panggilan kepada semua pemimpin: jangan alergi terhadap kritik, jangan kehilangan hubungan dengan rakyat, jangan menjadikan jabatan sebagai ruang kenyamanan, dan jangan memisahkan kekuasaan dari keteladanan.

Pesantren memiliki kekuatan ketika ia tetap menjadi suara nurani. Kekuasaan memiliki legitimasi moral ketika ia bersedia mendengar. Pendidikan memiliki makna ketika ia melahirkan manusia yang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.

100 Tahun Gontor akhirnya bukan hanya tentang usia. Ia adalah pertanyaan bagi generasi berikutnya: sejarah seperti apa yang akan kita bangun? Sebab sebagaimana pesan Kiai Hasan, sejarah bukan hanya untuk dikenang. Sejarah harus dibangun melalui pengabdian, pendidikan, keteladanan, dan keberanian menjaga kebenaran.

Baca juga:

Menyoal Etika Pemberhentian Pejabat di Tengah Jalan: Antara Kekuasaan, Amanah, dan Keadilan

Islam ala Prabowo: Antara Pembenaran dan Kebenaran

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: