Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

‎60 Tahun KOKAM, Lahir Di Tengah Bara G 30 S, Bertahan Menjadi Tameng Muhammadiyah

3 Oktober 2026, 16:01 WIB • 3 menit baca
Baret merah dan atribut KOKAM Muhammadiyah di tengah bara api dengan latar cahaya matahari terbit sebagai simbol Milad KOKAM ke 60
Baret merah KOKAM Muhammadiyah berdampingan dengan bara api dan pendar cahaya matahari, merefleksikan perjalanan panjang dari bara sejarah menuju cahaya pengabdian.

Enam dekade silam, sebuah barisan lahir dari rahim kegelisahan di tengah malam yang mencekam. Kini, di usia Milad KOKAM ke 60, pasukan loreng tersebut terus merajut arti sejati dari sebuah pengabdian kemanusiaan.

Perjalanan panjang itu mengema dalam momentum tasyakuran yang dipusatkan di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pada Kamis, 1 Oktober 2025. Sejak pagi, para kader berkumpul untuk merefleksikan kembali sejarah berdirinya KOKAM 1965 yang penuh liku.

Malam itu, Jakarta belum sepenuhnya melepas lelah ketika kabar buruk berderap dari corong radio. Jakarta dicekam ketegangan pekat akibat penculikan para jenderal pada pengujung September 1965. Di tengah pusaran konflik politik yang membakar Republik, Muhammadiyah mengambil langkah cepat. Dari ruang kursus Takari Pemuda Muhammadiyah, sebuah komando lahir demi menjaga keselamatan umat.

KOKAM tidak berdiri di atas angin yang tenang. Ia lahir di tepi jurang sejarah ketika ketegangan antara kelompok Islam dan komunis mengeras di berbagai daerah. Ingatan kolektif kader merekam jelas benturan di akar rumput, termasuk Peristiwa Kanigoro yang mengguncang nurani umat. Situasi saat itu menuntut keberanian mutlak tanpa kompromi.

Namun, waktu berjalan cepat dan zaman mengubah wajah musuhnya. Enam dekade telah berlalu sejak bara 1965 menyala di bumi pertiwi. Hari ini, tidak ada lagi derap konflik ideologis berdarah yang menjadi panggung utama mereka. Medan juang KOKAM telah bergeser jauh ke hamparan bumi yang diuji bencana alam dan darurat kemanusiaan.

Transformasi Menuju Garda Depan Kemanusiaan

Transformasi ini menegaskan filosofi baru yang dipegang teguh oleh setiap kader di lapangan. KOKAM masa kini memilih untuk tidak lagi diukur dari seberapa keras kepalan tangan mereka di udara.

Komandan Nasional KOKAM menegaskan pergeseran orientasi perjuangan tersebut secara lugas dalam pidatonya. Ia menyatakan bahwa ukuran kekuatan pasukan hari ini sepenuhnya terletak pada kerja nyata di tengah masyarakat.

“Ukuran sejati sebuah pasukan pengawal umat kini bukan lagi seberapa keras kepalan tangan di udara. Kekuatan kita terletak pada seberapa banyak uluran tangan yang mampu diberikan kepada sesama manusia yang sedang jatuh,” ujarnya di hadapan ribuan kader.

Prinsip tersebut langsung diterjemahkan dalam berbagai aksi nyata penanggulangan krisis di berbagai penjuru nusantara. Setiap kali bencana melanda, barisan ini selalu bergerak cepat menembus medan yang sulit.

Filosofi KOKAM Muhammadiyah di Era Modern

Di balik baret dan seragam loreng yang gagah, tersimpan sebuah amanah pengabdian yang tidak ringan. Ketika letusan erupsi gunung memuntahkan abu, barisan ini kerap hadir lebih awal di titik evakuasi.

Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah turut menggarisbawahi pentingnya menjaga marwah organisasi melalui ketulusan moral. Ia mengingatkan para kader agar senantiasa mengedepankan aspek kemanusiaan universal di atas segalanya.

“KOKAM tidak boleh kehilangan arah di tengah derasnya arus zaman modern. Tetaplah menjadi penjaga nilai persyarikatan yang merendahkan hati di hadapan kemanusiaan,” tuturnya saat memberikan pembinaan kader.

Semangat itu merajut napas panjang pengabdian selama enam puluh tahun penuh. Sejarah berdirinya KOKAM 1965 mengajarkan cara berdiri teguh di tengah badai politik. Sebaliknya, perjalanan hari ini membuktikan cara merawat kedamaian sosial.

Merajut Cahaya di Ujung Usia Emas

Filosofi KOKAM Muhammadiyah menjelma menjadi kompas moral yang menuntun setiap langkah organisasi. Nilai-nilai kepemimpinan lapangan terus ditanamkan agar generasi muda tidak melupakan akar sejarah perjuangannya.

Ketua Panitia Milad KOKAM menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh anggota yang tetap konsisten mengabdi tanpa pamrih. Ia menekankan bahwa loyalitas tanpa batas adalah kunci utama kelangsungan korps.

“Loyalitas kader diuji bukan saat fasilitas tercukupi, melainkan ketika panggilan darurat umat datang di tengah malam yang sunyi,” ungkapnya menegaskan dedikasi pasukan.

Sebab pada akhirnya, seragam loreng dan baret kebanggaan itu bukanlah simbol pertikaian. Di usia emas ini, KOKAM membuktikan bahwa dari bara sejarah yang kelam, lahirlah cahaya abadi penuntun umat.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Albari
Bagikan: