Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Memilih Pimpinan Muhammadiyah

Dr. H. AM. Jumai, SE., MM.

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Memilih Pimpinan Muhammadiyah
Dr. H. AM. Jumai, SE., MM., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)

Muhammadiyah berdiri kokoh di atas fondasi dakwah, tajdid, pembaruan, pendidikan, pelayanan sosial, dan penguatan kehidupan umat. Karena itu, warga Persyarikatan yang memilih pimpinan Muhammadiyah pada setiap jenjang bukan sekadar menempatkan seseorang pada posisi struktural. Lebih dari itu, pemilih menitipkan amanah besar kepada sosok pimpinan untuk menjaga marwah, ideologi, visi, dan keberlangsungan gerakan Persyarikatan ke depan.

Menjadi pimpinan Muhammadiyah bukanlah sebuah jabatan atau profesi keduniawian semata. Posisi ini menuntut tanggung jawab yang sangat berat. Oleh karena itu, seorang pemimpin Muhammadiyah wajib memiliki bekal kekuatan spiritual, kultural, dan struktural yang mumpuni.

Kekuatan spiritual melahirkan ketakwaan, keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan moral. Pemimpin juga harus memiliki kesadaran penuh bahwa ia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinan ini secara langsung di hadapan Allah SWT.

Selanjutnya, Persyarikatan membutuhkan kekuatan kultural agar pimpinan Muhammadiyah memahami akar tradisi, nilai, sejarah, dan karakter luhur organisasi. Sementara itu, kekuatan struktural membantu pengemban amanah bekerja secara sistematis, mengelola tata organisasi, membangun kolaborasi, serta menggerakkan seluruh potensi kader Muhammadiyah maupun amal usaha yang ada.

Pentingnya Rekam Jejak dan Kaderisasi

Dalam konteks kaderisasi, kita sangat perlu mencermati rekam jejak perjalanan seseorang di dalam Persyarikatan. Proses pembentukan kepemimpinan bersumber dari jenjang pengkaderan, keaktifan di organisasi otonom (Ortom), pengalaman ber-Muhammadiyah, kontribusi nyata, serta pengabdian di amal usaha.

Meskipun lamanya seseorang menetap dalam struktur tidak otomatis menjadikannya pemimpin terbaik, ketekunan berproses memberi ruang nyata bagi kader Muhammadiyah untuk menguji kematangan, loyalitas, kapasitas, dan keteladanan.

Kriteria pimpinan Muhammadiyah yang tidak kalah penting adalah penguatan ideologi. Seorang pemimpin harus sungguh-sungguh memahami dan menghayati nilai-nilai dasar kepribadian Muhammadiyah, bukan sekadar mengenali simbol atau memakai atribut organisasinya.

Kepribadian Muhammadiyah harus menjiwai setiap langkah kepemimpinan. Ilmu, kemampuan manajerial, jaringan sosial, dan popularitas mutlak harus berjalan beriringan dengan akhlak, keteladanan, dan komitmen murni terhadap Persyarikatan.

Menjaga Integritas dan Menolak Pelanggaran Etika

Pada setiap jenjang kepemimpinan—mulai dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, hingga Pimpinan Ranting—seluruh elemen harus memberi perhatian serius pada integritas moral. Pimpinan Muhammadiyah wajib menampilkan rekam jejak yang bersih dan pantas menjadi teladan bagi umat.

Warga Persyarikatan tidak boleh lagi menoleransi perbuatan yang melanggar norma agama, hukum, etika, dan nilai organisasi. Kita tidak bisa sekadar menganggap pelecehan seksual, perselingkuhan, penyalahgunaan wewenang, kekerasan, maupun bentuk perbuatan tercela lainnya sebagai persoalan pribadi jika hal tersebut merusak marwah dan menghilangkan kepercayaan umat terhadap Persyarikatan.

Mewujudkan Kepemimpinan yang Progresif

Karena itu, proses memilih pimpinan Muhammadiyah harus dilakukan secara objektif, bermartabat, transparan sesuai mekanisme organisasi, serta mengedepankan musyawarah. Jangan memilih hanya karena kedekatan, popularitas, kepentingan kelompok, atau kekuatan jaringan. Pilihlah mereka yang memiliki integritas, kapasitas, loyalitas, keteladanan, kemampuan membangun ukhuwah, serta keberanian membawa Muhammadiyah menghadapi tantangan zaman.

Kita tentu menyambut dengan penuh harap lahirnya pimpinan Muhammadiyah yang amanah, progresif, berintegritas, berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki keberpihakan yang kuat terhadap gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Kita mendambakan figur kepemimpinan yang mampu merawat tradisi baik, berani melakukan pembaruan, memperkuat sistem kaderisasi, membesarkan amal usaha, serta senantiasa menghadirkan kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mencerahkan dan memajukan kehidupan bangsa.

Pada akhirnya, kepemimpinan Muhammadiyah bukan tentang siapa yang paling tinggi kedudukannya, tetapi siapa yang paling siap memikul amanah, bekerja untuk Persyarikatan, dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Baca juga:

Meneguhkan Sinergi Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah

Menggagas GPS Tokoh Muhammadiyah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: