Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 5 menit baca

3 Cara Mensyukuri Nikmat Allah dan Menjaga Amanah dalam Kehidupan

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

3 Cara Mensyukuri Nikmat Allah dan Menjaga Amanah dalam Kehidupan
Mensyukuri nikmat Allah tidak hanya cukup dengan lisan, tetapi juga harus dibuktikan melalui tindakan nyata seperti menjaga alam ciptaan-Nya sebagai bentuk amanah. (Ilustrasi: AI Generated)

Pernahkah kita menghitung berapa banyak kemudahan hidup yang kita nikmati hari ini? Kita sering menerima kesehatan, keluarga, dan rezeki secara cuma-cuma tanpa perenungan mendalam. Padahal, kunci meraih keberkahan hidup bermula dari cara kita mensyukuri nikmat Allah setiap waktu.

Syukur ini tentu tidak boleh berhenti pada ucapan lisan semata. Setiap karunia yang melekat pada diri kita selalu membawa tanggung jawab yang sangat besar. Oleh karena itu, kita wajib menjaga amanah tersebut melalui perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT berfirman mengenai pentingnya syukur dalam QS. Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.

Ayat tentang bersyukur ini mengajarkan kita sebuah makna yang sangat mendalam. Mensyukuri nikmat Allah bukan sekadar mengucapkan lafaz “Alhamdulillah”. Syukur sesungguhnya merupakan sebuah fondasi dan sikap hidup bagi seorang Muslim.

Saat Allah SWT mengaruniakan nikmat sehat, kita menggunakan kesehatan itu untuk beribadah dan berbuat baik. Saat Allah melimpahkan rezeki, kita memanfaatkan harta tersebut untuk memenuhi kebutuhan secara halal. Kita juga menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama.

Begitu pula saat Allah menitipkan ilmu, kita membagikan ilmu itu agar bermanfaat bagi orang lain. Bumi, keluarga, rumah, dan pekerjaan juga merupakan bentuk karunia besar. Oleh karena itu, kita wajib merawat dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Nikmat Membawa Tanggung Jawab

Terkadang, kita memandang karunia Allah hanya dari sisi kesenangan duniawi semata. Kita memiliki banyak uang, kita menyebutnya nikmat. Kita menempati rumah mewah, kita menganggapnya nikmat. Bahkan, kita meraih jabatan tinggi, kita merayakannya sebagai kesuksesan besar.

Padahal, kita harus menanyakan satu hal yang jauh lebih penting. Mengapa Allah SWT menitipkan semua fasilitas hidup itu kepada kita? Setiap pemberian pasti menuntut pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Allah SWT memberi kita tangan, sehingga kita harus menahan tangan ini dari menyakiti orang lain. Allah SWT mengaruniakan lisan, sehingga kita wajib menjaga ucapan dari menghina atau memfitnah sesama. Dan Allah SWT pula yang menganugerahkan mata, sehingga kita harus menghindari tontonan yang haram.

Selain itu, Allah SWT memercayakan harta agar kita menjauhi tempat maksiat. Allah SWT juga meminjamkan bumi ini agar kita merawat kelestariannya, bukan merusaknya. Inilah bukti nyata bahwa nikmat selalu berjalan beriringan dengan amanah.

Banyak orang mengaku telah bersyukur, tetapi perilakunya justru berlawanan. Mereka membuang sisa makanan dengan sia-sia setiap hari. Mereka memakai air secara berlebihan dan membuang sampah sembarangan. Bahkan, mereka menimbun barang melebihi batas kebutuhannya.

Menghargai Titipan Sebelum Hilang

Oleh karena itu, cara bersyukur harus tercermin jelas dalam keseharian kita. Perilaku kita dalam memperlakukan alam juga menunjukkan kualitas iman di dalam dada.

Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ayat ini tidak hanya membahas aturan tata krama makan dan minum. Lebih jauh, Islam mengajarkan kita untuk hidup secukupnya dan tidak menyia-nyiakan fasilitas alam. Air bersih, udara segar, dan pohon rindang merupakan ciptaan Allah yang sangat berharga.

Bagi seorang Muslim, menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar urusan sosial atau regulasi pemerintah. Merawat bumi justru menjadi wujud nyata dalam mensyukuri nikmat Allah.

Sayangnya, manusia sering baru menyadari nilai sebuah pemberian setelah kehilangannya. Saat sehat bugar, kita sering mengabaikan waktu beribadah. Setelah jatuh sakit parah, barulah kita berandai-andai ingin kembali beraktivitas.

Saat orang tua masih hidup, kita sibuk mengejar urusan pribadi. Setelah mereka tiada, barulah kita menangis menyesali kurangnya waktu berbakti. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan umatnya untuk memaksimalkan masa luang sebelum datang masa sempit.

Tiga Bentuk Syukur dalam Keseharian

Secara praktis, kita bisa menerapkan tiga bentuk syukur utama dalam kehidupan sehari-hari agar hidup lebih berkah.

Pertama, kita bersyukur melalui keyakinan hati. Kita meyakini sepenuh hati bahwa semua pencapaian murni berasal dari pertolongan Allah SWT. Kita sukses bukan semata-mata karena kecerdasan atau kerja keras pribadi. Allah-lah yang membuka jalan kemudahan sehingga ikhtiar kita membuahkan hasil.

Kedua, kita bersyukur melalui ucapan lisan. Kita harus memperbanyak kalimat Alhamdulillah untuk memuji kebesaran-Nya. Namun, kita tentu tidak boleh berhenti hanya pada ucapan bibir semata.

Ketiga, kita bersyukur melalui tindakan dan perbuatan. Langkah pembuktian ini sering kali terasa paling berat bagi banyak orang. Jika Allah memberi ilmu, kita wajib mengajarkannya. Jika Allah menitipkan posisi pemimpin, kita harus melayani masyarakat dengan penuh keadilan. Atau jika kita tinggal di lingkungan yang bersih, kita wajib merawatnya bersama-sama. Syukur yang sejati pasti akan mengubah setiap titipan menjadi amal kebaikan abadi.

Sebagai penutup, mari kita menanamkan satu kesadaran penting setelah membaca tulisan ini. Semua yang menempel pada diri kita hari ini adalah anugerah sekaligus ujian. Kita tidak pantas sekadar bertanya apa yang telah Allah berikan. Kita harus mulai bertanya, apa yang sudah kita kerjakan terhadap titipan tersebut?

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi hamba yang pandai mensyukuri nikmat Allah. Semoga setiap tetes rezeki ini semakin mendekatkan kita kepada-Nya, bukan malah membuat kita lalai dari ketaatan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُؤَدِّينَ لِلْأَمَانَةِ “

Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur dan mampu menunaikan amanah.” Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: