Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 11 menit baca

Kapan Manusia Bisa Merasa Cukup?

Dr. Sofa Muthohar, M.Ag

Sekretaris Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Akademisi Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo

Kapan Manusia Bisa Merasa Cukup?
Sikap qanaah dan merasa cukup atas harta dalam Islam menjadi kunci utama meraih ketenangan hidup di tengah gemerlapnya dunia.

Ada satu pertanyaan sederhana yang maknanya semakin dalam ketika kita merenungkannya. Kapan manusia bisa benar-benar merasa cukup? Pertanyaan ini memegang peranan penting karena kita sering menemui siklus hidup yang seolah tidak pernah selesai.

Ketika belum memiliki rumah, kita ingin punya rumah. Setelah memiliki rumah, kita ingin rumah yang lebih besar. Ketika penghasilan masih sedikit, kita ingin penghasilan yang lebih banyak.

Ketika sudah mendapatkan kedudukan, kita masih ingin posisi yang lebih tinggi. Bahkan ketika satu keinginan sudah tercapai, sering kali muncul keinginan berikutnya. Satu demi satu, seperti tidak ada ujungnya.

Materi renungan “Kapan Manusia Bisa Merasa Cukup?” ini mengajak kita menelaah persoalan tersebut melalui kacamata Q.S. Al-Hadid ayat 20–21. Kita perlu menemukan jawaban agar hati bisa menerapkan prinsip qanaah.

Ketika Keinginan Tidak Pernah Selesai

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan kesenangan belaka. Manusia cenderung saling berbangga dan berlomba memperbanyak harta serta anak keturunan. Allah kemudian memberi perumpamaan tentang hujan yang menumbuhkan tanaman dan memukau para petani.

Tanaman yang indah itu pada akhirnya menguning, mengering, lalu hancur berserakan. Ayat ini mengingatkan kita bahwa keindahan dunia memiliki batas akhir. Tidak ada kemewahan yang berlangsung selamanya.

Kalau kita perhatikan, gambaran Al-Qur’an tersebut sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Manusia biasanya memulai dari keinginan untuk mendapatkan kenyamanan. Setelah nyaman, ia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dari perbandingan itu muncul keinginan baru. Ketika orang lain memiliki sesuatu yang lebih, kita merasa perlu mengejarnya. Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.

Bukan hanya perlombaan mencari uang, tetapi juga perlombaan mendapatkan rumah yang lebih bagus, kendaraan yang lebih baik, jabatan yang lebih tinggi, penghargaan yang lebih banyak, bahkan pengakuan dari orang lain. Materi ini menyebut bahwa perlombaan dunia hampir tidak memiliki garis finis.

Kita perlu menghentikan sejenak rutinitas ini dan mulai bertanya kepada diri sendiri. Apa tujuan utama dari semua pengejaran ini? Kita harus bisa membedakan antara memenuhi kebutuhan hidup atau sekadar menuruti hawa nafsu.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang sedang kita kejar? Apakah kita sedang mengejar kebutuhan atau sekadar mengejar keinginan? Apakah kita sedang berusaha meningkatkan kualitas hidup, atau justru sedang membangun kehidupan yang mengukur segalanya dari apa yang orang lain miliki?”

Pertanyaan ini penting karena manusia bisa memiliki banyak hal, tetapi belum tentu merasa cukup. Bahkan terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang dikhawatirkan.

Ketika belum punya rumah, kita memikirkan bagaimana cara mendapatkannya. Setelah punya rumah, kita memikirkan bagaimana merenovasinya. Setelah rumah menjadi lebih baik, kita mulai membandingkannya dengan rumah orang lain.

Begitu pula dengan harta dan kedudukan. Keinginan yang satu selesai, keinginan yang lain muncul.

Mewaspadai Harta sebagai Tujuan Utama Hidup

Rasulullah ﷺ telah menggambarkan kecenderungan manusia tersebut dalam sebuah hadis:

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut bukan berarti Islam melarang manusia menjadi kaya. Islam juga tidak mengajarkan bahwa orang yang memiliki banyak harta pasti tamak. Yang perlu kita waspadai adalah ketika harta dan kedudukan berubah dari alat menjadi tujuan hidup.

