Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Perjuangan Srikandi Karonsih Merawat Militansi di Barisan KOKAM Muhammadiyah

2 Oktober 2026, 17:47 WIB • 2 menit baca
Ibu Asnelly mengenakan seragam loreng KOKAM Muhammadiyah lengkap dengan baret merah dan kacamata hitam, sedang menggandeng dua anak kecil berpakaian adat tradisional di sebuah acara lapangan terbuka.
Tampil gagah berbalut seragam loreng kebanggaan, Asnelly, srikandi KOKAM Muhammadiyah, menggandeng anak-anak berpakaian tradisional. Momen ini memotret sisi humanis dan kehangatan seorang ibu di balik ketegasannya memegang teguh komando KOKAM.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di antara ratusan peserta pria, Asnelly berdiri sebagai satu-satunya perempuan yang menempa fisik di barisan KOKAM Muhammadiyah. Perjuangan tangguhnya membuktikan militansi tanpa batas dalam mengawal persyarikatan.

Perjalanan inspiratif ini terungkap di Semarang pada Jumat, 2 Oktober 2026. Hasil wawancara oleh tim muhammadiyahsemarangkota.org, ibu rumah tangga asal Karonsih ini mantap bergabung. Ia melangkah ke medan gemblengan hanya dengan membawa dua pasang pakaian di dalam tasnya.

Ujian Fisik Ekstrem dan Keteguhan Hati

Udara pagi yang dingin kerap menusuk tulang selama mengikuti diklat. Sebagai satu-satunya peserta wanita, ia harus melahap porsi latihan berat seperti merayap di tanah dan berguling-guling. Kendati demikian, semangatnya tidak pernah surut sedikit pun.

Selain itu, berbagai tantangan logistik turut menguji ketahanan mentalnya di lapangan. Ia terbiasa menyantap makanan seadanya serta memasak kilat dalam durasi tiga menit menggunakan kompor darurat. Meskipun situasi tersebut terasa asing, ia tetap menjalaninya dengan penuh kesadaran.

Menjaga Marwah di Bawah Satu Komando

Bagi dirinya, kedisiplinan merupakan fondasi utama dalam berorganisasi. Ia memegang teguh prinsip bahwa setiap instruksi pimpinan wajib dipatuhi tanpa pengecualian. Sikap militan ini mencerminkan bentuk nyata dari pengabdian kader Muhammadiyah yang tulus.

Di samping itu, ia menegaskan bahwa loyalitas kepada organisasi adalah harga mati. “Apapun yang harus dikatakan atasan, kita harus ikut, tidak boleh lepas dari apa yang dibilang komando kita,” ungkapnya dengan tegas. Prinsip komando KOKAM tersebut membimbing setiap langkahnya dalam menghadapi berbagai rintangan.

Selanjutnya, keterlibatannya dilandasi oleh rasa cinta yang mendalam terhadap persyarikatan. “KOKAM adalah persatuan yang tangguh yang harus bisa menjaga Muhammadiyah, terutama aset-aset dan juga menjaga kiai-kiai dan apapun itu yang ditanggungkan untuk kita,” ujarnya menjelaskan. Melalui kesadaran ini, ia mendedikasikan diri sepenuhnya demi keamanan aset Muhammadiyah.

Menjelang akhir pengabdiannya, ia menitipkan harapan besar bagi regenerasi masa depan. Ia ingin melihat lebih banyak Srikandi baru yang meneruskan estafet perjuangan organisasi. “Saya pribadi KOKAM, KOKAM jaya, tetap di hati,” pungkasnya penuh kebanggaan.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Albari
Bagikan: