Lelah Berburu Pengakuan Manusia? Ini Tiga Kunci Kebahagiaan Hakiki yang Sering Terlupakan
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Pengejaran tanpa henti terhadap standar hidup duniawi kerap kali menjebak manusia dalam dahaga validasi yang tak pernah tuntas. Banyak orang sibuk memburu tepuk tangan sesama, namun justru kehilangan keheningan batin dan kedamaian jiwa yang paling mendasar.
Pesan reflektif tersebut mengemuka dalam khutbah Jumat di Masjid Ukhuwah Islamiyah El Azhar, Semarang, Jumat (2/10/2026). Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Ust. Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., mengurai secara mendalam hakikat kebahagiaan sejati yang bersumber dari keteguhan komitmen beragama.
Khatib membedah pandangan ilmuwan Barat, Glock dan Stark, mengenai pilar komitmen keagamaan yang meliputi iman, ilmu, ritual, pengalaman, hingga konsekuensi perilaku. Penguat akademis tersebut kemudian bertaut rapat dengan gambaran karakter mukmin sejati yang Al-Qur’an dan Hadis gariskan.
“Setiap orang tentu menginginkan kebahagiaan. Namun kebahagiaan yang kita cari bukanlah yang bersifat semu, melainkan kebahagiaan hakiki ketika kita berada di jalan rida Allah,” tegas Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang itu di hadapan jamaah.
Keberanian Bertobat dan Kesadaran Diri Sebagai Hamba
Pintu gerbang menuju kebahagiaan hakiki bermula dari keberanian untuk mengakui kelemahan diri melalui istigfar. Tak ada satu pun manusia yang luput dari kekhilafan, bahkan Rasulullah SAW yang dijamin surga pun memohon ampun hingga 100 kali setiap harinya.
Pengakuan atas Dosa ini membawa manusia pada kesadaran penuh (self awareness) akan tugas utamanya sebagai hamba Pencipta. Ketika seseorang menyadari peran hidupnya murni untuk beribadah, ia tidak lagi menyiksa diri demi mengejar penilaian orang lain.
Pengendalian diri secara otomatis akan tumbuh tatkala orientasi hidup bergeser dari mencari pujian manusia menuju pencarian rida Ilahi. Setiap ucapan dan perbuatan terjaga rapat karena adanya kompas moral internal yang senantiasa hidup.
“Siapa yang mencari rida Allah, maka Allah akan meridainya dan membuat manusia meridainya. Sebaliknya, siapa yang hanya memburu rida manusia, ia akan memanen kemurkaan Allah,” jelas Penasihat Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jawa Tengah tersebut.
Merawat Ketenangan Batin Lewat Tiga Pilar Syukur
Pilar utama selanjutnya yang memancarkan kebahagiaan sejati adalah ketulusan dalam bersyukur atas segala ketetapan hidup. Dosen FITK UIN Walisongo Semarang itu mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai tiga pilar syukur, yakni dimensi ilmu, keadaan batin (hal), dan tindakan nyata (amal).
Melalui ilmu, seseorang menyadari penuh bahwa setiap nikmat bersumber dari Allah Swt. Sementara melalui tindakan dan keikhlasan batin, ia sanggup menerima segala dinamika kehidupan baik suka maupun duka sebagai bagian dari takdir yang mendewasakan.
Sebaliknya, sikap berpaling dari pencerahan Ilahi hanya akan membuahkan rasa sesak dan ketidaktenangan dalam dada. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus selalu mendatangkan ketenteraman, sedangkan dosa senantiasa menyisakan kegelisahan.
“Mengingat Allah melalui zikir dan rasa syukur akan mendatangkan ketenangan batin yang hakiki. Kebersyukuran inilah yang mengubah setiap ujian hidup menjadi energi kebaikan yang menentramkan jiwa,” pungkas Dosen FITK UIN Walisongo Semarang tersebut.