Manusia boleh kaya, boleh sukses, dan boleh memiliki banyak hal. Tetapi jangan sampai semua itu menjadi sumber utama kebahagiaan dan harga diri.

Materi renungan ini menggambarkannya seperti meminum air laut. Ketika seseorang haus, ia berharap air dapat menghilangkan dahaga. Tetapi jika ia meminum air laut, semakin banyak minum justru semakin haus.

Begitulah gambaran keinginan duniawi jika kita tidak mengendalikannya. Semakin banyak mendapatkan, semakin ingin mendapatkan lebih banyak lagi.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar banyak atau sedikitnya harta. Persoalannya adalah apa yang terjadi di dalam hati ketika harta itu datang.

Apakah harta membuat kita semakin bersyukur atau semakin takut kehilangan? Apakah jabatan membuat kita semakin rendah hati atau semakin ingin dihormati? Dan apakah keberhasilan membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin sibuk mengejar pengakuan manusia?

Jadikan Harta Sebagai Alat, Bukan di Hati

Di sinilah kita menemukan sesuatu yang menarik dari QS. Al-Hadid. Setelah Allah mengingatkan manusia tentang perlombaan dunia, Allah tidak mengatakan, “Berhentilah berlomba.” Sebaliknya, Allah justru berfirman:

“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi…”
(QS. Al-Hadid: 21).

Seolah-olah Allah mengajarkan kepada kita: silakan berlomba, tetapi jangan salah menentukan tujuan.

Kalau selama ini kita berlomba untuk mendapatkan lebih banyak harta, ubahlah menjadi perlombaan untuk mendapatkan harta yang lebih berkah. Kalau kita berlomba mengejar kesuksesan, jadikan kesuksesan itu semakin bermanfaat.

Dan kalau kita mengejar kedudukan, jadikan kedudukan itu sebagai kesempatan untuk melayani. Atau kalau kita ingin meninggalkan sesuatu setelah meninggal dunia, jangan hanya meninggalkan harta, tetapi tinggalkan pula kebaikan.

Kita tidak perlu membenci dan meninggalkan dunia.. Kita cukup menempatkan dunia pada tempat yang benar. Dunia menjadi alat, bukan tujuan akhir.

Kita dapat melihat gambaran tersebut dalam kehidupan para sahabat Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah Utsman bin Affan r.a. Beliau dikenal sebagai sahabat yang kaya. Namun kekayaan itu tidak membuat beliau hanya memikirkan dirinya sendiri. Beliau membeli sumur Raumah untuk kepentingan kaum Muslimin dan menggunakan hartanya untuk membantu persiapan Tabuk.

Ada beberapa riwayat mengenai harga sumur Raumah, sehingga nominal yang disebutkan berbeda-beda. Karena itu, pelajaran yang paling penting bukanlah memastikan satu angka tertentu, melainkan melihat apa yang dilakukan Utsman R.A. terhadap kekayaannya. Harta yang beliau miliki menjadi sarana yang memberi manfaat bagi orang lain

Ini menunjukkan sebuah prinsip sederhana: dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati kita.

Kedermawanan dan Ketenangan Hidup dalam Islam

Orang kaya tidak harus meninggalkan kekayaannya untuk menjadi saleh. Orang kaya perlu memastikan bahwa mereka memperoleh kekayaan itu dengan cara yang baik dan menggunakannya pada jalan yang baik. Harta dapat menjadi sarana ibadah. Harta dapat mereka gunakan untuk membantu orang yang kesulitan, membangun kemaslahatan, bersedekah, berwakaf, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Hal yang sama dapat kita renungkan dari kisah Abdurrahman bin Auf r.a. Beliau adalah seorang saudagar yang sukses. Materi ini menyebutkan salah satu riwayat bahwa beliau menjual tanah salah satu riwayat bahwa beliau menjual tanah senilai 40.000 dinar dan membagikan hasilnya kepada orang-orang yang membutuhkan, termasuk dari Bani Zuhrah dan para Ummahatul Mukminin.

Pembaca masa kini tentu sulit membayangkan angka 40.000 dinar. Sebagai perumpamaan berdasarkan berat emas, jika satu dinar diperkirakan sekitar 4,25 gram emas, maka 40.000 dinar setara dengan sekitar 170 kilogram emas.

Jika kita mengonversikan menggunakan harga emas masa kini, nilainya berada pada kisaran ratusan miliar rupiah. Angka tersebut hanyalah ilustrasi agar kita mendapatkan gambaran skala kekayaannya; bukan kurs langsung antara dinar pada masa itu dengan rupiah sekarang.

Namun, sekali lagi, bukan angka yang menjadi inti kisahnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan kekayaan tersebut. Abdurrahman bin Auf R.A. menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi kaya sekaligus dermawan. Seseorang dapat memiliki banyak harta tanpa menjadikan harta sebagai pusat kehidupannya.

Kenapa bisa begitu? Disaat banyak orang yang inginnya menumpuk harta sebanyak-banyaknya dan membelanjakan sedikit dikitnya, seakan-akan dia ingin menguasai dunia.

Dari sini kita mendapatkan pelajaran yang sangat penting: kesalehan tidak identik dengan kemiskinan, sebagaimana kekayaan juga bukan ukuran kesalehan. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang mendapatkan dan menggunakan hartanya.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Berapa banyak harta yang saya miliki?” tetapi, “Apa yang sudah saya lakukan dengan harta yang Allah titipkan kepada saya?”

Kapan Manusia Bisa Merasa Cukup?

Pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat kekayaan. Harta bukan lagi sekadar sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi amanah yang suatu hari akan kita pertanggungjawabkan.

Salah satu jawabannya adalah ketika hati sudah mau memasuki qanaah. Qanaah yang sebenarnya.

Kita memahami qanaah sebagai sikap rida, rela, dan merasa cukup bersama Allah SWT.dalam setiap langkah, terhadap apa yang ditunjukkan, dibimbingankan dan diberikan dari Allah SWT dan tidak berharap pemberian apapun dari selain yang diridai-Nya.

Kita bekerja dengan mencukupkan diri dengan cara yang halal. Kita membelanjakan harta cukup pada jalan yang benar. Dan kita berharap cukup dengan harapan-harapan yang benar yang sesuai dengan perintah Allah dan tidak melanggar aturan Allah SWT.

Qanaah kadang disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal qanaah bukan seperti itu. Orang yang qanaah tetap bekerja, tetap berusaha. Dia tetap memiliki cita-cita yang luhur. Tetap ingin kehidupannya lebih baik karena dia menyadari bahwa ada tugas penting yang harus di tunaikannya yaitu menjadi khalifah di bumi.

Maka seorang yang qanaah dia memiliki iman yang sangat kuat dan merasa cukup dengan petunjuk dan bimbingan Allah SWT dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan yang dihadapinya.

Qanaah Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha

Dia menyadari bahwa tidak semua keinginan, harus terwujud, karena bisa jadi keinginan manusia berbeda dengan keinginan Tuhannya. Apa ang dia anggap baik belum tentu baik. Dan apa yang dia anggap buruk bisa jadi itu yang baik baginya.

Namun ada satu keyakinan bahwa apa yang terjadi padanya dan pada masalah yang dihadapinya terdapat daya, energi dan kekuatan dari Allah SWT. Bahkan mereka menyadari bahwa daya dan kekuatannya sendiri tiada bermakna tanpa daya dan kekuatan dari Allah SWT. Sehingga hasil dari pekerjaan dan keinginannya tidak harus berhasil sesuai bayangannya, karena bayangannya sendiri memiliki keterbatasan.

Ia meyakini bahwa hasil apa pun yang ia raih merupakan hasil terbaik yang Allah SWT pilihkan untuknya. Ia berusaha mendapatkan yang terbaik, tetapi ketika hasilnya tidak sesuai harapan, ia tidak merasa hidupnya berakhir. Ia tetap mampu bersyukur. Ia percaya bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahuinya.

Dalam posisi qanaah tersebut diatas dia memasuki tahap rida terhadap semua upaya dan rida terhadap semua hasil yang Allah SWT bimbing dan berikan. Dengan demikian, akan lebih mudah baginya untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT. (rodhiyatam mardiyah [Qs. Al Bayyinah])

Karena itu, qanaah bukan lawan dari ikhtiar. Dalam materi ini, proses qanaah meliputi lima hal: rida, ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal.

Ada doa yang sangat indah untuk menggambarkan sikap tersebut:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Doa ini mengajarkan bahwa yang kita cari bukan semata-mata sebanyak-banyaknya harta, tetapi kecukupan yang halal dan keberkahan yang membuat hati tidak bergantung kepada selain Allah.

Makna Qanaah sebagai Kunci Ketenangan Hidup

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qanaah terhadap apa yang telah diberikan kepadanya. (HR. Muslim no. 1054).

Perhatikan baik-baik: Rasulullah ﷺ tidak menyebut keberuntungan sebagai keadaan ketika seseorang memiliki segala sesuatu yang diinginkannya. Rasulullah justru menyebut rezeki yang cukup dan hati yang qanaah

Mungkin kita tidak memiliki rumah sebesar rumah orang lain, tetapi kita mempunyai tempat untuk pulang. Mungkin penghasilan kita tidak sebanyak orang lain, tetapi rezeki itu halal dan cukup untuk keluarga, cukup untuk zakat, cukup untuk bersedakah dan cukup untuk amal jariyah, dan cukup untuk menjalankan semua kewajiban dan perintah dari Allah SWT.

Atau mungkin jabatan kita tidak setinggi yang kita impikan, tetapi melalui posisi yang sekarang kita masih bisa membantu banyak orang, berbuat baik, membuat suasana yang baik dan meningkatkan kedekatan dengan sang pencipta.

Bukankah itu juga nikmat?

Sering kali kita terlalu sibuk melihat apa yang belum ada sampai lupa melihat begitu banyak yang sudah Allah berikan. Qanaah mengajarkan kita untuk tetap punya cita-cita tanpa menjadi budak keinginan.

Kita boleh ingin mendapatkan lebih baik, tetapi jangan sampai kita merasa bahwa kebahagiaan hanya akan datang setelah semua yang kita inginkan terpenuhi. Pada akhirnya, kita perlu kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: dalam hidup ini, apa yang sebenarnya layak dikejar?

Nikmati Dunia Tanpa Menjadikannya Tujuan Akhir

Harta boleh dikejar, tetapi kejarlah harta yang halal dan berkah. Kedudukan boleh dicari, tetapi jadikan kedudukan sebagai kesempatan untuk memberi manfaat. Kesuksesan boleh diperjuangkan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa kepada Allah.

Sebab rumah yang kita bangun pada akhirnya akan kita tinggalkan. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Jabatan yang kita pegang akan kita berikan kepada orang lain. Pujian manusia pun akan berlalu.

Lalu apa yang akan tinggal? Iman, amal, dan ilmu yang bermanfaat.

Akhlak yang baik. Dan kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain. Karena itu, jangan berhenti berusaha. Yang perlu kita ubah adalah arah dari usaha tersebut pada yang lebih tinggi.

Jangan hanya berlomba menjadi lebih kaya, tetapi berlombalah menjadi lebih bermanfaat. Jangan hanya mengejar pengakuan manusia, namun ridho dengan Allah dan mendapatkan keridaan Allah. Dan jangan hanya memikirkan warisan berupa harta, tetapi pikirkan pula warisan berupa kebaikan. Apapun yang membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama, itulah yang layak diperjuangkan.

Pada akhirnya, qanaah bukan berarti memiliki sedikit. Qanaah adalah ketika hati tidak diperbudak oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak. Qanaah bukan berarti berhenti berusaha, tetapi berhenti menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang belum kita miliki.

Maka, milikilah harta tanpa diperbudak oleh harta. Milikilah kedudukan tanpa diperbudak oleh kedudukan. Nikmatilah dunia tanpa menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Harta dan kedudukan cukup berada di tangan. Jangan sampai keduanya menetap di hati. Sebab hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa dekat kita kepada Allah dan seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan untuk sesama.

Jangan kejar dunia semata. Dekat dengan Allah, hidup lebih bermakna.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: